
Hari ini Rahel berencana membuat perhitungan dengan Jeri.
Jeri harus bisa memberi solusi atas masalah yang ia timbulkan.
Rahel tak mau kehilangan kesempatan emas menjadi menantu keluarga Bram.
Tak butuh banyak tenaga untuk mencari Jeri.
Rahel sudah sangat mengenal Jeri.
Kapan waktunya Jeri bekerja dan kapan waktunya ia have fun.
Rahel memarkirkan mobilnya di halaman rumah Jeri.
Ia bergegas menemui Jeri, ia tak mau dibuat pusing sendiri oleh masalah ini.
"Terkunci sih..!!", seru Rahel segera mencari duplikat kunci yang Jeri sembunyikan untuk Rahel di luar rumah sewaktu waktu Rahel singgah kerumah Jeri dan tak ada ia dirumah.
"Nahh, ini dia...", ucap Rahel mengecup kunci itu dan segera membuka pintu rumah Jeri.
"Jeri ....!!!, Jer....!!", teriak Rahel ketika telah berhasil membuka pintu rumah.
Rahel mencari kesekeliling, tapi Jeri tak ada.
"Jangan jangan...!!", ucap Rahel segera bergegas ke lantai dua menuju kamar Jeri.
Saat Rahel sampai di depan kamar Jeri, langkahnya terhenti.
"Suara....??, sama siapa dia..??", ucap Rahel langsung membuka pintu kamar Jeri.
Rahel terkejut melihat Jeri yang sedang asyik bercumbu dengan seorang wanita.
"Lelaki brengsek...!!!, siapa dia..??", seru Rahel mendekati mereka.
Jeri yang melihat Rahel marah malah terlihat santai dan memeluk wanita di sampingnya.
Wajah wanita itu seketika berubah yang awalnya ketakutan akhirnya tersenyum santai melihat Jeri yang tak ada masalah dengan kedatangan Rahel.
"Sayang, kamu keluar dulu ya, aku mau ngobrol sama pacar aku dulu, okey..", ucap Jeri mengecup tangan wanita disampingnya.
"Okey.....", ucap wanita itu keluar kamar sambil berlalu melewati Rahel yang semakin marah mendengar percakapan mereka.
"Jadi gini ya kelakuan kamu...??", ucap Rahel Marah.
__ADS_1
"Wow, wow santai sayang, kan kamu yang bilang sendiri, hubungan kita itu cuma buat have fun aja", ucap Jeri mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.
"Tapi gak harus disituasi kayak gini juga dong...!!, kamu aku telfon dari kemarin gak bisa juga, kamu mentingin bercumbu sama wanita yang gak ada apa apanya itu dibanding aku..!!", seru Rahel duduk di tepi ranjang mencoba mengontrol amarahnya.
"Situasi..??, situasi apa sayang...??", ucap Jeri mendekati Rahel, berusaha memeluk Rahel dari belakang.
"Aku hamil..!!", seru Rahel dengan sangat jelas, hingga membuat Jeri tersedak asap rokoknya.
"What..??, gak mungkin...!", seru Jeri menepis kenyataan itu.
"Helllooo Lelaki sok pintar...!!!, ini juga gara gara kebodohan kamu tau gak..!!, coba kamu pakek otak kamu waktu itu...", seru Rahel kembali berdiri dan berkacak pinggang di hadapan Jeri yang masih kaget dengan kabar itu.
"Mungkin itu bukan sama aku kali...", ucap Jeri melindungi dirinya.
"Heh, aku akui memang aku tidur gak sama kamu aja ya, tapi aku gak kayak kamu..!!, pacarku sekarang siapa ya itu yang akan tidur sama aku, bukannya ganti ganti tiap hari kayak kamu", seru Rahel.
"Oke, okey, trus mau kamu apa..??, kita nikah..??", ucap Jeri tak tau lagi harus apa.
"Mana sudi aku nikah sama kamu..!!", seru Rahel memalingkan wajahnya dari hadapan Jeri.
Jeri sedikit lega mendengar perkataan Rahel, seenggaknya dia gak dituntut untuk nikah sama Rahel, jadi dia bisa have fun tiap hari dengan para wanita.
"Aku gak mau ya janin ini..!!", ucap Rahel kembali menghadap Jeri.
"Trus...??", tanya Rahel meminta solusi dari masalah mereka secepatnya.
"Aborsi aja", ucap Jeri dengan santainya.
"Aborsi..??", ucap Rahel memikirkan solusi dari Jeri.
"Gimana..??, ya itu satu satunya solusi buat kita", ucap jeri membujuk Rahel agar mau mengikuti sarannya.
Rahel pun memikirkan kembali rencana pertunangannya yang sudah di depan mata.
Tanpa pikir panjang, ia pun setuju dengan rencana Jeri.
"Oke, aku tunggu kamu diluar, kita lakukan sekarang", ucap Rahel keluar dari kamar Jeri.
"Siap", ucap Jeri bangkit dari ranjang dan bersiap menemani Rahel.
Mobil Rahel melaju mengikuti arahan dari Jeri.
"Kamu yakin ini jalannya...??", tanya Rahel fokus melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Bener, info dari temenku gak bakal salah deh", ucap Jeri yakin.
Saat di perjalanan, tiba tiba ada keranda mayat yang sedang diusung ke pemakaman umum, membuat laju mobil Rahel harus terhenti.
Rahel membuka kaca jendela mobilnya dan tak sengaja mendengar pelayat yang mengiring keranda itu sedang bergosip.
"Ihh ngeri banget ya, mati gara gara pendarahan setelah gugurin kandungannya secara paksa", ucap seorang pelayat bergosip dengan temannya.
Rahel yang penasaran akhirnya menghentikan langkah mereka.
"Ehh bentar bentar buk, tadi ibuk bilang apa..??" ucap Rahel ingin tau kabar itu dengan lengkapnya.
"Itu lhoo neng, orang yang meninggal itu, dia seorang gadis, meninggalnya akibat berusaha gugurin kandungan dari hasil hubungan gelapnya, ihh ngeri neng, saat di temuin dia udah jadi mayat, dan rahimnya tertarik keluar dari badannya", terang wanita itu.
"Iyaa neng, hati hati kalau bergaul sekarang neng, jangan sampai kayak gitu, dulu tetangga saya gak sampek meninggal sih, tapi kasusnya sama, gugurin kandungannya, eh rusak deh tuh rahim, gak bisa hamil lagi dia", ucap seorang wanita yang lain.
Wajah Rahel seketika berubah menjadi pucat.
Ia tak mau nasibnya berakhir di liang lahat, atau berakhir tak akan memiliki keturunan lagi.
"Ya sudah neng kami permisi dulu", ucap wanita itu melanjutkan perjalanannya.
Rahel yang masih syok dan ketakutan, kemudian masuk ke mobilnya dan terdiam sejenak.
"Kamu kenapa sayang..??", ucap Jeri heran.
Rahel memutar balik mobilnya tanpa berkata sepatah katapun.
"Hey, kenapa kita balik lagi sih..!!, kamu kenapa..??", seru Jeri kebingungan.
Dalam perjalanan Rahel hanya diam, ia tak menghiraukan Jeri sama sekali.
Capek bertanya tak ada jawaban, Jeri pun diam sampai mobil Rahel berhenti di gerbang rumah Jeri.
"Aku turun nih..??", ucap Jeri heran dengan tingkah Rahel.
"Ya, aku juga mau balik", ucap Rahel.
"Trus masalah janin itu..??", ucap Jeri penasaran.
"Biar janin ini urusan aku, jika aku butuh bantuan kamu, aku bakal hubungi kamu", ucap Rahel melajukan mobilnya menjauh dari rumah Jeri.
Rahel memukul mukul stir mobil, ia tak tahu rencananya kedepan.
__ADS_1
"Janin sialan..!!", seru Rahel dengan terus mengemudikan mobilnya.