
"Permisi bu, apakah pihak keluarga ada yang bisa membantu mengurus data dan administrasi pasien?," tegur seorang suster namun tak mampu membuat Fatimah bergeming menatap sendu ke arah pintu igd yang masih tertutup rapat.
"Biar saya saja sus," timpal Rani hanya sekedar berniat untuk melepaskan diri dari rasa bosan selama menunggu kabar kematian dari Bos besar yang begitu ia harapkan.
Aku harus terlihat begitu peduli kali ini, jangan sampai jejak ku terendus nanti nya, batin Rani sembari berjalan mengikuti kemana suster membawa nya.
Sesaat tiba tiba sebuah angin berhembus menerpa tubuh nya.
Kok perasaan ku tiba tiba gak enak ya?, batin Rani baru tersadar jika ia telah sampai di sebuah ujung lorong.
"Sus?," panggil Rani sembari memandang ke ke sekeliling.
Nampak sunyi senyap tanpa seorang pun di sana.
Bahkan suster yang ia ikuti kini tidak terlihat di mana pun juga.
Penerangan begitu kurang, sehingga lorong hanya terlihat ala kadar nya.
"Mari ikut saya mbak," ucap seorang lelaki berpakaian seragam perawat tiba tiba muncul di samping nya hingga membuat Rani terkejut.
Masker menutup sebagian muka nya di tambah penerangan yang kurang membuat Rani tak begitu jelas mengenali nya.
__ADS_1
"Kenapa ruang administrasi begitu senyap mas?, dan kenapa letak nya berada di ujung lorong?, harus nya kan ada di bagian depan, dan di mana suster tadi?" ucap Rani sembari mengikuti sang perawat dengan langkah kaki yang masih nampak ragu ragu.
"Mbak harus selesaikan urusan yang lain nya terlebih dulu," timpal sang perawat seketika terhenti di tengah ruangan.
Rani begitu terkejut saat ia baru menyadari bahwa ia baru masuk ke sebuah ruang jenazah.
Banyak ranjang yang terlihat kosong terlihat, namun ada satu ranjang yang nampak terbujur sebuah mayat tertutup selimut di ujung ruangan.
Melihat satu mayat saja langsung membuat Rani berteriak histeris sekencang kencang nya.
Ia mencoba berlari namun tersungkur ke lantai, sedangkan tak ada apapun yang membuat nya tersandung dan jatuh.
"A-apa, apaan ini?, apa kau mau mempermainkan ku?," gerutu Rani dengan nada yang bergetar ketakutan.
"Keluarga ku!,".
"Keluarga ku!,".
Ucapan itu terus di ucapkan berulang ulang oleh sang perawat yang kini menatap sendu ke arah Rani.
"Kau wanita jahat!,".
__ADS_1
Seru perawat itu membuat Rani begitu berusaha keras untuk segera keluar dari ruangan itu.
"Kau gila!, aku akan laporkan ketidak nyamanan ini pada atasan mu", sentak Rani namun tetap tak bisa menyembunyikan rasa takut nya saat itu.
Sesekali ia memandang ke arah mayat di ujung ruangan yang tiba tiba telah hilang dari tempat nya.
"Kau begitu tega meninggalkan ku di jurang itu", rintih nya membuat mata Rani begitu membulat sempurna.
Seolah olah ingatan nya beberapa minggu yang lalu kini kembali begitu jelas di ingatan nya.
"Tidak!, ini hanya ilusi ku saja!," ujar Rani sembari menepuk nepuk pipi nya sendiri.
Ia begitu tak percaya dengan apa yang tengah ia alami saat itu.
Dengan kaki yang gemetar, ia terus mencoba berdiri dan berlari keluar dari ruangan itu.
Namun sebuah tangan tiba tiba menarik nya kembali.
Dingin dan basah begitu terasa di kulit nya, hingga membuat siapapun akan berlari terbirit birit jika ia bisa.
"Kau harus bertanggung jawab!, aku tidak rela anak ku hidup terlantar karna mu!," ujar lelaki itu yang kini semakin berubah fisik terlihat seperti sopir tuan Danu yang ia tinggalkan begitu saja di tepi hutan beberapa minggu yang lalu.
__ADS_1
Begitu mirip, mulai dari baju serta keseluruhan nya walaupun ia terlihat sedikit basah kuyup dan berlumpur.
"Pergi!, pergi kau!, lelaki bodoh!, kau itu tidak nyata!, kau hanya ilusi ku saja!," teriak Rani begitu syok nya hingga pandangan nya semakin kabur.