Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Hamil anak Jeri


__ADS_3

Orang tua Rahel telah menyusun sebuah perjodohan untuk anaknya.


Sekarang yang perlu mereka lakukan hanya membuat pak Bram tertarik pada Rahel saat pak Bram bertemu dengan Rahel nantinya.


"Pa, gimana rencananya ...??", ucap Dara sembari membawa secangkir teh dan sepiring kue untuk suaminya di teras rumah.


"Rencana yang mana ma..??", ucap Yahya terus membaca koran ditangannya.


"Papa gimana sih..!!, ya perjodohan antara anak kita dan anak pak Bram", seru Dara.


"Oh itu, tenang ma, semua dah papa urus, papa tadi sudah undang Bram kerumah kita dengan alasan bisnis dan ia setuju datang hari ini", ucap Yahya menutup korannya dan mengambil secangkir teh buatan istrinya.


"Sama keluarganya pa..??", ucap Dara penuh semangat.


"Enggak, dia sendiri", sambil menikmati secangkir teh di tangannya.


"Papa gimana sih..!!, Rahel tu mau kita jodohkan sama anaknya pak Bram, bukannya sama pak Bram", ketus Dara.


"Iya iya ma, papa tau..!!, justru itu, papa tuh sudah kenal banget wataknya Bram", ucap Yahya.


"Maksud papa..??", tanya Dara bingung.


"Pak Bram itu kalau sudah memutuskan gak bakal ada yang bisa nolak, termasuk istri dan anaknya, sekarang tinggal gimana caranya Rahel bisa menangin hatinya pak Bram", ucap Yahya.


"Kalau gitu mama mau kasih tau Rahel dulu ya pa", ucap Dara berlalu pergi ke kamar anaknya.


Sementara Rahel dari dalam kamar nampak sedang bersantai di depan meja riasnya.


Ia nampak segar setelah mandi pagi itu.


"Kukuku kucel banget sih..!, ke salon enak kali ya", ucap Rahel membuka lacinya ingin mengambil alat pengering rambutnya dan bersiap pergi ke salon.


Ia tak sengaja melihat tumpukan pemb*lut yang masih utuh.


Ia memegangnya dengan perasaan heran.


"Masih utuh sih...???", ucap Rahel kebingungan.


Ia pun berdiri dari tempat duduknya, masih memikirkan bungkus Pemb*lut yang belum terbuka sama sekali.


Ia kemudian tercengang dan langsung berlari menuju kalender kecil di meja riasnya.


Ia melototi kalender itu cukup lama.


Tubuhnya seakan lemas dan terduduk di pinggir tempat tidur.


Ia mengingat kejadian sebulan lalu dengan Jeri.


"Gak, gak mungkin..!!", seru Rahel ketakutan.

__ADS_1


Ia pun browsing perihal keluhannya yang dialaminya minggu minggu terakhir ini.


Ia pun makin syok membaca layar ponselnya.


Terbukti dari semua hal itu, ia masih menyangkal akan kemungkinan yang terjadi.


Ia lalu bersiap dan bergegas pergi menuju apotik.


"Hey, sayang...??, kamu kok buru buru gitu sih..??", seru Dara yang saat itu berpapasan dengan anaknya di depan kamar Rahel.


"Upss, sorry ma, Rahel mau keluar sebentar, okey", ucap Rahel mencium pipi mamanya dan bergegas pergi.


"Ehhh, ada yang mama mau omongin sama kamu", teriak Dara berusaha menghentikan langkah Rahel.


"Bentar kok ma, bye", seru Rahel, terus bergegas menuruni anak tangga.


"Anak itu kenapa sih..!!", ucap Dara sambil berjalan kembali ke teras depan tempat suaminya sedang bersantai.


"Ma, Rahel mau kemana..??, kamu gak bilang apa dia harus di rumah hari ini..??", ucap Yahya yang melihat anaknya tergesa gesa melajukan mobilnya.


"Boro boro pa, mama belum ngomong aja dia dah main pergi pergi aja", ucap Dara duduk di samping suaminya, sambil melihat mobil anaknya yang telah keluar dari gerbang rumah.


"Lhoo trus gimana nanti kalau pak Bram kemari..??", seru Yahya takut rencananya gagal.


"Katanya keluar bentar kok pa", ucap Dara.


"Kalau Rahel gak pulang, dan rencana kita gagal, itu gara gara mama", tegas Yahya.


"Ah sudahlah", ucap Yahya masuk ke dalam rumah meninggalkan istrinya.


"Kebiasaan..!!", ucap Dara sembari gelisah jika Rahel benar benar tak pulang ketika pak Bram datang.


Tak berselang lama, mobil Rahel telah berhenti di depan apotik.


Ia turun dengan bersikap sesantai mungkin, kalau kalau pegawai apotik bertanya panjang lebar padanya.


"Mbak saya mau beli tes pack dong", ucap Rahel agak lirih.


Pegawai apotik sejenak memandangi Rahel.


Rahel yang merasa risih dengan pandangan pegawai di depannya pun sedikit meluapkan emosinya.


"Heh, kamu denger gak saya ngomong..!!, emang salah ya beli tes pack..!!", seru Rahel mengagetkan pembeli lainnya.


"I...i..iyaa, mbak, maaf", ucap pegawai itu ketakutan dan segera melayani Rahel.


Rahel pun mengambil pesanannya dan melempar beberapa uang ke arah pegawai di depannya.


"Ambil aja kembaliannya", ucap Rahel berjalan menuju mobilnya dan segera pergi dari tempat itu.

__ADS_1


Sesampai di rumah, ia bergegas ke kamarnya dan membuktikan semua keluhannya itu salah.


Tetapi langkahnya dihentikan oleh mamanya.


"Rahel..??, bentar sayang...!!, mama mau ngomong", seru mamanya menghadang Rahel yang ingin menaiki anak tangga.


"Apa sihh ma..??, Rahel masih ada urusan", ucap Rahel kesal.


"Kamu kenapa sih sayang..??, akhir akhir ini kok suka marah marah gak jelas, mama tuh cuma mau kasih tau kamu, hari ini pak Bram calon besan kamu mau dateng, jadi jangan kemana mana ..??, buat ia terkesan sama kamu, okey", ucap Dara menjelaskan.


"Okey, okey ma, udah ya, Rahel mau kekamar dulu", ucap Rahel melanjutkan langkahnya menuju kamar.


"Anehh tuh anak, biasanya paling semangat kalau mbahas soal perjodohannya sama keluarga pak Bram", ucap Dara heran dengan tingkah anaknya.


Rahel pun segera masuk ke kamar dan mengunci pintunya.


Ia memandangi tes pack yang ada ditangannya, segera ia masuk ke kamar mandi dan membuktikan bahwa dugaannya keliru.


Rahel menunggu di sudut ruangan dengan gelisah.


5 menit terasa lama sekali baginya waktu itu.


Tak berselang lama, ia segera mengambil tes pack itu dan membawanya ke kamarnya.


Ia memandangi hasil yang berangsur angsur mulai nampak di tes pack itu.


Ia terkejut tak percaya.


Ia membungkam mulutnya sendiri mencegahnya agar ia tak berteriak.


"Garis dua...??, a...a..aku hamil...!!!", seru Rahel tak percaya akan kenyataan itu.


Raut wajahnya seketika memerah.


"Jeri...!!!!", ucapnya memendam amarah.


Ia berusaha menghubungi Jeri tapi tak berhasil.


Rahel terus saja mencoba dan mencoba mengabari Jeri apa yang tengah terjadi.


"Kemana sih pecundang itu...!!", seru Rahel melempar ponselnya ke atas ranjang.


Lalu Rahel mengingat akan kunjungan Pak Bram sebentar lagi.


Rahel menarik nafasnya panjang, dan duduk di tepi ranjangnya.


"Tenang Rahel, Jeri bisa kamu urus nanti, sekarang biarkan perjodohan ini terwujud dulu, jangan sampai gara gara semua ini, perjodohanku dengan Malik gagal", ucap Rahel menghadapkan tubuhnya di cermin.


Ia berusaha tersenyum dan melupakan masalahnya untuk sejenak.

__ADS_1


Ia mulai bersiap untuk menyambut kedatangan pak Bram yang harus ia buat terkesan nantinya.


__ADS_2