
Sudah hampir 5 bulan Rahel mendekam di dalam sel.
Ia di masukkan di dalam sel level rendah.
Tidak ada namanya di prioritaskan atau di agungkan.
Bahkan perundungan dari tahanan lain sering kali Rahel dapatkan.
Tubuhnya semakin kurus dan tak terawat.
Ia tak mengenal lagi kata senyuman dan makan enak.
Mau tak mau, ia harus makan makanan lapas meskipun di matanya itu seperti makanan kucing.
"Makan...!!, makan..!!", teriak polisi wanita menyodorkan beberapa piring sarapan ke dalam lapas Rahel.
Semua tahanan maju dan mengambil makanannya masing masing.
Mereka amat senang bak mendapatkan makanan dari restoran favorit mereka.
Salah satu tahanan memandang sengit ke arah Rahel.
"Heh..!!, kamu gak mau..??, aku ambil nih..!!", seru wanita itu seketika membuat Rahel beranjak mengambil makanannya dan mendekapnya erat erat.
Rahel perlahan memakannya dengan lahap, jangan sampai tahanan lain selesai makan dan makanannya menjadi sasaran mereka juga.
Makan atau mati kelaparan..., itu pilihan Rahel sekarang.
Setelah sarapan, kegiatan bakti sosial mereka lalu di mulai.
Makan, kerja, tidur, itulah kegiatan mereka sehari hari, tanpa melihat lagi dunia luas di luar sana.
"Heh..!!, pijitin dong..!!", seru seorang tahanan wanita menarik tubuh Rahel agar bersedia memijatnya.
"Ogah..!!", seru Rahel menepis tangan wanita itu.
"Gak ada kapoknya ya..!!", seru wanita itu memukul dan menjambak rambut Rahel hingga Rahel jatuh tersungkur.
__ADS_1
Setelah di lerai oleh petugas Lapas.
Rahel pun pergi dari hadapan wanita itu dan masuk ke dalam sel nya.
Ia membersihkan darah yang keluar dari mulutnya.
Ekspresinya menunjukkan bahwa ia sudah tak betah lagi berlama lama di sana.
"Seumur hidup...!!", seru Rahel kemudian tertawa bagaikan telah kehilangan akalnya.
Bagaimanapun caranya, aku akan keluar dari sini..!!, gumam Rahel dalam hati.
Beberapa hari berikutnya, Rahel terlihat nampak pendiam dari sebelumnya.
Ia sangat mengamati gerak gerik para penjaga dan mencari celahnya agar bisa kabur dari lapas.
"Pak..!!, mau aku pijitin gak..??", ucap Rahel merayu seorang polisi yang sedang berjaga.
"Boleh...", ucap polisi itu lalu duduk di kursinya bersiap mendapat pijitan dari Rahel secara gratis.
Sembari ia memijat kepala polisi itu, ia mengambil obat tidur dari meja polisi yang sudah ia incar dari beberapa hari yang lalu.
Rahel sudah lama mengamati polisi itu, bahwa ia tak akan bisa istirahat tanpa obat tidurnya saat sift gilirannya usai.
Setelah berhasil mengambil obat tidur.
Rahel mencampurkan obat itu ke seluruh makanan yang ada di dapur.
Alhasil semuanya penghuni lapas tertidur beserta para penjaganya.
Dan itu membuat Rahel dengan mudah keluar dari lapas.
Cctv yang ada pun ia hancurkan.
Dengan cepat Rahel berlari menjauh dari lapas.
Ia berlari terus tanpa memperhatikan kakinya yang sudah memar dan berdarah karna berlari sangat jauh.
__ADS_1
"Aku gak mau seumur hidup di sana..!!", seru Rahel terus berlari hingga sampai di sebuah rumah kosong di sekitar hutan.
Untuk sementara waktu..., gumam Rahel mengatur nafasnya dan berbaring di dalam rumah kosong itu.
Keesokan harinya, berita kaburnya Rahel telah di sebar di berbagai penjuru.
Dan orang yang pertama mendapat informasi itu pastilah keluarga Mawar.
Mereka sangat syok dan panik saat Rahel berhasil kabur dari lapas.
Terlebih Mawar, ia hampir tak mau beristirahat dan terus saja gelisah.
Penjagaan di kediaman baru Mawar pun sudah di perketat.
Burhan dan Mawar memutuskan menyewa sebuah rumah tanpa mau merepotkan keluarga dokter Malik, sambil menunggu pembangunan rumah lama mereka selesai.
"Istirahatlah..!!, semua akan baik baik saja", ucap Burhan mencoba membuat Mawar tidur untuk sesaat saja.
"Mas...!!, gimana kalau Rahel nekat lagi..??", seru Mawar ketakutan.
Dalam hati ia takut bahwa Rahel masih mengincar suaminya.
Terlebih ia pasti marah telah di masukkan ke dalam penjara dengan vonis hukuman seumur hidup.
"Kita berdoa yang baik baik saja", ucap Burhan menyelimuti Mawar dan mencoba membuatnya untuk tidur.
Sementara Rahel kelaparan dalam persembunyiannya.
Mau tak mau ia harus makan dari alam.
Beruntung rumah kosong itu terletak jauh dari pemukiman dan dekat dengan perkebunan.
Rahel mencuri hasil perkebunan sedikit demi sedikit setiap harinya agar tak membuat pemilik kebun curiga.
Terkadang ia mengendap ngendap mengambil beberapa bekal makanan para pekerja kebun.
Ia harus menghemat makanannya dan menahan lapar untuk beberapa hari kedepan sampai kabar pelariannya hilang dari peredaran.
__ADS_1