Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Di balik sebuah ambisi.


__ADS_3

"Fatimah!, kalau udah selesai masak, kamu beresin kamar aku ya, jangan sampai lupa!," seru Lely melewati Fatimah begitu saja.


"Kamar aku juga ya, kasih aroma terapi kesukaan aku, kamu tahu kan?," seru Rea sembari sibuk membenarkan pakaian super mini nya.


"Lavender kan," sahut Fatimah dengan tangan masih sibuk menyiapkan sarapan.


"Yap, jangan sampai lupa pokok nya," seru Rea bersiap di meja makan.


"Ayolah!, kita bisa telat kalau sarapan dulu," seru Lely menarik Rea agar kembali berdiri dari kursi nya.


"Sarapan bentar napa sih?," keluh Rea menelan ludah saat melihat masakan Fatimah yang selalu nampak menggiurkan.


"Pagi pagi udah ribut!, berisik!," keluh Bos besar membuat Rea dan Lely langsung terdiam.


"Maaf bos," ucap Rea langsung berdiri menunduk di samping Lely.


"Kamu!, udah selesai masak nya?," tanya Bos besar mengejutkan Fatimah yang masih sibuk menata sarapan.


"Sudah," ucap Fatimah singkat.


"Kalau begitu kamu ikut aku," seru Bos besar membuat Rea, Lely bahkan Fatimah sendiri ikut terkejut mendengar nya.


"Bos?, bos ajak dia keluar?," seru Rea heran.


"Kenapa?," sahut Bos besar.


"Tapi kamar kita masih berantakan bos," seru Lely spontan hingga membuat Rea dengan cepat menginjak kaki Lely hingga membuat nya kembali diam.


"Itu urusan kalian, Fatimah hari ini akan pergi keluar bersama ku, apa kalian keberatan?," seru Bos besar sembari menyalakan rokok di tangan nya.


"Enggak kok bos, silahkan, pulang malem juga gpp," sahut Rea.


"Aku tunggu di mobil," seru Bos besar berjalan menuju teras.


Sedangkan Fatimah segera bergegas membuntut di belakang nya agar tak membuat Bos besar kembali kesal.


"Heh!, ingat ya, kamu masih punya tugas dari kami," bisik Lely saat Fatimah melewati diri nya.


Bisikan Lely hanya di jawab sebuah anggukan dari Fatimah yang terus berjalan mengikuti langkah suami nya yang begitu cepat bagi nya.


"Aku heran dengan bos, sejak Fatimah masuk ke rumah ini tingkah nya sudah seperti orang asing bagi ku," keluh Rea mendengus pelan.


"Iya ya, apalagi setelah wanita tanpa wajah itu menikah dengan bos, bos jarang banget nongkrong sama kita lagi," keluh Lely.


------

__ADS_1


Di sepanjang perjalanan, hanya keheningan yang ada.


Namun mata Fatimah terus memandang keluar jendela mobil yang tak berani ia buka.


Ia tak mau melewatkan kesempatan memandang dunia luar yang sudah 2 bulan ini tak ia lihat.


Tiba tiba gerakan tangan Bos besar mengejutkan nya.


"Tenanglah, aku hanya akan membuka kaca jendela itu," ucap Bos besar seakan tahu keinginan sederhana dari wanita di samping nya.


Semerbak angin seketika menyeruak menerpa kerudung Fatimah, membuat cadar nya sedikit terkuak beberapa kali.


Membuat mata Bos besar dengan reflek mencoba mengintip wajah sang istri.


Namun Fatimah sedikitpun tak menyadari tingkah penasaran dari sang suami.


Ia tetap menikmati hembusan angin segar yang menerpa nya saat itu.


"Terima kasih Bos," ucap Fatimah membuat Bos besar kembali menfokuskan pandangan nya ke arah depan.


"Its oke," sahut Bos besar berusaha tetap terlihat angkuh.


"Kalau boleh aku tahu, kita mau kemana?," tanya Fatimah penasaran.


"Aku mau membawa mu ke tuan Darji," sahut Bos besar langsung membuat Fatimah ketakutan dan berniat melompat dari mobil.


"Sudah ku bilang dari awal, aku lebih baik mati dari pada harus tunduk di bawah kaki lelaki yang bukan suami ku," sahut Fatimah berusaha mengulang aksi nekat nya, namun bos besar sudah terlebih dulu mengunci pintu mobil secara otomatis.


"Sorry, aku hanya bergurau tadi," seru Bos besar kembali membuat Fatimah sedikit tenang namun tetap dalam sikap waspada.


Ada yang berbeda dari wanita ini, batin Bos besar sesekali menatap Fatimah dari kaca kemudi nya.


Tak sengaja, perjalanan mereka melewati sebuah gedung perkuliahan yang menarik perhatian Fatimah.


Ada kesedihan dalam tatapan mata Fatimah saat itu, hingga membuat Bos besar menerka nerka arti tatapan itu.


Mungkin dia rindu masa kuliah nya. Ah!, tapi kenapa harus aku pikirkan itu, tak ada penting nya untuk ku, batin Bos besar lagi lagi merasa bingung akan diri nya sendiri.


"Kenapa lagi?," tanya Bos besar sembari menyalakan rokok nya untuk yang kesekian kali.


"Aku hanya merasa bersalah karna tak bisa mewujudkan impian bunda untuk melihat ku menjadi sarjana," ucap Fatimah menyeka air mata nya.


"Ck!, orang hebat tidak perlu gelar itu," sahut Bos besar menyembulkan asap rokok nya ke arah Fatimah hingga membuat Fatimah terbatuk.


"Kamu benar," sahut Fatimah singkat.

__ADS_1


"Tentu aku selalu benar!," seru Bos besar tersenyum senang, karna akhir nya Fatimah mengerti jalan pikiran dari orang seperti nya.


"Kamu memang benar, orang sukses kadang hanya perlu mengandalkan otot dan koneksi nya, namun bagi orang berhasil, mengandalkan seluruh tubuh dan hidup nya pun kadang belum cukup," seru Fatimah membuat Bos besar spontan menghentikan mobil nya secara mendadak.


"Kamu meledek ku?," seru Bos besar menatap tajam ke arah Fatimah.


"Aku hanya mengungkap kan pendapat ku," sahut Fatimah semakin membuat Bos besar merasa di rendahkan.


Ucapan Fatimah sontak membuat Bos besar kembali memacu mobil nya.


Namun kali ini mobil itu melesat cepat 3 kali lipat dari kecepatan awal.


Membuat Fatimah menutup mata nya dan berpegangan erat di kursi kemudi.


Tak berselang lama.


Mobil seketika berhenti di sebuah tempat.


Tempat peristirahatan terakhir bagi manusia di bumi ini.


Belum sempat Fatimah bertanya, Bos besar langsung turun dari mobil nya dan segera menarik paksa Fatimah untuk keluar.


"Lepaskan aku!," seru Fatimah namun tetap tak bisa menghentikan tarikan tangan dari Bos besar.


Hingga mereka tiba di sebuah pusaran tempat seorang wanita telah di semayamkan.


Begitu banyak pertanyaan di benak Fatimah, namun satu kalimat dari mulut Bos besar menjawab sebagian besar pertanyaan dalam benak nya.


"Dia adalah ibu ku," ucap Bos besar dengan wajah sayu yang belum pernah di lihat Fatimah sebelum nya.


"Dia begitu ingin aku menjadi sukses, dia segala nya bagi ku, namun belum sempat melihat ku dewasa, Tuhan mu berani mengambil nya dari ku," ucap Bos besar tanpa air mata sedikit pun.


Mendengar semua itu, mulut Fatimah seakan tak bisa berkata kata.


"Kami dulu keluarga bahagia, ayah ku memang pemilik rumah bordil ternama, tapi dia hanya setia pada satu wanita, yaitu ibu ku, istri yang paling ia cintai, ibu ku juga wanita yang luar biasa, ia tak pernah membuat masalah dengan manusia lain, tapi Tuhan mu itu!," seru Bos besar meluapkan semua amarah yang masih tersisa di hati nya.


"Itu adalah takdir, kita tak bisa merubah takdir," sahut Fatimah semakin membuat wajah Bos besar menjadi merah padam.


"Takdir kata mu!, orang seperti mu tidak akan tahu rasa sakit hati ku ini!, hingga aku menjadi begitu berambisi menghancurkan keimanan orang orang munafik seperti mu!," sentak Bos besar hampir lepas kendali.


"Apa bos pikir, seorang ibu akan senang melihat anak nya seperti ini?, itu lebih menyakitkan dari pada kematian itu sendiri!," seru Fatimah larut dalam tangis saat mengucapkan nya.


Seketika Bos besar terdiam di tempat nya.


Ia seakan tertampar dengan ucapan Fatimah saat itu.

__ADS_1


Namun kebimbangan dalam hati nya masih begitu kuat di kedua sisi.


Hingga Bos besar memilih meninggalkan area pemakaman itu tanpa mengajak Fatimah bersama nya.


__ADS_2