
"Sayang..., kamu yakin mau ke Amerika..??", ucap Dara tak rela jauh dari anaknya.
"Iya ma, cuma satu tahun kok, okey", ucap Rahel memeluk mamanya.
"Pa, Rahel berangkat ya", ucap Rahel memeluk papanya.
"Hati hati ya sayang, kalau kamu butuh apa apa telfon papa, papa bakal transfer setiap bulannya", ucap Yahya mencium kening anaknya.
"Makasih pa", ucap Rahel mengambil kopernya dan berjalan menuju pesawat yang akan membawanya ke Amerika.
"Paspor dan tiketnya mbak..??", ucap seorang pramugari di pintu keberangkatan.
Rahel segera menyerahkan Paspor dan tiket pesawatnya sembari mematikan ponselnya.
"Terima kasih, silahkan, pesawat akan segera take off", ucapnya mengantar Rahel menuju pesawatnya.
Rahel menaiki pesawat dan segera mencari kursinya.
Ia kemudian memandang ke arah keluar jendela, seakan mengucapkan selamat tinggal pada negaranya dan pada kehidupan mewahnya tuk sementara.
"Tunggu satu tahun lagi", ucap Rahel kemudian memejamkan matanya dan terlelap dalam tidur selama penerbangan.
Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat di bandara tujuannya.
Rahel menarik kopernya keluar dari arah bandara.
Tiba tiba seseorang memeluknya dari belakang.
"Ihh, siapa sih..!!, berani banget peluk peluk cewek", seru Rahel mencoba melepas pelukan orang itu.
"Rahelll..!!!!", seru wanita itu mencium pipi Rahel dari belakang.
Seketika raut wajah Rahel berubah menjadi senyuman.
Rahel kemudian membalikkan badannya dan memeluk kembali wanita itu.
__ADS_1
"Susan...!!!", seru Rahel mengenali wanita itu.
"Kamu makin cantik aja deh", ucap Susan.
"Ya iyaa donk, anak keluarga Yahya gitu", ucap Rahel mulai membanggakan statusnya lagi.
"Sifat kamu gak berubah ya, ya udah yuk, mobilku disana", ucap Susan menarik tangan Rahel.
Susan melajukan mobilnya menuju apartemen miliknya.
"Oh ya, aku gak nyangka lhoo, seorang Rahel minat dengan tawaranku", ucap Susan memulai percakapan.
"Emmm, gimana lagi ya, sebenarnya sih aku males banget, tapi ya udah ya", ucap Rahel melihat ke arah jalanan Amerika yang sudah lama ia tak kunjungi.
"Maksudnya gimana nih..??", ucap Susan penasaran.
"Kamu gak akan percaya kalau denger critaku", ucap Rahel bersandar di kursinya dan menyalakan musik.
"Crita dong, aku kan sahabat kamu, ya walaupun aku gak ikut ikutan gaya hidupmu yang gila itu", ucap Susan tertawa lepas.
"Bener kan Rahel Andrea Yahya..!!", ucap Susan kembali tertawa.
"Iyaa iyaa, kalau kamu bukan sahabat aku dah aku tarik rambutmu", ketus Rahel.
"Sekarang crita deh, tujuan kamu kesini tuh mau ngapain kalau gak minat sama tawaranku..??", ucap Susan.
"Aku Hamil", seru Rahel dengan santainya.
Seketika Susan menghentikan mobilnya di tepi jalan dan masih dengan wajahnya yang terlihat sangat terkejut.
"What...??, gila kamu Hel..!!", seru Susan tak mengira Rahel bisa sejauh itu.
"La emang iya", ucap Rahel tak ada rasa malu sama sekali.
"Anak siapa..??", ucap Susan penasaran.
__ADS_1
"Jeri, kamu kenal kan Jeri..??", ucap Rahel.
"What...??, astaga Rahel, dia itu kan buaya darat, trus aku pikir kamu cuma main main aja sama Jeri", seru Susan tak percaya.
"Ya siapa juga yang mau sama Jeri..!!, aku gak level kali sama dia", seru Rahel.
"Gak level kok sampek hamil anak dia sih Hel...??", seru Susan tak habis pikir dengan kenakalan dan pergaulan bebas sahabatnya itu.
"Ya gimana lagi, makanya aku kemari buat sembunyiin ini dari keluarga aku, aku gak mau ya nikah sama Jeri dan kehilangan semua kemewahan aku, lagian aku mau dijodohin sama Anaknya keluarga Bram Jayawijaya Corp", ucap Rahel bangga.
"Ya ampun, dokter Malik....??", seru Susan lebih terkejut lagi.
"Santai aja kali Susan..!!, aku kesini tuh butuh bantuan kamu", ucap Rahel menyandarkan badannya di tempat duduknya dengan lebih rileks lagi.
"Aku cuma gak habis pikir, separah itu ya pergaulan kamu ..??", ucap Susan menggeleng gelengkan kepalanya.
"Aku juga gak habis pikir ya, kok bisa aku punya sahabat yang gak ikut ikutan gaya hidup aku dan malah sukses di karirnya..?", ucap Rahel memandang ke arah Susan.
"Hmmm, tau ah..!!, trus rencana kamu gimana sekarang ...??", seru Susan meminta penjelasan yang sejelas jelasnya.
"Aku mau disini sampai melahirkan nanti, kamu urus kursus aku, atau cari orang lah buat dapetin sertifikat kursus itu atas namaku, jadi ada bukti yang bisa kutunjukin pada orang tuaku saat aku pulang nanti", ucap Rahel mengutarakan rencananya.
"Terserah kamu deh, tapi aku gak mau ikut campur ya masalah nasib anak itu, itu urusan kamu, terserah kamu mau tinggal di apartemenku sampai kapan pun aku fine fine aja, dan aku juga akan bantu sertifikat buat kamu, okey", ucap Susan mau gak mau harus menolong sahabatnya itu.
"Kamu emang the best", ucap Rahel mencium pipi Susan.
Susan pun mengemudikan mobilnya lagi menuju apartemen miliknya.
Ia sangat terkejut dengan pengakuan Rahel kali ini.
Meskipun Susan anak orang berada dan menjadi sahabat terbaik Rahel, tapi Susan masih memiliki etika pergaulan dan sangat keras mengejar karirnya sendiri.
Dia akan berpola pikir seperti Rahel saat dia di dekat Rahel dan Rahel sedang membutuhkannya sebagai sahabat.
Tapi ia tak pernah mau ikut campur dengan semua hal hal buruk yang Rahel lakukan setiap harinya, entah itu berganti ganti pasangan, atau ke club malam setiap harinya, ataupun hanya sekedar membuli orang yang ingin Rahel Bulli, Susan hanya sekedar mendengar curhatannya, atau menjadi temannya saat Rahel kesepian atau ingin sekedar melepas penat di kesibukannya berhura hura.
__ADS_1