Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Ibu ?, apa kau mengingat ku ?.


__ADS_3

Fatimah terus menatap ke ruang isolasi di hadapan nya.


Nampak seorang wanita sedang bernyanyi bersama anak anak di dalam sana.


"Itu lah ibu mu", ucap bu Ratih mengelus jilbab Fatimah.


Ingin sekali Fatimah masuk ke dalam ruangan itu.


Tapi pintu ber tralis besi itu menghalangi langkah nya.


"Assalammualaikum", seru Fatimah dengan mata berbinar.


"Walaikumsalam", seru wanita itu yang tak lain ialah Rahel.


Ia segera beranjak dari tempat duduk nya dan berjalan mendekati dua wanita yang berdiri di luar pintu ruang isolasi.


"Cari siapa ya ?", tanya Rahel saat ia telah sampai di depan pintu ruangan itu.


Di saat itu, Fatimah hanya bisa terdiam menatap sang ibu kandung yang tak pernah ia lihat sebelum nya.


Ada rasa kecewa dalam diri nya saat melihat sang ibu.


Ada rasa marah dan ada rasa kerinduan yang ber kecambuk di diri Fatimah saat itu.


Air mata Fatimah tak bisa lagi di bendung saat diri nya melihat sebuah boneka masa kecil nya berada di tangan sang ibu.


Boneka yang ia tinggalkan di pangkuan seorang wanita 15 tahun silam.


Ingatan masa kecil nya pun terbesit samar dalam pikiran nya.


Saat bunda nya memutuskan untuk pergi dari Indonesia, saat itulah boneka itu pun tak lagi ada di genggaman nya.


Apakah wanita yang dulu pernah aku kunjungi adalah dia ?, gumam Fatimah dalam hati.


"Apa kamu masih mengenal ku nak ?", tanya bu Ratih menatap binar Rahel di depan nya.


Sesaat, Rahel terdiam sembari mengamati wanita paruh baya di hadapan nya.


Tiba tiba Rahel tercengang dan mulai menangis.


"Ibu pernah datang mengunjungi ku bersama Mawar bukan ?", seru Rahel mengingat kedatangan wanita itu bersama Mawar sebelum Mawar memiliki niat pergi dari indonesia.


"Syukurlah kamu mengingat ku", ucap bu Ratih menyeka air mata nya.


"Bu, gimana kabar Mawar ?, bagaimana kabar putri ku ?", seru Rahel sangat menanti kabar dari Mawar dan putri nya yang sudah tak ia lihat 15 tahun yang lalu.

__ADS_1


Fatimah langsung menangis dalam diam saat mendengar sang ibu menanyakan kabar nya.


"Aku sangat merindukan nya bu, apakah dia tau kalau aku sangat menyesal dengan yang terjadi di masa lalu ?, apakah dia akan memaafkan aku ?", seru Rahel mulai menangis sembari terduduk di lantai.


Bu Ratih langsung menatap ke arah Fatimah yang mencoba menahan tangis nya, dan menginsyaratkan kepada Fatimah agar mencoba berbicara dengan sang ibu.


Dengan tangan gemetar, Fatimah mulai duduk di lantai dan mendekap tangan sang ibu dari sela pintu.


"Bu, apa kau mengingat ku ?", tanya Fatimah tak kuasa lagi membendung air mata nya.


Rahel menatap lekat lekat gadis cantik di hadapan nya, dekapan tangan Fatimah membuat Rahel merasakan kedamaian yang belum pernah ia rasakan sebelum nya.


"Si, siapa kamu ?", tanya Rahel mengusap air mata nya.


"Aku adalah anak yang beruntung bu, aku memiliki dua ibu dan dikelilingi orang orang yang menyayangi ku", ucap Fatimah dengan tersedu sedu.


Rahel masih terdiam mendengarkan ucapan gadis di hadapan nya, yang belum ia sadari siapa sebenar nya gadis yang sekarang sedang menatap nya itu.


"Aku sempat di buang oleh ibu kandung ku saat bayi, tapi aku yakin dia masih sayang pada anak nya ini", ucap Fatimah semakin erat menggenggam tangan sang ibu.


Rahel yang mulai mengerti ucapan Fatimah.


Seketika itu juga langsung nampak syok dan menangis dengan histeris.


"Anak ku ?", seru Rahel berusaha mengusap wajah Fatimah yang mulai ia kenali.


"Cantik sekali kamu sayang, persis seperti bunda mu Mawar, berjilbab seperti bidadari surga, pasti dia mendidik mu dengan sangat baik", seru Rahel dengan raut wajah amat bahagia.


"Aku juga tidak akan ada di dunia ini tanpa ada nya ibu, jadi jangan terus salahkan diri ibu atas apa yang terjadi di masa lalu", ucap Fatimah mengusap air mata di pipi Rahel.


"Ibu macam apa yang meninggalkan anak nya yang masih bayi Fatimah !, aku tak pantas kau panggil ibu", seru Rahel mulai histeris.


"Tenang nak, tenang ", seru bu Ratih mulai menenangkan Rahel yang mulai menjauh dari mereka.


"Bu, istigfar !, apa ibu mau keadaan ibu seperti dulu dan tak bisa dekat dengan ku lagi ?", seru Fatimah membuat Rahel perlahan lahan mulai tenang.


"Maafkan aku ", ucap Rahel kembali terduduk di lantai dengan lemas.


Mendengar Rahel yang menangis dengan kencang nya.


Beberapa suster bergegas masuk ke ruang isolasi itu untuk menenangkan Rahel dan mencoba membuat anak anak di ruangan itu tak ketakutan.


"Lebih baik kalian pulang dulu, kalian bisa mengunjungi nya esok jika ia sudah tenang", pinta seorang suster kepada bu Ratih dan Fatimah sembari memapah Rahel untuk berbaring di tempat tidur nya.


"Nenek !", seru Fatimah kembali menangis di pelukan bu Ratih.

__ADS_1


"Sabar ya sayang, yang terpenting keinginan kamu sudah terpenuhi bukan, Fatimah sudah bertemu dengan orang yang Fatimah cari", ucap bu Ratih mencoba menenangkan Fatimah.


Fatimah hanya mengangguk tanpa bersuara.


"Kita pulang ya, bunda pasti udah cari in kamu dari tadi", ucap bu Ratih memapah Fatimah berjalan keluar dari rumah sakit jiwa.


___


Sementara di rumah singgah Azizah.


Nampak mobil Mawar baru saja memasuki halaman.


Mawar dan dokter Malik segera bergegas turun dari mobil dengan raut wajah yang gelisah.


"Apa gak keterlaluan bunda ?, kakak kan sudah besar ?", ketus Aqly turun dari mobil.


Namun Mawar maupun dokter Malik tak menjawab keluhan Aqly.


Mereka terus saja berfokus mencari keberadaan Fatimah yang dari pagi sudah tak berada di rumah.


"Bunda !", keluh Aqly lagi.


"Sebentar saja Aqly !, bunda harus temukan kakak mu, dia itu perempuan, gak baik di luar sendirian, lagian kamu !, sudah tahu bunda ada keperluan di luar, kenapa kamu biarkan kakak mu pergi sendirian", seru Mawar sedikit meluapkan emosi nya.


"Aku kan sudah bilang bunda, kakak mau ke rumah ini, rumah kak Azizah !", ketus Aqly.


"Tapi rumah ini sangat jauh dari rumah kita Aqly", timpal Mawar.


"Jika aku yang pergi apa bunda akan mencari ku seperti ini ?, tidak kan !, kakak terus yang ada di fikiran bunda !, aku tidak !, sebenar nya siapa di sini yang anak bunda ?", sentak Aqly sembari pergi dari hadapan Mawar.


Ucapan Aqly membuat dokter Malik dan Mawar amat tercengang.


"Astagfirullah !, kenapa watak nya semakin tak karuan", keluh Mawar menatap Aqly yang memilih memasuki mobil dari pada ikut masuk ke dalam rumah singgah.


"Sabar Mawar, tenangkan diri mu, Aqly masih labil jadi jangan kau masukkan hati ucapan nya", ucap dokter Malik berjalan kembali bersama Mawar masuk ke dalam rumah singgah.


"Assalammualaikum, ibu !, Azizah !", seru Mawar bergegas mencari siapapun yang bisa ia tanyai tentang Fatimah.


"Walaikumsalam, Mawar ?", seru Azizah keluar dari kamar nya.


"Azizah, apa kamu tau di mana Fatimah ?, apa dia kesini ?", seru Mawar langsung melempar pertanyaan beruntun pada Azizah.


"Tenang Mawar, Fatimah kemari kok tadi", ucap Azizah membuat Mawar dan dokter Malik merasa lega.


"Syukurlah ya Allah, kamu tak tau rasa nya saat mendengar Fatimah pergi ke luar rumah sendirian Azizah", ucap Mawar bernafas lega.

__ADS_1


"Iya, tapi dia langsung pergi lagi sama ibu dan belum kembali sampai sekarang, bahkan aku belum sempat menyapa nya", ucap Azizah menjelaskan.


"Tidak apa, aku akan tunggu kepulangan mereka, aku sudah tenang mendengar penuturan mu", ucap Mawar duduk di sofa menunggu kepulangan Fatimah dan bu Ratih.


__ADS_2