
Semua pasang mata mungil itu kini menatap heran ke arah Tia.
Perlahan anak anak itu berjalan menjauh dari Tia yang bahkan karna begitu senang nya ia sampai tak menyadari raut ketakutan di wajah para anak anak di hadapan nya.
"Jangan sakiti kami," ucap lirih seorang anak membuat senyum Tia seketika memudar.
Astagfirullah, batin Tia saat tanpa sengaja telah membuat anak anak itu ketakutan dengan kedatangan nya.
"Maaf, maafkan aku," ucap Tia dengan mata yang mulai basah.
Seketika ia segera berbalik badan dan berniat kembali ke kamar nya.
Namun di depan pintu, nampak Fatimah sudah berdiri menatap nya.
"Tia?, kau di sini?," tanya Fatimah langsung mengerti bahwa pertemuan Tia dan anak anak malam itu tak berjalan dengan baik.
"A- aku," ucap Tia terbata bata.
"Kemarilah, sudah wajar seseorang merasa canggung di pertemuan pertama mereka dengan orang asing, dan itu juga berlaku untuk kau dan semua anak anak di sini, bahkan juga untuk diri ku," ucap Fatimah mencoba menenangkan Tia.
"Dia siapa kak?," tanya seorang anak sembari menatap penuh tanda tanya ke arah Tia.
"Nama nya kak Tia, dia adalah kakak baru di rumah ini, dia akan membantu kakak mengurus kalian, benar kan kak Tia?, seru Fatimah membuat Tia segera mengangguk mengikuti alur cerita yang Fatimah buat untuk diri nya.
Namun, anak anak seakan masih merasa ragu akan penjelasan dari kakak asuh nya itu.
Mereka sudah terlanjur melihat penampilan buruk Tia saat datang ke rumah itu beberapa saat yang lalu.
"Kalian percaya kan sama kakak?," ucap Fatimah mencoba memberi pengertian lebih kepada para anak asuh nya.
Perlahan mereka mulai mengangguk dan tersenyum kecil ke arah Tia.
"Alhamdulillah, sekarang lebih baik kalian tidur, dan persiapkan diri kalian untuk besok, ini sudah malam," ucap Fatimah langsung membuat mereka bergegas kembali ke kamar mereka masing masing.
__ADS_1
"Terima kasih," ucap Tia begitu bersyukur bisa di pertemukan dengan Fatimah.
"Sesama muslim harus saling menolong. Apa kau tidak bisa tidur?," seru Fatimah melihat masih ada kecemasan di wajah lelah Tia.
"A- aku hanya ingin memastikan dengan mata ku sendiri bahwa aku tak lagi salah masuk ke sebuah rumah besar dan mewah di kota ini," ucap Tia membuat Fatimah mengerti satu hal, bahwa Tia mungkin adalah gadis desa yang telah tertipu akan iming iming kerja seperti yang pernah di ceritakan Mira tentang salah satu taktik yang pernah para pekerja Bos besar lakukan untuk mendapatkan gadis baru di dalam bisnis nya.
"Aku jelaskan sekali lagi pada mu, rumah ini aman untuk mu, jadi istirahatlah dan pulihkan tenaga mu," ucap Fatimah sembari mengajak Tia kembali ke kamar nya.
"Tapi ada dua teman ku yang masih terperangkap di sana," seru Tia seakan penuh harap Fatimah bisa membantu kedua teman nya seperti dia menolong nya.
"Itu di luar kemampuan ku Tia, kita doakan saja supaya mereka baik baik saja," ucap Fatimah tak mau Tia menaruh harapan besar pada nya.
"Apa aku boleh tanya satu hal lagi?," ucap Tia kembali mencekal tangan Fatimah yang akan pergi dari samping nya.
"Silahkan," sahut Fatimah singkat.
"Kau bilang akan ada acara besok, acara apa itu?," tanya Tia masih begitu penasaran akan semua hal tentang Fatimah dan tempat itu.
"Esok kau juga akan tahu. Yang pasti, esok adalah hari yang ku tunggu tunggu sejak lama. Ada seseorang yang begitu ku rindukan akan datang esok hari, jadi bersiaplah dan bantu aku menyambut nya besok," seru Fatimah membuat Tia tersenyum dan mengangguk ke arah Fatimah.
Keesokan hari nya.
"Apa aku cantik?," seru seorang anak dengan tak henti henti nya menatap ke arah cermin.
"Masyaallah Luna, kau begitu cantik hari ini," sahut Mira sembari membenarkan letak jilbab Luna.
"Apa benar akan banyak orang tua yang akan datang hari ini kak?," tanya Syahril begitu bersemangat.
"Tentu!, jadi bersikaplah baik sebaik mungkin di hari ini, oke!," seru Mira sembari berdoa dalam hati agar banyak dari anak asuh nya akan mendapatkan orang tua asuh yang sayang kepada mereka.
"Kak, ku dengar, kita juga mengundang anak anak dari rumah singgah lain?," seru Luna selalu cepat mendapatkan berita dari pada anak anak lain nya.
"Kau ini, kau pantas sekali menjadi wartawan. Ia benar, kita akan kedatangan anak anak dari rumah singgah Burhan, kalian senang!," seru Mira sembari mencubit pipi cabi Luna.
__ADS_1
"Wah, pasti bakal rame banget ya kak," seru Syahril langsung bergegas menuju ruang tamu, ia begitu tak sabar menyambut para tamu nya hari itu.
Kakak kalian Fatimah pun begitu bahagia hari ini, aku tidak terkejut jika tadi malam dia tak tidur karna begitu tak sabar nya menyambut hari ini, batin Mira seketika teringat akan Aqly.
"Di mana lelaki sombong itu," keluh Mira bergegas menuju ke taman belakang tempat Aqly suka menghabiskan waktu nya di sana.
----##---
"Filing ku tak akan meleset, dia pasti takut untuk muncul," ucap Mira berjalan mendekati Aqly secara perlahan dan secara sembunyi sembunyi.
"Sudahlah Mira!, jangan ganggu waktu ku saat ini saja, aku sudah selesaikan semua pekerjaan ku, dan biarkan aku duduk dengan tenang di sini," seru Aqly bahkan langsung bisa mengetahui keberadaan Mira dengan cepat tanpa melihat.
"Tapi ada satu pekerjaan yang belum kamu kerjakan Aqly," ucap Mira membuat Aqly mengeryitkan kening nya.
"Aku sudah cek berulang kali oke!, pekerjaan ku hari ini telah selesai," seru Aqly bersikeras.
"Bagaimana dengan tugas mu menyambut tamu spesial kita?," seru Mira membuat Aqly langsung clingukan.
"Sudah diam!," ketus Aqly singkat.
"Oh begitu, oke. Aku akan laporin ke Fatimah masalah ini," seru Mira sembari bergegas kembali ke dalam rumah.
Namun dengan cepat, tangan Aqly segera menarik tangan Mira hingga tanpa sengaja membuat tubuh mereka berbenturan.
Membuat kedua nya jadi salah tingkah tanpa sebab.
"T- tolong jangan katakan pada kak Fatimah, aku bisa masuk penjara di buat nya," seru Aqly dengan lugu nya.
"Tenanglah Aqly, Fatimah sudah berulang ulang kali berjanji tak akan membongkar semua nya jika kau mau patuh," ucap Mira terus membujuk Aqly.
"Tapi bagaimana jika dia ingkar?," seru Aqly dengan raut wajah cemas nya.
"Satu hal yang harus kau garis bawahi Aqly, Fatimah tidak seperti kau!, paham!, ayo cepatlah!, jangan manja," seru Mira membuat Aqly hanya terdiam dan berjalan perlahan mengikuti nya.
__ADS_1
Lelaki sombong ini ternyata mudah juga di gertak, ku rasa sebenar nya bukan hati nya yang jahat, cuma jiwa nya masih begitu labil saja mungkin, ingin di akui di mata dunia dengan cara yang instan, batin Mira sembari terus berjalan menuju ruang tamu.