
"Ayo turun!," seru Aqly bergegas menarik tangan Fatimah keluar dari mobil secara kasar nya.
Mata Fatimah seketika berkeliling menatap rumah besar yang memiliki halaman luas tepat hadapan nya.
Fatimah hanya diam dengan banyak pertanyaan dalam benak nya.
Percuma ia bertanya pada Aqly, itu akan membuat Aqly semakin jengkel pada nya.
Yang pasti adalah, rumah besar itu merupakan rumah milik Bos besar yang beberapa kali disebutkan oleh Aqly.
Kenapa Bos Aqly ingin bertemu dengan ku?, batin Fatimah, sebuah pertanyaan paling besar dalam hati Fatimah saat itu.
Ia berjalan tanpa perlawanan mengikuti langkah kaki Aqly membawa nya.
Beberapa pasang mata dari lelaki berseragam hitam, berdiri tegap tepat di pintu masuk membuat wajah Fatimah semakin menunduk.
"Kak!, gimana bisa lihat depan kalau pandangan mu selalu ke bawah!," ketus Aqly.
Namun Fatimah hanya terdiam mendengar keluhan keluhan Aqly, ia mulai merasa takut karna para lelaki berseragam hitam itu terus memandang serius ke arah nya.
"Aqly, dapat dari mana wanita macam dia?," seru salah satu body guard Bos besar.
"Ada lah pokok nya," sahut Aqly singkat.
"Serasa ingat Mira pertama kali datang ke rumah ini," seru body guard yang lain membuat langkah kaki Aqly langsung terhenti.
"Mira yang tinggal di rumah ini?," tanya Aqly mulai merasa tertarik dengan sosok Mira yang ia sempat temui beberapa hari yang lalu.
"Ya!, dia datang ke sini aku lah yang membawa nya, ya mirip kamu lah!, demi uang, apa lagi!," seru body guard itu membuat Fatimah tercengang.
Apa maksud mereka demi uang?, Aqly tak mungkin membawa ku ke sini demi uang bukan?, batin Fatimah terus mencoba menerka nerka apa yang sebenar nya terjadi.
"Hus!, bisa diam tidak!, di mana Bos besar?," seru Aqly.
"Bos ada di dalam," sahut seorang body guard.
"Eits!," seru seorang body guard lain menghentikan langkah kaki Aqly.
"Apa lagi sih!," keluh Aqly kesal.
"Di dalam sudah banyak tamu datang," seru si body guard.
"Kami sarankan kamu kendalikan sikap nya, jangan buat bos malu di depan para tamu nya malam ini," bisik body guard yang lain.
"Tenang!, dia urusan ku!," sahut Aqly bergegas masuk ke dalam rumah besar sembari menarik tangan Fatimah kembali.
Allah bersama ku, batin Fatimah mencoba menenangkan batin nya sendiri dari prasangka prasangka buruk nya sendiri.
Saat pintu masuk di buka.
__ADS_1
Mata Fatimah seketika terbelalak sempurna.
Badan nya mulai gemetar.
"Astagfirullah," ucap Fatimah kembali menundukkan pandangan nya.
Ia begitu malu saat melihat para wanita yang berpakaian tak selayak nya seorang muslim.
Bahkan aurat mereka nampak terlihat begitu jelas nya.
Sementara tangan nya masih di tarik terus menerus oleh Aqly menyusuri lantai rumah besar hingga pintu masuk sudah tak nampak lagi di pandangan Fatimah.
"T, te, tempat apa ini Aqly?," tanya Fatimah mulai merasa gelisah saat diri nya terus saja di paksa masuk ke rumah besar.
"Sudah diam!," sentak Aqly.
"Tapi aku perlu tahu Aqly!," sentak Fatimah merasa terancam saat diri nya masuk ke sebuah rumah yang banyak sekali wanita berpakaian seksi di dalam nya.
Seruan Fatimah seketika membuat Aqly kembali kesal.
"Bisa tidak!, kamu diam sampai aku selesai dengan urusan ku," seru Aqly mencoba meredam emosi nya, ia tak mau ada keributan yang membuat marah Bos besar akhibat ulah nya.
"Tapi aku mau pulang," ucap Fatimah mencoba melepaskan lilitan tangan Aqly di pergelangan tangan nya.
"Pulang?, apa kamu berubah pikiran dan melupakan semua perkataan ku?, aku tak main main kak!, walaupun dia bunda ku sekalipun," seru Aqly membuat Fatimah mengurungkan niat nya dan membiarkan Aqly menarik tangan nya kembali.
Beberapa saat kemudian.
Aqly membawa masuk Fatimah ke dalam sebuah ruangan.
Ia semakin terkejut saat melihat seorang lelaki memakai jas, duduk dan di kelilingi oleh para wanita dan di jaga oleh banyak body guard.
Saat Fatimah ingin berlari, Aqly seketika menghadang jalan nya dan mengunci pintu keluar.
"Aqly!," seru Bos besar sembari beranjak dari duduk nya dan langsung memeluk Aqly.
"Kerja bagus!," bisik Bos besar membuat Aqly merasa senang telah berhasil melaksanakan perintah spesial dari Bos besar.
Dengan tubuh yang semakin gemetar ketakutan.
Fatimah mencoba menghindar sejauh mungkin dari sosok sang bos besar.
"Eits!, mau kemana?," seru seorang wanita menghadang langkah mundur Fatimah.
Perlahan, Bos besar mulai mendekati Fatimah dengan senyum nya yang menawan namun terlihat menakutkan serta mengancam di mata Fatimah.
"Tolong, jaga batasan mu!," ucap Fatimah seketika membuat langkah kaki Bos besar terhenti.
Membuat para wanita dan Aqly merasa takut jika ucapan Fatimah akan memancing amarah Bos besar.
__ADS_1
Namun tiba tiba, suara tawa Bos besar menggema di ruang itu.
Membuat para wanita dan Aqly pun seketika bernafas lega.
"Kamu mengingatkan ku pada wanita yang datang kemari beberapa tahun silam," seru Bos besar mencoba memegang tangan Fatimah.
Namun tangan Bos besar langsung ditepis oleh Fatimah secepat yang Fatimah bisa.
"Sombong sekali wanita ini!," ketus seorang wanita sembari terus menikmati rokok yang ada di tangan nya.
"Benar!, dan mungkin aku harus ingatkan pada mu Reya, kamu pertama kali datang kesini pun tak kalah sombong nya dengan dia," seru Bos besar membuat Reya tersenyum kecil mengingat masa lalu.
"Itu kan dulu Bos, sekarang aku Reya yang lain," sahut Reya.
Ucapan Reya sontak mengundang tawa semua yang ada di sana kecuali Fatimah dan Aqly yang tak mengerti akar pembicaraan Reya dan Bos besar.
Lalu pandangan Bos besar kembali mengarah pada Fatimah.
"Tidak sopan jika kita bertemu tanpa mengenal satu sama lain. Perkenalkan aku pemilik rumah besar ini, panggil aku Bos besar!," seru Bos besar mencoba tak membuat takut Fatimah.
"Tepat nya, pemilik rumah bordil ini!," seru Reya membuat Fatimah langsung kehilangan kekuatan kaki nya untuk berdiri tegap.
Ia langsung memandang Aqly dengan mata yang sudah berair.
Ia tak percaya dengan apa yang saat itu ia dengar.
Bahkan tak pernah terpikirkan oleh Fatimah bahwa dalam masa kehidupan nya ia akan masuk ke rumah paling hina menurut nya.
"Mulut mu begitu keterlaluan Reya!, ucapan mu membuat tamu kita menangis dan ketakutan, kita kan bisa memperkenalkan identitas rumah ini secara perlahan pada nya," seru Bos besar sembari tersenyum dengan licik nya.
"Aku harus pergi!," seru Fatimah mencoba berlari menuju pintu keluar.
"Sekarang ini rumah mu kak!, jangan coba coba!," sentak Aqly masih terus menghadang pintu keluar.
"Keterlaluan kamu dik!, jika memang kamu tak bisa menganggap ku kakak mu, setidak nya kamu hargai aku sebagai wanita dan hargai juga agama ku," keluh Fatimah membuat Aqly langsung memalingkan muka dari nya.
"Sudahlah!, jangan berdebat Fatimah, terima saja kalau ini sekarang adalah rumah mu!," seru Bos besar membuat Fatimah kembali terkejut.
Bagaimana dia mengetahui nama ku?, batin Fatimah semakin merasa takut untuk menatap Bos besar.
"Aku tak terima dengan semua ini!, aku akan laporkan kalian ke polisi!, seru Fatimah membuat Bos besar kembali tertawa.
"Silahkan kamu berusaha sekeras yang kamu bisa," seru Bos besar terus tertawa mendengar ucapan polos Fatimah.
"Kalian!, bawa dia ke kamar nya!," perintah Bos besar pada para body guard nya.
"Jangan sentuh aku!," teriak Fatimah saat tangan tangan kekar itu mencoba membawa diri nya masuk ke sebuah ruangan lain dari rumah itu.
"Aqly!, dik!, tolong lepaskan aku!," seru Fatimah sembari menangis dan berusaha mendobrak pintu kamar yang telah di kunci ganda dari luar.
__ADS_1