
Sejak hari pembatalan eksekusi.
Rahel terlihat sangat pendiam.
Ia yang sering kali mengeluh akan semua hal di dalam lapas, kini menjadi wanita yang tak banyak bicara.
Bahkan dalam urusan makanan dan kebersihan.
Dia hanya diam tanpa mengeluh sedikitpun.
Sudah 1 tahun berlalu sejak Burhan meninggal.
Kejadian itu mengubah hidup dan pandangan Rahel dalam melihat kehidupan.
Tapi mungkin dosanya sudah terlalu banyak untuk di maafkan.
Penyesalannya mungkin saja sudah terlambat.
Tubuh Rahel terlihat makin kurus hari demi hari.
Ia sering sakit sakitan dan lemas tak bertenaga.
Hari itu Rahel pingsan di dalam sel nya.
Membuat ia dilarikan ke rumah sakit umum di dampingi beberapa polisi yang sedang bertugas.
Dokter nampak serius berbicara dengan pihak kepolisian setelah melakukan serangkaian pemeriksaan dan tes kepada Rahel.
Perlahan Rahel mulai siuman.
Ia merasakan tubuhnya yang terasa sakit dan kepala yang serasa amat berat.
"Aku di mana..??", seru Rahel memandangi seseorang di depannya yang terlihat agak kabur.
"Kamu ada di rumah sakit...!!", seru lelaki di hadapan Rahel yang ternyata adalah seorang dokter.
Perlahan pandangan Rahel mulai nampak jelas, ia tatap sekeliling ruangan rumah sakit.
__ADS_1
"Mungkin aku cuma kecapek.an dok", ucap Rahel berusaha bangun dan melepas jarum infusnya.
"Tenang mbak...!!", ucap dokter itu mencegah tindakan Rahel.
"Aku mau kembali ke sel ku", ucap Rahel bersikeras bahwa dirinya baik baik saja.
"Tunggulah sampai cairan infus itu habis", ucap Dokter berusaha menenangkan Rahel.
Dokter lalu mencoba mengajukan beberapa pertanyaan padanya.
"Maaf sebelumnya, bolehkah saya bertanya..??", seru dokter di hadapannya.
Rahel hanya mengangguk memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
"Apakah mbak sudah menikah...??", tanya dokter itu membuat Rahel heran.
"Sudah, bahkan aku sudah memiliki seorang anak", ucap Rahel mengakui kalau dirinya telah mempunyai seorang anak.
"Apakah mbak pernah berhubungan selain dengan pasangan sah mbak..??", tanya dokter itu membuat Rahel agak emosi.
"Pertanyaan macam apa ini dok..!!, jika dokter mau menghina aku silahkan..!!, gak usah berbelit belit..!!", seru Rahel emosi.
"Apa dok...??, bagaimana mungkin...??", seru Rahel tanpa sadar air matanya pun menetes.
"Dari hasil lab, mbak sudah mengidap penyakit HIV selama kurang lebih 1,5 tahun ini, dan menurut pengamatan saya, penyakit mbak baru pertama kali ini memunculkan gejala", ucap dokter itu menjelaskan.
"Bagaimana mungkin...!!!", seru Rahel lalu mengingat kejadian waktu dirinya di perkosa ramai ramai saat pulang dari bekerja waktu itu.
Tangisan Rahel pun pecah, ia mulai histeris.
"Apa lagi ini..!!", seru Rahel mencoba membersihkan seluruh badannya, ia merasa jijik dengan dirinya sendiri.
"Sabar mbak, saya akan memberi obat khusus HIV untuk mbak konsumsi setiap hari", ucap dokter menenangkan Rahel dan keluar dari ruangan Rahel, meninggalkan Rahel yang terus menangis meratapi nasibnya.
Karna Rahel telah dinyatakan positif HIV, akhirnya dia di pindahkan ke tempat rehabilitasi dan penampungan untuk para penderita seperti dirinya dengan tetap dalam pantauan polisi.
Rahel terlihat seperti orang depresi.
__ADS_1
Hari harinya selalu ia habiskan duduk termenung di taman saat pagi hingga sore hari menjelang.
Tanpa mau berbicara atau mengobrol dengan siapapun.
Bahkan ia akan menjadi histeris dan terus menangis saat ada penghuni tempat rehabilitasi yang meninggal akhibat mengidap penyakit yang sama dengannya.
Lambat laun kesadarannya akan identitasnya makin hilang, bahkan ia memanggil dirinya bukan Rahel lagi, tetapi wanita menjijikkan.
"Wanita menjijikkan..!!, kamu cantik sekali..!!", seru Rahel berbicara dengan dirinya sendiri, bahkan yang melihatnya pun pasti beranggapan bahwa dia telah gila.
Semakin hari tingkahnya sudah seperti orang gila.
Mondar mandir kesana kemari tanpa henti.
Terkadang menangis, bergaya bak artis, atau bernyanyi dan berjoget seakan ia saat berada di diskotik.
Rumah rehabilitasi pun memindahkan Rahel ke rumah sakit jiwa.
Dengan tempat khusus yang terpisah dari orang sakit jiwa lainnya yang sehat, dalam arti tidak terindikasi HIV.
Saat Rahel dipindahkan.
Bu Dara berpapasan dengan Rahel di gerbang penyekat antara yang sehat dan yang sakit.
Bu Dara dan Rahel cukup lama saling berpandangan.
"Kamu...!!", seru Bu Dara menunjuk Rahel.
Rahel mendekatinya dan melihatnya dari atas sampai kebawah.
"Kamu cantik...!!", seru Bu Dara lalu tertawa dengan keras.
Rahel pun kemudian ikut tertawa di buatnya.
"Kenalkan..!!, namaku wanita menjijikkan", seru Rahel bertepuk tangan dan bergembira.
"Aku orang kaya", seru bu Dara menari nari menjauh dari Rahel.
__ADS_1
Karna masalah dunia, ibu dan anak menjadi tak saling kenal.
Mereka menjadi depresi karna masalah mereka masing masing.