
Pagi itu Mawar memulai aktifitasnya di depan mesin jahitnya.
Sarapan dan rumah sudah ia bereskan sejak selesai melaksanakan shalat subuh.
Sekarang tinggal ia membuat lebih banyak lagi mukenah untuk dijual.
Mbak Lastri keluar dari kamarnya, mendekati sang anak dan memegang bahunya.
"Mawar ...??, kamu tumben gak jualan..??", ucap Mbak Lastri.
"Enggak buk, satu bulan ini Mawar rasa sudah cukup jualan kelilingnya, jika Mawar lebih jauh lagi berkeliling kasihan ibuk di rumah, Mawar juga akan pulang terlambat setiap harinya.
Penjualan pun tidak habis banyak jika di jual keliling buk", ucap Mawar membalikkan badan menghadap ke ibunya.
"Lalu..??, kamu mau gimana lagi nak.??", ucap mbak Lastri penasaran dengan rencana anaknya kedepannya.
"Kemarin pulang jualan Mawar beli ini buk..??", ucap Mawar menunjukkan sebuah ponsel canggih miliknya.
"Ponsel..??", tanya mbak Lastri.
"Iya buk, Mawar bakal posting gambar mukenah Mawar di sosial media, Mawar sudah belajar mulai tadi malam, Mawar juga mencoba menghubungi pelanggan pelanggan kita selama berjualan di pesantren dulu buk", ucap Mawar menjelaskan.
"Ibuk gak ngerti nak, lalu gimana reaksi pelanggan pelanggan kamu yang dulu ketika di hubungi..??", ucap Mbak Lastri.
"Mereka tertarik buk, apalagi melihat gambar model model mukenah terbaru Mawar, jika mereka mau pesan, Mawar tinggal kirim lewat ekspedisi", ucap Mawar mengutarakan idenya.
"Hebat sekali nak..!!, jamannya ibuk gak ada tuh kayak gitu", ucap Mbak Lastri terkagum kagum dengan teknologi sekarang.
Mawar pun mulai aktif di mesin jahitnya, di bantu ibunya yang memotong kain bahan baku mukenah, mereka bekerja sama dengan sangat baik.
"Nak, dulu waktu ibuk masih muda, ibuk pingin banget punya mukenah memakai bunga dari sulaman, kamu mau gak buatin buat ibuk..??, nanti ibuk yang sulam gambar bunganya", ucap mbak Lastri.
"Ya mau dong buk, apa yang gak buat ibuk", ucap Mawar dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Makasih ya nak, ibuk akan langsung menyulam", ucap mbak Lastri bangkit dari tempat duduknya, mengambil alat sulam yang ia temukan di kamar kontrakan mereka.
"Ibu dapet alatnya dari mana..??", tanya Mawar, karna ia tak pernah melihat ibunya memeliki alat sulam.
__ADS_1
"Ibu nemuin di laci kamar , mungkin punya pemilik rumah kontrakan yang lama", ucap mbak Lastri memulai sulamannya.
Mawar pun tersenyum melihat ibunya terlihat sangat bersemangat.
Tokk..tokkk..
"Assalammualaikum..", seru seorang wanita dari teras rumah.
"Walaikumsalam, buk, siapa ya..??", ucap Mawar bangkit dari tempat duduknya.
"Mbak ini benar rumahnya mbak Mawar...??", ucap wanita itu.
"Iyaa buk, benar, mari silahkan masuk", ucap Mawar menpersilahkannya masuk.
Mbak Lastri pun berdiri dan mendekati Mawar.
"Siapa nak..??", tanya mbak Lastri.
"Mawar juga gak tau buk", ucap Mawar.
"Mari silahkan duduk buk", ucap mbak Lastri.
"Maaf, ibuk ini siapa ya..??", tanya Mawar penasaran, karna Mawar disini juga warga baru dan masih mengenal Azizah dan ibunya saja.
"Oh ya, perkenalkan saya Bu Ida, saya berasal dari Yogyakarta, ucap wanita itu memperkenalkan dirinya.
"Lalu, ada perlu apa ya ibuk mencari saya..??", ucap Mawar penasaran.
"Begini nak, 2 minggu yang lalu saya datang dari Yogyakarta untuk berlibur dan sempat melintas kemari, dan sempat singgah di Masjid tepi jalan raya di sebrang sana", ucap bu Ida.
"Lalu buk..??", ucap Mawar masih kebingungan.
"Saya sholat dan memakai sebuah mukenah, cantikk sekali, unik, saya pun ingin sekali membelinya, jadi saya tanya ke pengurus masjidnya, nah ia hanya memberi informasi bahwa gadis yang memberi mukenah itu ke masjid namanya Mawar", ucap Bu Ida menjelaskan.
Mawar dan ibunya saling pandang.
"Saya sempat mencari rumah nak Mawar, tapi tidak ketemu, akhirnya baru sekarang dapat informasi rumah nak Mawar, saya pun langsung kemari, saya ingin melihat lihat model mukenah nak Mawar, bisa...??", ucapnya mengutarakan niat kedatangannya.
__ADS_1
Senyum Mawar dan ibunya pun mengembang.
"Alhamdulillah buk, mari mari, saya punya beberapa model mukenah di sini, ibuk bisa pilih", ucap Mawar menunjukkan semua mukenah buatannya.
Bu Ida pun memilih mukenah dengan sangat antusias, ia seperti sangat puas dengan hasil jahitan dan motif, serta bahan kain yang di pakai untuk membuat mukenah buatan Mawar.
"Wah, saya jadi bingung kalau begini", seru bu Ida.
"Jadi gimana buk..??", ucap Mawar meminta pendapat dari bu Ida.
"Semua mukenah yang kamu buat memiliki daya tarik sendiri sendiri nak, ciri khasnya berbeda dengan produk dari tempat lain.
Ibu coba 10 pcs dulu ya, nanti ibu kabari lagi kalau ibuk butuh pasokan mukenah lagi, ini kartu nama ibuk, jangan lupa disimpan ya", ucap Bu Ida memuji mukenah Mawar.
"Baiklah buk, terima kasih telah memilih mukenah buatan Mawar", ucap Mawar tersenyum bahagia.
"Nanti uangnya saya transfer ya, kamu kirim aja nomer rekeningnya di nomer ibuk, ibuk permisi dulu ya, assalammualaikum, mari", ucap bu Ida berlalu pergi membawa satu tas penuh mukenah buatan Mawar.
"Walaikumsalam", ucap Mawar dan segera mendekat ke arah ibunya dan memeluknya.
"Alhamdulillah buk", ucap Mawar dalam pelukan ibunya.
"Alhamdulillah, semoga awal yang baik untuk usaha kamu ya", ucap Mbak Lastri mengelus jilbab Mawar.
"Amin buk, amin", ucap Mawar dengan penuh rasa syukur atas nikmat Allah.
Semenjak itu, usaha Mawar semakin maju dengan pesatnya.
Promosinya di sosial media berhasil, setiap harinya ia selalu di banjiri orderan.
Sehingga ia mulai menambah mesin jahit dan mempekerjakan beberapa orang pegawai.
Pelanggannya yang dahulu semasa Mawar masih di pesantren pun, mulai merespon kerja sama yang ditawarkan Mawar melalui pesan singkat yang dikirimkan Mawar pada mereka dan promosi Mawar di sosial media.
Setiap harinya mereka sekarang mulai mengirimkan rekapan pesanan mereka pada Mawar untuk di jual kembali.
Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil, meskipun jatuh bangun itu sudah biasa di dunia usaha.
__ADS_1
Mawar pun sudah melalui jatuh bangun di karir dan hidupnya.
Sekarang tinggal ia lebih berusaha lagi memajukan usahanya dan menikmati hasil dari kerja kerasnya.