Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Sang buronan.


__ADS_3

"Kemari kalian semua!," teriak tuan Danu begitu marah nya saat diri nya baru saja tiba di rumah besar milik nya.


"Jika kalian tak segera berkumpul, aku pastikan akan memecat kalian hari ini juga!," teriak tuan Danu lagi dan lagi, membuat para ajudan nya tergopoh gopoh untuk sampai ke hadapan nya.


Dengan nafas yang masih kembang kempis, bukan simpati yang mereka dapatkan saat berhadapan dengan sang majikan.


Terlebih melainkan sebuah tamparan dan umpatan yang terus keluar dari mulut tuan Danu saat itu.


Diri nya begitu terbakar amarah akan kegagalan rencana nya hari itu, amarah nya semakin memuncak karna mengetahui bahwa kemungkinan besar Rea dan sang sopir baru nya lah yang telah mengkhianati nya hari itu.


"A- apa salah kami tuan?," ucap sang ajudan dengan kepala yang tak berani mendongak sedikitpun juga.


"Diam!," sentak tuan Danu tuk kedua kali nya mendaratkan sebuah tamparan ke salah satu ajudan milik nya.


"Bodoh!, kalian benar benar bodoh!, apa yang ada di otak kalian hingga memberi ku seorang sopir pengkhianat seperti dia!," sentak tuan Danu begitu kesal nya.


"Ka-kami minta maaf, tapi memang nya apa kesalahan yang telah ia perbuat tuan?," ucap salah seorang ajudan yang lain dengan gemetar nya.


"Itu tidak penting lagi sekarang. Sekarang tugas kalian temukan mereka di manapun mereka berada, aku mau mereka secepat nya berlutut di hadapan ku!, paham!," sentak tuan Danu sembari berjalan menuju kamar nya.


Namun saat melewati televisi yang menyala, langkah nya terhenti seketika.

__ADS_1


Pasal nya, berita akan kebakaran rumah Bos besar telah dengan cepat tersebar di beberapa channel televisi.


"Ma- maaf tuan, kami hanya sejenak menonton pertandingan bola tadi," seru seorang ajudan kembali berjalan tergopoh gopoh hanya demi mematikan televisi yang sempat mereka nyalakan beberapa saat yang lalu.


"Hentikan!, pergilah atau aku akan lebih marah dari ini," ucap tuan Danu cukup untuk menggertak sang ajudan untuk pergi dari sana tanpa berani berucap apapun lagi.


Perhatian tuan Danu kembali tertuju pada berita kebakaran yang terjadi beberapa saat lalu.


Ia begitu terkejut melihat bahwa dugaan nya terhadap Rea dan sang sopir tak meleset sedikitpun dari potongan rekaman cctv yang sempat bisa di selamatkan dari kebakaran itu dan di tayangkan begitu jelas di berita televisi saat itu.


"Kurang aj*r!, jadi Rea benar benar berniat membunuh Fatimah," ucap tuan Danu sembari mengepal kedua tangan nya.


"Hentikan mbak!, aku mau pulang!," ketus sang sopir pribadi tuan Danu saat Rea terus memaksa nya untuk pergi semakin jauh dari tempat kejadian kebakaran.


"Bodoh!, apa kau mau di tangkap, hah!," sentak Rea mencoba menelisik kondisi sekitar nya.


"Aku gak mau jadi buronan mbak!," sahut sang sopir dengan suara yang begitu gemetar ketakutan.


Pasal nya ada anak serta istri yang menunggu kepulangan nya sedari bekerja.


"Jika kau tutup mulut, aku pastikan tidak akan ada yang tahu tentang keterlibatan kita akan kebakaran itu," seru Rea memperingatkan.

__ADS_1


"Lalu, bagaimana dengan tuan Danu mbak?, tidak mungkin dia tidak mengetahui akan semua yang telah kita lakukan," sahut sang sopir membuat Rea semakin kesal.


"Diam!, itu sebab nya aku bawa kau pergi jauh," seru Rea kembali mencoba melarikan diri lebih jauh dari itu.


"Tidak mbak, kasihan anak dan istri ku, mereka yang akan menanggung semua kesalahan ku ini nanti nya, aku harus kembali, jika aku harus menceritakan semua ini aku akan jujur dan rela masuk penjara," seru sang sopir membuat Rea semakin gelisah dan ketakutan.


Mendengar kata penjara saja ia langsung membayangkan hal yang paling buruk akan terjadi di hidup nya di masa depan.


"Tidak!, kau harus ikut dengan ku," seru Rea terus menarik tangan sang sopir hingga perdebatan mereka semakin memanas saja.


Namun karna Rea semakin emosi dengan sikap memberontak sang sopir.


Diri nya lalu tak sengaja mendorong sang sopir hingga terjatuh ke dasar jurang di tepian hutan itu.


Melihat sang sopir yang telah terjatuh semakin dalam dan telah mencapai dasar jurang dengan luka di sekujur tubuh nya, seketika itu Rea langsung panik.


Kepanikan nya semakin menjadi saat diri nya tak melihat ada tanda tanda pergerakan lagi di tubuh sang sopir.


"Di- dia mati?," ucap Rea sembari bergegas pergi dari sana sebelum ada kendaraan melintas dan melihat ada mayat di sana.


Setidak nya tidak akan ada lagi yang bisa membuktikan bahwa aku lah dalang kebakaran itu, batin Rea tanpa tahu bahwa diri nya telah menjadi buronan dalam waktu sekejap, bahkan se isi kota telah mengetahui nya.

__ADS_1


__ADS_2