Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Penawaran Aqly.


__ADS_3

Sudah sejak pagi, Aqly sudah mengintai rumah sang kakek.


Ia berencana melancarkan aksi nya hari itu.


"Aku harus hati hati, jangan sampai kakek tahu", ucap Aqly menyusun rencana nya dengan serapi mungkin.


Ia merancang menghilang nya Fatimah terlihat seakan kemauan Fatimah sendiri.


Agar nama Fatimah nampak buruk di mata orang orang di sekelilingnya.


Tak berselang lama.


Mobil kakek Bram nampak telah keluar dari gerbang rumah nya.


Bersamaan dengan itu, Aqly segera bergegas melancarkan aksi nya.


"Waktu adalah uang", seru Aqly bergegas memasuki rumah sang kakek tanpa menunggu nanti.


Mendengar pintu di buka kembali.


Fatimah mengira sang kakek kembali karna melupakan sesuatu.


"Kek, apa lagi barang yang ketinggalan hari ini ?", seru Fatimah bergegas menuju ruang tamu.


Fatimah begitu terkejut saat melihat Aqly sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Aqly ?", sapa Fatimah tersenyum bahagia, ia mengira bahwa Aqly telah berubah fikiran dan ingin memperbaiki hubungan mereka selayak nya adik kakak.


"Jangan senang dulu kak !", seru Aqly membuat senyum Fatimah meredup.


"Jika kamu mencari kakek, dia sedang keluar sebentar, kamu bisa menunggu nya jika kamu mau", ucap Fatimah.


"Aku mau menunggu ataupun tidak, bukan urusan mu !, aku tak butuh izin mu untuk berada di rumah kakek ku sendiri", sahut Aqly meletakkan kedua kaki nya di atas meja.


Karna takut pembicaraan mereka menyulut kemarahan Aqly, Fatimah memilih kembali ke kamar nya.


"Tunggu !", seru Aqly membuat langkah kaki Fatimah terhenti.


"Apa kamu butuh sesuatu ?", seru Fatimah masih bersikap baik walaupun Aqly tak pernah bersikap baik pada nya.


"Aku cuma mau bertanya", seru Aqly berjalan mendekati Fatimah.


"Silahkan", sahut Fatimah.


"Apa kamu sangat menyayangi bunda ?", tanya Aqly mendekatkan wajah nya ke arah Fatimah.


"Tentu !, bunda adalah prioritas ku di dunia ini", sahut Fatimah seketika.


"Lalu, apa kamu bersedia melakukan apapun untuk bunda ?", tanya Aqly kembali.

__ADS_1


"Apapun itu selama tak menjurus ke perbuatan musyrik", sahut Fatimah masih nampak tenang.


"Beruntung sekali bunda memungut anak seperti mu, iya kan ?", seru Aqly membuat Fatimah sulit menebak, kemana sebenarnya arah pembicaraan mereka saat itu.


"Apa yang sebenar nya yang kamu inginkan dik ?", tanya Fatimah mulai curiga dengan niat Aqly datang menemui nya.


"Jujur !, aku kesini berniat menculik mu tadi", seru Aqly membuat Fatimah terkejut.


Membuat Fatimah perlahan menjaga jarak dari Aqly.


Melihat Fatimah yang mulai merasa takut, Aqly pun tertawa.


"Itu tadi kak, sekarang niat itu sudah hilang", seru Aqly terus tertawa terpingkal pingkal di hadapan Fatimah.


"Jangan berbelit belit dik", sahut Fatimah mencoba meraih telfon rumah yang tak jauh dari tempat nya berdiri saat itu.


"Eits !", seru Aqly bergegas mengambil telfon rumah dan memutus kabel penghubung nya.


Tingkah Aqly membuat Fatimah semakin ketakutan.


Ia terus menghindar saat Aqly mulai mendekati nya.


"Dik, aku mohon, aku sudah relakan berpisah dengan bunda demi kamu, apa yang kini kau inginkan lagi dari ku ?", seru Fatimah dengan mata yang mulai basah.


"Apa ?, aku tak paham dengan celoteh mu itu !, seolah olah kamu yang berkorban di sini !", sentak Aqly sembari menggebrak meja.


"Kalau kamu meninggalkan bunda, itu memang semestinya, bukan karna berkorban untuk siapapun, paham !", seru Aqly kembali merebahkan diri nya di sofa.


"Gak usah takut kak, aku kesini cuma mau beri penawaran pada mu", seru Aqly kembali duduk dan menatap tajam ke arah Fatimah.


"Penawaran ?", seru Fatimah bingung.


"Aku tak suka kamu berada di rumah kakek", seru Aqly membuat air mata Fatimah menetes.


"Apa kamu berniat mengusir ku jauh dari keluarga kita ?", tanya Fatimah sesenggukan.


"Uwhhh !, cup, cup, kakak masih bisa melihat ku, adik mu tersayang ini kok, tenang saja !", seru Aqly.


"Aku tak mengerti semua ini dik", sahut Fatimah.


"Aku mau kamu ikut bersama ku, ketempat ku yang baru", seru Aqly membuat Fatimah terkejut dan keheranan.


"Tapi, bukan nya kamu tak menyukai ku dik ?", tanya Fatimah masih tak mengerti dengan apa yang Aqly mau dari nya.


"Yap !, tapi bos ku menginginkan mu !", seru Aqly membuat Fatimah syok.


"A, apa yang kamu bicarakan ?", tanya Fatimah semakin ketakutan saja.


"Penawaran dari ku adalah, kamu mau ikut dengan ku atau bunda lah yang akan aku jadikan sasaran kemarahan ku nanti", seru Aqly dengan wajah yang nampak serius.

__ADS_1


"Jangan bunda Aqly !", sahut Fatimah memohon.


"Itu tergantung pada mu, kamu mau ikut aku atau kamu mau lihat bunda semakin sakit !", teriak Aqly membuat Fatimah meringkuk dan menangis sembari menutupi kedua telinga nya.


"Aku tunggu kamu di mobil, jangan sampai kakek Bram lebih dulu pulang ke rumah, keputusan ada di tangan mu", seru Aqly berjalan keluar dari rumah itu.


Isak tangis Fatimah menggema di ruangan itu.


Hati nya nampak bergejolak.


Ada rasa takut yang besar dalam hati


nya saat Aqly ingin membawa nya ke hadapan bos baru nya.


Namun rasa takut nya yang terbesar adalah kesehatan sang bunda.


Bagaimana kalau Aqly nekat pada bunda ?, aku tak mungkin mempertaruhkan kesehatan bunda ku sendiri, batin Fatimah.


--------


Aqly nampak gelisah di dalam mobil nya.


Berulang ulang kali ia menatap jam tangan


nya.


"Ahh !, sudah setengah jam aku di sini, tapi dia belum menghampiri ku, ku kira akan mudah jika menggertak nya dengan nama bunda", ketus Aqly berulang ulang kali meluapkan kekesalan nya pada stir mobil.


Saat ia sudah bosan menunggu dan ingin menancap pedal gas mobil nya.


Tiba tiba Fatimah membuka pintu belakang mobil dan segera duduk dengan tenang di kursi belakang.


"Aku bersedia ikut dengan mu", ucap Fatimah mencoba meredam rasa takut nya.


Mendengar itu, hati Aqly langsung kegirangan.


Akhir nya, impian ku jadi orang besar di tangan bos akan jadi kenyataan, batin Aqly.


"Bagus !, kamu membuat pilihan yang bagus", seru Aqly mulai melajukan mobil nya dengan perlahan.


Disepanjang perjalanan, Aqly berulang kali menatap Fatimah dari kaca kemudi nya.


Ia merasa heran, kenapa Bos besar sangat menginginkan Fatimah datang ke rumah nya.


Apa yang spesial dari nya ?, memang dia lumayan cantik sih, tapi bahkan bos belum pernah melihat wajah nya itu, batin Aqly penuh tanda tanya.


"Oh ya, berikan ponsel mu !, aku tak mau kamu menghubungi siapapun", seru Aqly merampas ponsel Fatimah dengan kasar nya.


Namun Fatimah nampak pasrah dengan semua perlakuan Aqly pada nya.

__ADS_1


Dia ini terlalu pintar, atau terlalu bodoh sih !, batin Aqly merasa heran namun juga merasa senang dengan sikap Fatimah yang terus menurut tanpa perlawanan sejak mereka keluar dari rumah kakek Bram.


Setidak nya tugas ku akan selesai lebih mudah dan cepat kali ini, batin Aqly.


__ADS_2