
Aroma masakan tiba tiba tercium di setiap penjuru rumah.
Membuat yang menciumnya langsung merasakan rasa lapar.
"Hmmmm, kamu punya pembantu..??", seru Gea merasakan perutnya yang tiba tiba keroncongan.
"Enggak", ucap Jeri meletakkan ponselnya dan mencium dari mana arah aroma masakan yang tengah mereka cium.
"Arahnya dari dapurmu Jer", ucap Rahel bangkit dari duduknya.
"Pasti temanmu itu sedang masak, siapa lagi", seru Gea.
"Coba cek gih, aku males ketemu Susan, wanita sombong", ucap Jeri kembali menghidupkan game di ponselnya.
Rahel berjalan ke arah dapur.
Ternyata benar, Susan sedang sibuk memasak di dapur.
"Wahhh, enak nih..!!", seru Rahel mengelus perutnya.
Susan terus saja menyiapkan makanan yang ia masak dan meletakkannya di atas nampan, dan berlalu pergi melewati Rahel.
"Ehh, mau dibawa kemana..??", seru Rahel mengikuti Susan.
"Mau ku bawa ke anak itu", ucap Susan terus dengan langkah kakinya.
"Tapi kita juga lapar San..!!", seru Rahel kesal.
"Masak aja sendiri, tuh..!!, aku beli bahan masakan cukup banyak di dapur", ucap Susan.
"Ogah ah, males banget", seru Rahel berlalu pergi meninggalkan Susan.
Susan pun masuk ke kamar Fatimah.
Fatimah terlihat masih menunduk dan menangis.
"Hey, sayang, jangan takut sama tante ya, kamu pasti laper, yuk makan sama tante, kalau kamu pinter tante janji bakal bawa kamu pulang, okey", ucap Susan membujuk Fatimah agar mau makan.
"Gimana San..??", seru Gea membuat Susan memalingkan pandangannya ke hadapan Gea saat Fatimah mau mengangkat wajahnya.
"Masih aku bujuk, kenapa...??", ucap Susan mendekati Gea.
"Ya kalau dia gak mau buat aku aja", seru Gea.
"Enak aja", ketus Susan.
"Kenapa sih ni..??", ucap Rahel mendekati Gea dan Susan.
__ADS_1
"Nih temen kamu, pelit amat", ketus Gea.
"Ya udah lah ya, biarin dia urus anak itu, aku udah delivery makanan kita, bentar lagi nyampek", ucap Rahel menarik tangan Gea menjauhi Susan.
Ketika Susan kembali menghampiri Fatimah, Fatimah kembali menyembunyikan wajahnya di balik bantal.
"Ya udah, makannya tante taruh sini ya, tante mau keluar dulu", ucap Susan keluar dari kamar Fatimah.
Susan kembali mendekati Rahel, Gea dan Jeri yang sedang asyik makan.
"Hel, coba jelasin, itu anak siapa..?, dia dari tadi gak mau makan lhooo, kamu gak kasian apa...??", seru Susan berkacak pinggang di depan Rahel.
"Udah lah Susan, makan dulu sini, aku lagi butuh anak itu, nanti kalau urusanku udah selesai aku balikin kok ke orang tuanya", ucap Rahel menikmati makanan di depannya.
"Iyaaa...!!, waktu itu terjadi tuh anak udah mati kelaperan", ketus Susan membuat Rahel terbelalak kaget.
"Biar aku aja yang bujuk", seru Rahel berjalan ke arah kamar Fatimah.
"Heh bocah...!!, cepetan makan...!!, manja amat sih..!!", seru Rahel menjambak rambut Fatimah, seketika Fatimah menangis dibuatnya.
"Bunda...!!!, bunda..!!", teriak Fatimah di sela sela tangisannya.
Susan pun berlari masuk ke kamar Fatimah dan seketika ia terkejut melihat dengan jelas wajah anak yang ternyata sangat ia kenal.
"Ya ampun...!!!, Fatimah...!!", teriak Susan menarik tangan Rahel dan mendorongnya sampai jatuh tersungkur.
"Tenang ya Fatimah, kamu aman sama tante", ucap Susan menenangkan Fatimah.
"Kamu kenapa sih San...??, trus kenapa kamu bisa tau kalau nama dia itu Fatimah..??", seru Rahel membuat Gea dan Jeri bergegas mendatangi mereka.
"Hehhh..!!, apa apa.an kamu...??", seru Jeri menunjuk nunjuk muka Susan dengan penuh amarah.
"Kamu gpp hel..??", ucap Gea menolong Rahel yang tengah tersungkur di lantai.
"Kalian yang apa apa.an..??, belum puas buat hidup Fatimah menderita..??, dari tadi kalau aku tau dia itu Fatimah, udah aku ajak dia keluar dari tempat ini", seru Susan membuat semua merasa heran dengan tingkahnya.
"Langsung ke poinnya...!!!, gak usah banyak bacot..!!", seru Rahel membentak Susan.
"Ohh, kamu pingin tau...!!, okey...., kamu tau Fatimah itu anak siapa..??", seru Susan.
"Mawar..., dan aku gak mungkin salah anak", ucap Rahel mendekati Susan.
"Oh ya, Fatimah itu memang anak Mawar, sejak Fatimah di buang oleh orang tua kandungnya saat masih bayi dan kemudian dipungut oleh Mawar", seru Susan menatap tajam mata Rahel.
Rahel seakan membisu mendengar ucapan dari mulut Susan.
Jeri dan Gea pun dibuat bingung oleh tatapan Susan yang penuh amarah pada Rahel.
__ADS_1
"Dan kamu tau Hel, ibu kandung Fatimah itu kamu..!!", seru Susan membuat Jeri dan Gea syok terutama Rahel.
Rahel menatap Wajah Fatimah yang menangis dipelukan Susan.
Ia tak menyangka, senjatanya untuk mengalahkan Mawar ialah anaknya sendiri.
"Gak mungkin, dia udah aku buang, jauh dari sana", ucap Rahel menyangkalnya.
"Ya, kamu memang membuangnya, tapi aku mengambilnya dan meletakkannya di rumah Mawar, ternyata pilihannku benar, Mawar bisa merawat Fatimah jauh lebih baik dari siapa pun, termasuk kamu..!!", ucap Susan berjalan keluar dari kamar itu.
"Tunggu...!!, ucap Rahel menghentikan langkah kaki Susan.
"Siapa pun dia, aku masih membutuhkannya untuk menjatuhkan Mawar, sudah sejauh ini langkahku, aku gak bisa mundur", ucap Rahel masih dengan keras kepalanya.
Jeri dan Gea pun tersenyum, karna Rahel tak terpengaruh siapa sebenarnya Fatimah untuknya.
Yang terpenting baginya saat itu ialah kekayaan Bram.
"Kamu emang gak waras ya hel..!!, mulai sekarang jangan pernah temui aku lagi", seru Susan melanjutkan langkah kakinya.
"Aku bilang tunggu...!!, jika kamu bawa pergi anak itu, kamu akan kehilangan karirmu yang kamu bangun susah payah", ucap Rahel mengancam Susan.
"Apa maksudmu..??", tanya Susan berbalik badan menghadap Rahel.
"Aku akan sebar berita bahwa kamu culik Fatimah, dan karir kamu wusssshhhh, musnahh..", ucap Rahel menggertak Susan.
Susan terdiam dan tak berdaya.
Apa yang akan di lalui orang tuaku nanti jika ancaman Rahel benar terjadi..??, gumam Susan dalam hati.
"Gimana...??, kamu tau kan koneksiku cepat, sekali aku sebar berita, surat kabarpun akan langsung mencetaknya", ucap Rahel menyalakan rokoknya.
Susan pun memandang Fatimah, ia menangis dan menciumnya.
"Maafin tante ya, tante janji, cepat atau lambat tante bakal bawa kamu ke bunda Mawar, okey", ucap Susan menciumi Fatimah.
Rahel, Jeri dan Gea pun tertawa.
"Bagus, sekarang kamu kambali ke kamar bersama Fatimah, suapi dia", ucap Rahel memperlakukan Susan seperti bukan sahabatnya lagi.
Mereka pun menyusun rencana lanjutan untuk menghancurkan Mawar.
Kali ini yang berperan penting ialah Gea dalam menculik dan menghancurkan mental Mawar.
Semua pun tertawa dan bergembira dengan rencana yang telah mereka susun.
"Demi uang ....!!", seru ketiganya sambil meneguk minuman keras di gelas mereka masing masing.
__ADS_1