Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Kabar bahagia untuk Mawar, duka untuk Dokter Malik.


__ADS_3

Burhan segera merebahkan Mawar di atas ranjang.


Segera dokter Malik memeriksa keadaan Mawar yang tengah tak sadarkan diri.


Bu Maryam dan Burhan nampak khawatir dengan keadaan Mawar.


Setelah dokter Malik mengecek seluruh kondisi tubuh Mawar dengan stetoskop, bahkan denyut nadi, tekanan darah pun tak luput dari pemeriksaannya.


Tiba tiba stetoskopnya berhenti saat memeriksa perut Mawar.


Dokter Malik terdiam beberapa saat, ia seakan tercengang pada saat itu.


Ia memeriksa kembali denyut nadi di tangan Mawar.


Ia seakan masih terlihat tak percaya akan hasil pemeriksaannya.


"Kenapa kau diam Malik..?, apa yang terjadi pada Mawar..??", seru Burhan mengguncang tubuh dokter Malik yang seketika berdiri dari tempat duduknya dengan tatapan mata kosong.


Kemudian ia pandangi wajah yang mulai sadar itu.


Dokter Malik seakan lemas dan tak kuat lagi berdiri.


"Kenapa nak..??", seru bu Maryam menopang tubuh anaknya.


"Kamu sudah siuman Mawar..??", seru Burhan mendekat ke arah Mawar dan kembali memandang dokter Malik yang terlihat syok.


"Aku kenapa mas..??", ucap Mawar lirih sambil memegangi kepalanya yang masih terasa berat.


"Kenapa dengan Mawar Malik..??, kenapa kamu diam saja..??", seru Burhan penasaran dengan kondisi Mawar.

__ADS_1


"Mawar Hamil...", ucap dokter Malik singkat, membuat bu Maryam mengerti alasan di balik sikap anaknya yang tiba tiba seperti kehilangan semua kekuatannya.


Seketika dokter Malik keluar dari kamar itu sembari di ikuti oleh bu Maryam.


Sementara Mawar dan Burhan saling berpelukan, mereka tak kuasa menahan air mata bahagia atas kabar membahagiakan itu.


"Aku hamil...!!", seru Mawar tak percaya.


"Alhamdulillah..!!", seru Burhan mengelus perut Mawar.


"Sudah lama kita menanti kabar ini mas", ucap Mawar sangat bahagia.


"Jaga baik baik anak kita", ucap Burhan mengecup kening Mawar.


"Ibuk dan ayah pasti senang sekali mendengar kabar ini mas", ucap Mawar mencoba bangun dari ranjang.


"Kita temui ayahmu dulu, lalu kita pulang menemui ibuk", ucap Burhan memapah Mawar menuju kamar Bram.


Ia bimbang, entah dia harus senang atau sedih.


Jika boleh jujur, dalam lubuk hatinya ia merasakan sakit yang teramat dalam.


"Nak..!!, boleh ibu masuk..!", seru Bu Maryam mengetuk pintu.


Tetapi tak ada sahutan dari dokter Malik.


Kenapa tak ada satu kebahagiaan yang terjadi di hidupku..??, aku menikah dengan orang yang tak kucintai, aku menghadapi sebuah perceraian dalam rumah tangga, dan mau tak mau aku harus bisa tersenyum atas kebahagian orang yang kucintai bersama orang lain, gumam dokter Malik dalam hati.


Setelah memberi kabar bahagia itu pada Bram, Mawar dan Burhan memutuskan ingin segera pulang ke rumah menemui mbak Lastri.

__ADS_1


Langkah kaki Mawar dan Burhan terhenti melihat bu Maryam menangis meringkuk di depan pintu kamar dokter Malik.


Burhan memegang bahu Mawar seakan memberi isyarat untuknya agar bisa menenangkan bu Maryam sebelum pergi dari sana.


"Aku akan ambil Fatimah, aku tunggu kamu di depan", ucap Burhan berlalu dari hadapan Mawar.


Mawar mendekat dan duduk di samping bu Maryam.


Ia mencoba merangkul bu Maryam yang sedang menangis tersedu sedu.


"Buk..!!, maafkan Mawar jika semua ini terjadi karna adanya Mawar di sini", ucap Mawar bersandar di bahu bu Maryam.


Seketika bu Maryam mengangkat pandangannya.


Ia menatap Mawar dan memeluknya.


"Ini bukan salahmu nak, sudah nasib ibu dan Malik di gariskan seperti ini, kami akan berusaha saling menguatkan", ucap Bu Maryam menahan tangisnya agar tak membuat Mawar merasa bersalah atas semua yang terjadi.


"Trima kasih buk, senang sekali Mawar bisa di anggap anak sendiri oleh ibuk, Allah sangat baik pada Mawar, Mawar dipertemukan oleh wanita wanita hebat dalam hidup Mawar ini", ucap Mawar menghapus air mata di pipi bu Maryam.


"Selamat ya atas kehamilanmu, jaga amanah Allah ini dengan baik, kamu berhak bahagia sayang", ucap Bu Maryam mengecup dahi Mawar.


Mawar meneteskan air matanya, ia terharu dengan kasih sayang yang diberikan bu Maryam padanya.


Padahal saat ini anak kandungnya sendiri dalam keadaan terpukul.


"Ibuk juga baik baik ya, titip dokter Malik, Mawar pamit dulu, kalau ada apa apa ibu bisa langsung telfon Mawar", ucap Mawar mencium punggung tangan bu Maryam.


"Iyaaa, hati hati", ucap Bu Maryam memaksakan senyumnya di hadapan Mawar.

__ADS_1


"Assalammualaikum", ucap Mawar berlalu pergi meninggalkan Bu Maryam.


"Walaikumsalam", ucap Bu Maryam sambil menahan tangisnya sampai Mawar hilang dari pandangannya.


__ADS_2