
Dokter Malik termenung di ruang kerjanya, ia sesekali memainkan pena di tangannya.
Tangannya terlihat bermain, tetapi pikirannya tak lepas dari bayang bayang Mawar.
Aku harus melihat dengan mata kepalaku sendiri jika Mawar memang telah memiliki suami..!!, gumam Dokter Malik.
Ia beranjak dari tempat duduknya, keluar dari ruangannya dan bergegas menuju ke ruang poli anak.
"Tak ada orang", ucapnya lirih masuk kedalam ruang poli anak.
Ia mencari berkas tentang bayi yang di bawa oleh Mawar waktu itu.
Ia berusaha mengingat siapa nama bayi itu.
"Fatimah...!!, ya, fatimah", ucapnya bergegas mencari dokumen medis milik Fatimah.
Dokter Malik terus mencari di setiap laci yang ada, membuka setiap lembar dokumen yang berada di tangannya.
"Ketemu..!!", seru dokter Malik langsung membaca dokumen yang ada di genggamannya.
Ia heran dengan apa yang ia baca.
"Tanpa ayah..??", ucap dokter Malik keheranan.
"Bagaimanan mungkin..??", serunya lagi.
Kemudian ia bergegas keluar ruangan dan mencari dokter anak yang menangani Fatimah waktu itu.
Dengan santainya ia mencoba mengorek informasi dari dokter itu tanpa menimbulkan kecurigaan rekannya itu.
"Dokter Fatma..!!", seru dokter Malik mengejar dokter Fatma yang terlihat akan pulang dan telah menuju ke mobilnya.
"Iyaa dok", ucap dokter Fatma menutup lagi pintu mobilnya.
"Emmm, begini dok, dokter ingat waktu itu ada seorang bayi bernama Fatimah yang di periksa oleh dokter..??", ucap Dokter Malik memancing ingatan dokter Fatma.
"Fatimah...??", ucap dokter Fatma mengingat ngingat nama bayi yang di maksud dokter Malik.
"Yang datang bersama ibu dan neneknya..", ucap dokter Malik kembali memancing ingatan dokter Fatma.
"Astaga..!!, maaf dokter, saya baru ingat, lalu kenapa ya dok..??", ucap dokter Fatma heran dengan pertanyaan dokter Malik.
"Enggak, saya heran aja dok, kenapa ayah Fatimah tak ikut ke rumah sakit ya..??, padahal wanita itu membawa bayi sekaligus ibunya, apa gak kerepotan..?", ucap dokter Malik mencoba mengorek informasi sebanyak banyaknya dari dokter Fatma dengan mencari alasan yang masuk akal.
__ADS_1
"Mana mungkin dok, wanita itu belum menikah, Fatimah itu juga cuma anak angkatnya", ucap dokter Fatma membuat dokter Malik kembali berharap bisa mendapatkan Mawar.
"Benarkah dok..??", tanya dokter Malik bersemangat.
"Iyaa dok, ngapain saya bohong, udah ya saya mau pulang dulu", ucap dokter Fatma masuk ke dalam mobilnya dan melaju pergi dari halaman rumah sakit.
Sementara dokter Malik dengan tersenyum berlari masuk ke mobilnya dan melaju ke alamat yang ia baca di riwayat medis Fatimah dan ibunya Mawar.
"Kenapa kamu gak jujur Mawar...??", seru dokter Malik melajukan mobilnya tanpa henti.
Beberapa jam kemudian.
Mobil dokter Malik berhenti di sebrang jalan dari rumah besar milik Mawar.
"Sepi sekali..??", ucap dokter Malik turun dari mobil dan mengintai rumah Mawar lebih dekat lagi.
Nampak tak ada seorangpun di rumah, kemana Mawar pergi..??, gumam dokter Malik.
Ia menunggu sampai subuh di depan rumah Mawar, tetapi tak ada tanda tanda seseorang pun pulang ke rumah itu.
"Aku masih menunggumu Mawar..!!, cintaku, bidadariku", ucap dokter Malik beranjak dari tempatnya duduk dan menuju ke mobilnya.
Ia masih menunggu beberapa saat di dalam mobil, ia masih berharap Mawar akan pulang ke rumahnya.
Dengan tangan hampa Dokter Malik memacu mobilnya meninggalkan rumah Mawar.
Sedangkan yang terjadi adalah Mawar masih dalam masa pemulihan di rumah sakit setelah operasi ginjal yang ia dan Geyna lakukan.
Satu satunya upaya untuk Geyna bisa sehat dan pulih kembali.
Dalam beberapa hari mereka harus tetap di rumah sakit sampai kondisinya benar benar sehat dan pulih.
"Assalammualaikum mi", ucap Mawar duduk di kursi roda masuk ke ruangan Geyna di bantu oleh Burhan.
Selama ini Burhan setia mendampingi Mawar di setiap kondisinya.
Ia menunjukkan bahwa ia benar benar serius dengan Mawar.
"Walaikumsalam", ucap Geyna melempar senyumnya pada Mawar.
Sejak ia mengalami sakit dan hidup di jalanan, bahkan di tinggalkan oleh semua anak asuhnya.
Ternyata tanpa ia duga Mawar lah yang sudi memberinya kehidupan yang baru, seorang anak yang telah ia campakan selama hidupnya, dan sekarang yang malah membuatnya memantapkan hati untuk bertobat dan menebus semua kesalahannya pada Mawar.
__ADS_1
"Mami sudah merasa lebih baik..??" ucap Mawar memegang tangan Geyna.
"Makasih ya sayang, mami seperti terlahir kembali sekarang ini, berkat kamu", ucap Geyna mengelus jilbab Mawar.
"Alhamdulillah, Mawar harap mami belajar dari masa lalu ya mi", ucap Mawar berharap lebih pada Geyna setelah ini.
"Pasti sayang, pasti", ucap Geyna dengan mata berkaca kaca, bahwa ia tak menyangka Allah masih memberinya kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik.
"Besok kita pulang, kita buka lembaran baru ya mi, aku, Mami, ibuk, dan Fatimah", ucap Mawar bahagia.
Geyna lalu memandang ke arah Burhan.
"Suamimu...??", ucap Geyna heran.
"Maaf tante, saya hanya teman, bukan suami Mawar", ucap Burhan.
"Lalu Fatimah...??", ucap Geyna makin keheranan.
"Fatimah itu anak angkat Mawar mi, Mawar belum menikah sampai sekarang, Mawar masih fokus ke karir dan kesehatan ibuk.
"Masyaallah, anak angkat Mawar..??, sungguh mulia hatimu, saat usiamu masih muda, kamu sudah bisa menjadi orang tua bagi anak orang lain, sedangkan Mami, saat usia sudah tua begini, mami tidak pernah sekalipun mengurusmu dengan benar", ucap Geyna kembali mengingat kesalahannya dulu.
"Sudahlah mi, jangan mengungkit luka lama, kita jalani saja hidup kita yang sekarang", ucap Mawar mencium punggung tangan Geyna.
"Assalammualaikum" ucap Mbak Lastri dan bik Mus yang menggendong Fatimah masuk keruangan Geyna.
"Walaikumsalam", ucap Mawar bebarengan dengan Burhan.
"Mami..., gimana kondisi mami..??",ucap Mbak Lastri memijat kaki Geyna.
"Alhamdulillah, saya sudah lebih baik", ucap Geyna.
"Mi, ini Fatimah", ucap Mbak Lastri menunjukkan Fatimah di gendongan bik Mus.
"Masyaallah cantik sekali..!!, sudah bisa berhijab kah Mawar..??", seru Geyna kagum dengan bayi yang sudah memakai hijab.
"Alhamdulillah Fatimah sudah berhijab mi", ucap Mawar tersenyum bahagia.
"Sini sini nenek gendong", ucap Geyna mencoba menggendong Fatimah.
Lama kelamaan Geyna seakan menikmati kebersamaannya dengan Fatimah, ia mulai mencintai bayi mungil itu seperti cucunya sendiri, naluri keibuannya kian muncul bersamaan dengan dirinya yang semakin mendekatkan diri pada Allah.
"Alhamdulillah", ucap Mawar mengusap air mata kebahagiaannya, melihat keluarganya kini lengkap dan bahagia.
__ADS_1