Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Rahasia yang tetap menjadi rahasia


__ADS_3

Setelah kejadian penghinaan Mawar di dalam rumahnya.


Dokter Malik tak seceria biasanya.


Ia yang selalu menjadi sumber kebahagiaan ibunya, kini semakin hari semakin pendiam saja.


Bu Maryam tak kuasa melihat anaknya bersedih berlarut larut seperti itu.


"Aku akan lebih berani untuk Malik", ucapnya bergegas masuk ke kamar mencari suaminya.


Terlihat suaminya sedang sibuk dengan labtop di depannya.


Bu Maryam berdiri di samping tempat tidur.


Ada rasa was was dan takut dalam hatinya.


Tapi ia memberanikan dirinya sebagai seorang ibu yang memperjuangkan kebahagiaan anaknya.


"Pi aku mau ngomong sesuatu", ucap bu Maryam.


"Ngomong aja kok repot..!!", ketus Bram masih sibuk dengan labtopnya.


"Papi harus menyetujui hubungan Malik dan Mawar, kasian Malik, ia murung sejak kejadian itu", ucap bu Maryam.


Bram pun menghentikan aktifitas tangannya di atas labtop.


Ia melepas kaca mata bacanya.


Ia memandang ke arah bu Maryam.


"Apa kamu tuli...!!, sudah ku bilang, aku punya kriteria sendiri untuk calon menantuku..!!", seru Bram bangkit dari duduknya.


Bu Maryam agak ketakutan, tetapi ia harus berani demi kebahagiaan Malik.


"Aku mohon, untuk kali ini saja", ucap bu Maryam masih berusaha meyakinkan suaminya.


Bram pun marah dan mendorong bu Maryam ke lantai hingga terjatuh.


Bram kemudian menarik jilbab bu Maryam sampai ia merintih kesakitan.


"Aku tidak akan pernah setuju, mengerti..!!", seru Bram di telinga istrinya.


Bram pun bangkit dan kemudian ingin meninggalkan bu Maryam yang menangis di lantai.


Tapi langkahnya terhenti.


Bu Maryam menghentikan tangisnya, ia mencoba tegar kembali, ia usap air mata di pipinya.

__ADS_1


Ia kemudian menutup pintu kamar dan menghadang jalan suaminya agar tidak keluar dari kamar itu.


Pembicaraan itu masih belum selesai.


"Tunggu pi..!!, aku selalu menurut dengan semua perkataanmu, aku bahkan menjadi istri yang baik untukmu selama 22 tahun ini, meskipun kamu hanya menghargaiku ketika kita sedang berada di depan relasi bisnismu dan di depan keluargaku, tapi kali ini aku tak tinggal diam, demi kebahagiaan Malik, suamiku pun aku tentang kali ini", seru bu Maryam dengan mata berkaca kaca.


Bram kemudian tertawa.


"Memang bisa apa kamu...??, kamu hanya bonekaku..!!", teriak Bram meremas kedua lengan istrinya.


"Jangan remehkan kekuatan seorang ibu Pi", ucap bu Maryam tegas dan menepis tangan suaminya.


Bram pun bertepuk tangan.


"Wow, hebat...!!, hebat..!!!, memang apa yang akan kamu lakukan hahhh..!!, seru Bram menggebrak laci kamarnya.


"Jika kamu tak memberi restu pada Malik dan Mawar, aku akan bongkar rahasia mu pi", ucap bu Maryam menantang Suaminya.


Bram pun terdiam dan menatap istrinya.


"Apa maksud perkataanmu...??", ucap Bram memperjelas ucapan istrinya.


"Aku sudah bilang, aku akan bongkar rahasiamu, jika kamu tak merestui Malik dan Mawar", ucap bun Maryam lebih tegas.


Bram pun kebingungan dan sedikit merasa takut dengan ancaman istrinya.


"Ya aku ingat, aku tidak pernah lupa akan hal itu, tapi sekarang aku seorang ibu, kebahagiaan Malik yang utama bagiku", seru bu Maryam menggertak suaminya.


Bram pun seakan menahan emosinya.


Ia pun mendorong bu Maryam menjauh dari pintu kamar.


"Persetan denganmu..!!", seru Bram keluar dari kamar dan meninggalkan istrinya.


Bu Maryam yang lagi lagi tersungkur ke lantai hanya bisa menangis dan mengelus dadanya.


"Sabar Maryam, sabar..., ini demi Malik", ucapnya sambil terisak isak meratapi nasibnya kini.


"Jika bukan karna permintaan papa dulu, aku tak kan mau menikah dengan mas Bram yang arogan dan berperilaku buruk, bahkan dengan istrinya sekalipun", ucap Bu Maryam mencoba bangun dan mencuci mukanya.


Ia tak mau Malik pulang dan melihat bekas tangisannya itu.


Cukup dirinya saja yang memendam semua ini, jangan sampai Malik mengetahui jika beginilah perilaku papinya kepada maminya di belakang dirinya.


____


Malam itu Bram sedang bersantai di ruang keluarga, ia terlihat sedang menikmati acara tv malam kesukaannya.

__ADS_1


Sedangkan bu Maryam sedang sibuk menyiapkan makan malam untuk keluarga.


Terdengar suara mobil dokter Malik menepi dan berhenti di halaman depan rumah.


Ia masuk tanpa bertegur sapa melewati papinya.


Bram yang memandang ke arah dokter Malik segera memanggilnya.


"Hey nak, sini...!!", ucap Bram memanggil putranya.


Bu Maryam yang melihat suaminya memanggil anaknya agak merasa khawatir.


Apalagi yang ia mau, gumam bu Maryam dalam hati.


Dokter Malik kemudian melangkahkan kakinya mendekati papinya tanpa berbicara sepatah katapun.


"Heyyy, sini duduk samping papi", ucap Bram berusaha mendekati anaknya.


"Papi mau apa lagi..??", ucap Dokter Malik duduk di sebelah papinya.


"Papi mau minta maaf atas sikap papi yang kemarin, okeyyyy", ucap Bram membujuk anaknya agar berhenti merajuk.


"Iyaaa pi", ucap dokter Malik, tapi dalam hati ia masih kecewa dengan papinya.


"Sebenarnya papi itu memiliki pilihan sendiri untuk menjadi calon istrimu, tapi..., jika kau memilih Mawar, papi bisa apa", ucap Bram.


"Maksudnya pi", ucap dokter Malik masih tak mengerti arti ucapan papinya.


"Besok kita ke tempat Mawar, papi akan lamar dia untukmu", ucap Bram meyakinkan.


Dokter Malik terkejut bercampur bahagia mendengar ucapan papinya.


"Beneran pi..??, makasih ya pi...", ucap dokter Malik memeluk papinya itu.


Bram berusaha tersenyum di depan anaknya.


Karna sebenarnya dalam hatinya, ia tak sudi Menerima Mawar menjadi calon istri Malik.


Ini hanya agar istrinya tak membuka rahasianya selama ini.


Bu Maryam yang sedari tadi mendengar percakapan suami dan anaknya, menangis terharu dalam diam.


"Alhamdulillah ya Allah", ucapnya lirih dalam doa.


Suasana makan malam di rumah dokter Malik pun kembali seakrab seperti biasanya.


Dokter Malik bahagia akan keputusan papinya itu.

__ADS_1


Tapi ia tak menyadari sandiwara akan kebahagiaan rumah tangga antara papi dan maminya selama ini.


__ADS_2