Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Sebuah pertemuan 2.


__ADS_3

"A- apa maksud wanita tua itu kak?," tanya Aqly masih tak percaya dengan pendengar nya sendiri.


Sebenar nya apa yang terjadi dengan nya?, batin Bos besar kembali mencoba melirik pandang ke arah plakat kamar yang tertulis ruang isolasi penderita HIV.


"Ternyata ibu masih mengenali ku," ucap Fatimah tak kuasa menahan tangis nya.


"Bagaimana ibu bisa lupa dengan anak ibu sendiri, kemana saja kau nak?, kami begitu khawatir," seru Rahel tersedu sedu.


Percakapan di antara mereka semakin membuat Aqly dan Bos besar tercengang mendengar fakta itu.


Selama ini yang Aqly tahu hanyalah, Fatimah itu adalah anak haram.


Tapi ia tak pernah tahu sosok wanita yang menjadi ibu kandung Fatimah, dan bagaimana kehidupan nya.


Sementara Bos besar masih terlihat mencoba mencerna semua nya.


Ia mengingat saat diri nya dulu memarahi dan dengan tega meninggalkan Fatimah di area makam sang ibu, karna ia tak terima akan Fatimah yang tak mau mengerti kemalangan ia serta ibu nya, dan menganggap Fatimah secara lancang mencoba mengkritik akan sikap dan perilaku nya tanpa tahu rasa sakit yang ia pendam selama ini.


Namun hari ini, saat menatap sosok Rahel, ada rasa malu dalam diri Bos besar, ternyata bukan dia dan ibu nya saja orang yang tak beruntung di dunia ini.


Dia dan aku begitu berbeda, dia menyikapi semua dengan cara nya yang baik dan sempurna, tapi aku?, apa yang ku lakukan?, aku mencoba mengobati luka ku dengan menghancurkan hidup ku sendiri, batin Bos besar merasa semakin rendah di hadapan Fatimah.


Ia begitu menyesal karna membuang buang usia muda nya untuk bisnis kotor yang selama ini ia banggakan itu.


Setelah kerinduan antara ibu dan anak itu usai.


Tatapan Rahel seketika menatap ke arah Aqly serta Bos besar yang hanya bisa duduk di atas kursi roda nya.


Karna begitu bahagia nya, sejak Fatimah datang, ia tak menyadari ada dua sosok lelaki yang tengah datang bersama Fatimah.


"Dia?," tanya Rahel awal nya menatap wajah Aqly terus menerus.


Seakan wajah lelaki muda di hadapan nya itu pernah ia lihat dan kenal sebelum nya.


"Dia Aqly buk, adik ku, putra bunda Mawar," ucap Fatimah membuat mata Rahel berbinar.


"Pantas saja ibu seperti pernah melihat nya, dia begitu mirip dengan almarhum Burhan," seru Rahel membuat Aqly tersenyum kecil tanpa ia sendiri menyadari nya.


"Kau mengenal ayah ku juga?," tanya Aqly begitu ingin mendengar cerita tentang sang ayah lebih banyak lagi.


Karna ia tidak pernah ingat apapun tentang sosok sang ayah, ia bisa menggambarkan sosok sang ayah dalam pikiran nya hanya dari cerita cerita sang bunda sewaktu ia kecil dulu.

__ADS_1


"Aku cukup baik mengenal nya, walaupun aku tidak pernah akur dengan nya semasa ia hidup. Tapi yang ku tahu pasti, ia adalah lelaki yang sempurna di mata bunda mu bahkan di mata dunia," ucap Rahel mencoba mengingat masa lalu nya dan semua perilaku buruk nya kepada Mawar dan Burhan.


Mendengar itu, ada rasa bahagia yang terbesit di hati Aqly.


Sepintas Aqly membayangkan, begitu beruntung nya ia jika bisa mengenal dan menghabiskan banyak waktu nya dengan sosok ayah kandung nya itu.


"Ayah Burhan memang ayah terbaik di dunia buk," ucap Fatimah membuat Rahel semakin bernostalgia jauh ke belakang.


"Ya!, kau benar Fatimah, dia bahkan telah mampu merawat dan menampung banyak anak terlantar di rumah singgah nya bahkan sebelum kenal dengan bunda mu Mawar, apa yang lebih mulia dari semua itu?," ucap Rahel sembari menatap Aqly tanpa berpaling sedikitpun.


Hati nya begitu bahagia karna masih di beri kesempatan untuk melihat anak Burhan dan Mawar tumbuh dewasa dengan mata kepala nya sendiri.


"Kau tak akan bisa membayangkan kehidupan mulia ayah Burhan dahulu dik, di sepanjang hidup nya ia jalan kan tanpa menyimpang dari ajaran Allah," ucap Fatimah membuat senyum Aqly semakin memudar.


Ada rasa bergejolak dan malu mulai muncul di hati Aqly saat mendengar semua itu.


"Aku yakin sekali!, pasti putra nya ini tak jauh beda dengan ayah nya," ucap Rahel membuat senyum Aqly seketika menghilang seluruh nya.


Seakan ada tamparan keras yang mengarah pada nya saat itu.


"Insyaallah buk," ucap Fatimah begitu berharap Aqly bisa berubah dan mengikuti jejak ayah mereka.


Mendengar semua itu, Aqly hanya bisa tertunduk, seakan ada rasa aneh yang menyerang diri nya saat itu.


"Dia suami ku buk," ucap Fatimah membuat Rahel serta Bos besar tercengang cukup lama.


Aku tak menyangka dia mau mengakui ku, batin Bos besar tak terasa air mata nya menetes.


"T- tapi, bagaimana itu semua bisa terjadi?" ucap Rahel terbata bata.


Ia tak menyangka kepulangan Fatimah hari itu dengan membawa status baru.


"Ibu percaya pada ku kan?," ucap Fatimah singkat.


Melihat senyum di wajah Fatimah, Rahel seketika menepis semua tanda tanya di hati nya.


"Ibu percaya pada mu, semua keputusan mu pasti sudah kau pikirkan dengan matang," sahut Rahel membuat Bos besar lagi lagi takjub dengan sosok Fatimah yang bahkan bisa meyakinkan sang ibu tanpa sebuah penjelasan apapun juga atas tindakan dan keputusan yang telah ia ambil.


-----##----


"Maaf buk, jam kunjungan telah habis, mari saya antar keluar," ucap seorang suster memotong pembicaraan hangat antara Fatimah dan Rahel saat itu.

__ADS_1


"Masyaallah, ternyata sudah malam," ucap Fatimah tak menyadari nya.


"Sebaik nya kau pulang, dan jangan lupakan pesan ibu, kunjungilah bunda mu, ia begitu sedih karna kepergian mu selama ini," ucap Rahel meskipun hati nya berat untuk melepas putri nya pergi lagi dari sisi nya.


Fatimah hanya mengangguk sembari mengucap salam dan perlahan mereka mulai berjalan pergi dari sana.


Di sepanjang langkah nya, Fatimah masih mencoba menutupi perasaan takut saat nanti nya ia harus menghadapi sang bunda.


Ia begitu takut akan reaksi dari bunda nya jika tahu kehidupan nya dan status baru nya sekarang ini.


Di sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang tercipta di dalam mobil mereka.


Pikiran Aqly masih terus memikirkan tentang semua ucapan dari Rahel hari itu.


*Putra nya ini pasti tak jauh beda dengan ayah nya*


Kata itu terus berulang di otak Aqly sepanjang waktu seberapa keras pun Aqly mencoba melupakan nya.


"Astagfirullah!, awas dik!," seru Fatimah membuat lamunan Aqly ter buyar kan.


Dan dengan cepat, tangan nya segera memutar roda kemudi hingga mobil mereka sempat berputar di jalanan sepi itu.


"Kau tak apa dik?," tanya Fatimah saat mobil mereka telah kembali berhenti berputar.


Di saat genting seperti itu, Fatimah masih saja mengkhawatirkan orang lain dari pada nyawa nya sendiri.


"Sial!, apa wanita itu buta!," sentak Aqly langsung marah seperti biasa nya.


Langsung emosi akan suatu hal yang belum pasti.


Seketika Aqly dan Fatimah keluar dari mobil untuk mengecek apa yang sebenar nya terjadi.


"Tolong!, tolong aku mbak!, mas!," seru seorang wanita begitu histeris saat melihat kemunculan Fatimah dan Aqly.


"Astagfirullah!, mbak kenapa?," tanya Fatimah langsung mendekap wanita itu untuk tenang.


Rambut dan wajah nya yang acak acak kan membuat wajah nya sulit di kenali.


Sementara Aqly masih tertegun dengan apa yang terjadi.


Bahkan Aqly terus memandangi pakaian seksi yang tengah di kenakan wanita di hadapan nya itu.

__ADS_1


Dari pakaian nya, dia seperti gadis rumah bordil, tapi kenapa dia begitu histeris seperti itu?, batin Aqly hanya memandang aneh saat Fatimah masih terus mencoba menenangkan wanita misterius itu.


__ADS_2