Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Aku tak melakukannya...!!


__ADS_3

Pagi itu Burhan merasakan dadanya yang mendadak sakit yang teramat hebat.


Dengan susah payah ia meraih obat yang ia sembunyikan di bawah tempat tidur.


"Uhhukkk....!!", Burhan terbatuk batuk dan keluar darah dari mulutnya.


Seketika ia langsung membersihkannya dan menyembunyikan bekasnya.


"Mas sarapan udah siap...!!", seru Mawar masuk ke kamar bersama Aqly dan Fatimah.


Burhan berusaha tersenyum dan menguatkan tubuhnya di depan Mawar.


Merasa ada yang aneh dengan suaminya, Mawar mengecek kening dan badannya.


"Mas..??, kamu sering banget berkeringat dingin ya..??, kamu sakit..??", seru Mawar mengamati perubahan suaminya yang terlihat agak kurus.


"Enggak kok, ya kan Fatimah..!!", seru Burhan menggendong Fatimah di pangkuannya.


"Iya dong yah, ayah kan ayah terkuat sedunia", ucap Fatimah membuat Mawar melupakan kekhawatirannya.


"Ayo kita sarapan..!!", seru Burhan sambil berlari bersama Fatimah ke arah meja makan.


Tiba tiba Telfonnya berdering.


"Siapa mas..??", ucap Mawar menyiapkan piring di meja makan.


"Malik..", ucap Burhan langsung mengangkat telfonnya dan terlihat raut wajahnya berubah menjadi tegang dengan tatapan khawatir menatap Mawar.


"Kenapa mas..??", seru Mawar mendekat ke arah Burhan.


"Iya, aku akan segera kesana..!!", seru Burhan menutup telfonnya.


"Apakah ia sudah diketemukan..??", tanya Mawar hanya menebak.


Burhan pun mengangguk dan memegang kedua pundak Mawar.


"Kamu jaga anak anak ya, aku akan menyusul Malik", ucap Burhan bergegas menuju mobilnya.


"Tapi mas...??, aku takut kamu kenapa napa...!!", seru Malik mencegah suaminya untuk pergi.


"Aku akan baik baik saja, ingat itu..!!", ucap Burhan mengecup kening Mawar dan bergegas pergi menemui dokter Malik.


Beberapa saat kemudian.


Mobil Burhan telah sampai di tepi hutan, terlihat mobil dokter Malik sudah ada di sana bersama dengan beberapa mobil polisi.


"Dimana dia Malik..??", seru Burhan mendekati dokter Malik.


"Dia ada di dalam rumah kosong itu, polisi masih melakukan negosiasi dengannya, karna dia berhasil mengambil sebuah pistol polisi saat kami hampir menangkapnya di jalan tadi", ucap Dokter Malik mengamati rumah kosong itu dari kejauhan.


"Dia sangat berbahaya, apa tidak sebaiknya kita lumpuhkan dengan asap atau apa gitu", ucap Burhan.


"Polisi masih belum memutuskan sejauh itu, pasalnya tidak ada sandera atau terbilang ancaman mereka pun hanya ada satu", ucap dokter Malik.


Pandangan dokter Malik seketika melihat ke arah wajah Burhan.


"Kamu tak apa apa ..??, apa gejalanya semakin parah ..??", seru dokter Malik khawatir.


"Tidak..!!, aku tak apa apa", ucap Burhan menyembunyikan keadaannya.


"Jika pasien lain, kamu sudah aku suruh berbaring di ranjang rumah sakit", ucap dokter Malik memeriksa kening Burhan.


"Ah bosan, menghabiskan waktu dengan keluarga itu jauh lebih membahagiakan", ucap Burhan membuat dokter Malik iri.


"Ya sudah, aku ke mobil dulu", seru dokter Malik berjalan meninggalkan Burhan.


Karna lelah menunggu.


Burhan pun mengendap ngendap mencari celah masuk ke dalam rumah kosong yang tak di jangkau polisi.


Ada sebuah pintu bawah tanah yang menuju ke area tengah rumah itu.


"Apa polisi tak mengetahui ini..??", seru Burhan langsung masuk kedalam pintu itu.


Ia mengendap ngendap sampai akhirnya berada di belakang Rahel.


Rahel yang mendengar sebuah pergerakan langsung berbalik arah dan menodongkan senjatanya.

__ADS_1


"Burhan...!!, kenapa kamu bisa sampai ke sini..??", seru Rahel ketakutan.


Burhan mengangkat tangannya dan mencoba berbicara baik baik dengan Rahel.


"Tenang Hel, kami tak akan melukaimu, kami hanya akan membawamu ke lapas", ucap Burhan mencoba mendekati Rahel.


"Jangan mendekat..!!, emang aku wanita bod*h apa..!!, kehidupan lapas itu sangat menjijikkan, bahkan makan pun aku tak bisa, aku ingin hidup bebas..!!", seru Rahel menembakkan senjatanya ke arah atap.


Membuat suara tembakan terdengar sampai ke luar dan sampai ke telinga Dokter Malik.


Ia segera berlari menuju rumah kosong itu.


"Ada apa ini letnan..??", seru dokter Malik.


"Ada seorang lelaki yang masuk ke dalam rumah itu, dan ia sepertinya sedang berdebat dengan tahanan", seru letnan itu merasa khawatir.


Dokter Malik terkejut dan berfikir pasti itu adalah Burhan.


Sementara di kediaman Mawar, ia sangat gelisah mondar mandir di depan rumah menunggu kedatangan suaminya.


"Ya Allah mas..!!, kenapa perasaanku tak enak", seru Mawar terus mencoba menghubungi Burhan.


Tiba tiba Vas bunga disampingnya di jatuhkan oleh hembusan angin kencang.


Pyar....!!!...


"Astagfirullah..!!", seru Mawar meneteskan air mata.


Dan rasa khawatirnya pun terus bertambah.


Kemudian ia berfikir untuk menelfon dokter Malik.


Tapi ternyata ponsel dokter Malik pun lowbat.


"Ya Allah..!!", seru Mawar makin gelisah.


Tiba tiba ia teringat alat pelacak di mobil miliknya dan milik sang suami.


"Semoga berhasil", ucap Mawar mengecek alat itu dari ponselnya.


Wajah Mawar pun sumringah saat tau posisi mobil milik Burhan.


Dengan perasaan kacau balau Mawar terus melajukan mobilnya.


Ia menangis sepanjang jalan hingga sampai di tempat tujuan.


Sementara di dalam rumah kosong, Burhan dan Rahel terus terlibat pembicaraan yang tidak ada akhir damai.


"Kau tau Burhan..!!, aku bisa saja melenyapkanmu menggunakan pistol ini, tapi mungkin melenyapkanmu di depan Mawar itu lebih membahagiakan bagiku", seru Rahel tertawa bak orang gila.


"Hentikan Hel..!!, jangan hidup seperti ini", ucao Burhan mencoba kembali mendekati Rahel yang nampak lengah.


"Apa kamu bilang...!!, setelah semua yang terjadi..??, aku telah kehilangan semuanya, bahkan mungkin harga diriku sebagai perempuan telah musnah..!!", teriak Rahel dengan terus menodongkan pistolnya ke arah Burhan.


"Apa sebenarnya yang kamu inginkan Hel..??, apakah kamu tak mendambakan cinta suami dan anakmu..??", seru Burhan membuat Rahel terdiam, seakan sisi lain dari Rahel agak melunak.


Melihat kesempatan itu, Burhan mencoba merebut pistol dari tangan Rahel.


Terjadi perebutan sengit antara keduanya.


Hingga akhirnya pistol itu berhasil di ambil oleh Burhan.


Rahel perlahan mundur dari tubuh Burhan.


"Sekarang menyerahlah", ucap Burhan kewalahan.


Rahel hanya terdiam, ia takut Burhan nekat menembakkan pistol itu ke dirinya.


Tak di duga.


Tiba tiba Burhan memegangi dadanya.


Seakan ia merasa kesakitan saat itu.


Ia mengerang dan mengerang.


Ia terbatuk dan memuntahkan darah.

__ADS_1


Membuat Rahel meringkuk takut di sisi pojok ruangan.


Rahel melihat tubuh Burhan kejang dan menjerit.


Rahel pun reflek ikut menjerit karna ketakutan melihat apa yang ada di depannya.


Saat itu Mawar telah tiba di sana dan mendengar semuanya.


"Ya Allah pak..!!, dokter..!!, tolong dobrak pintunya...!!", seru Mawar histeris.


Kemudian Dokter Malik dan para petugas polisi mencoba mendobrak pintu itu dan mereka terkejut melihat pemandangan di dalam rumah kosong itu.


Terlebih untuk Mawar.


"Mas Burhan...!!", teriak Mawar mendekap tubuh Burhan yang lemas terkapar di lantai.


"Ma, ma...Mawar, istriku..!!", seru Burhan mencoba tersenyum untuk yang terakhir di depan istrinya.


Dokter Malik yang melihat kondisi Burhan, hanya bisa mematung dan menangis.


Sebagai dokter, ia juga sudah telah berusaha.


Tapi hidup dan mati itu urusan Allah.


Mawar terus menangis histeris mendekap suaminya.


"Malik...!!, tooo,, tolong jaga Mawar, berjanjilah.


!!", seru Burhan terbata bata.


"Mas..!!, jangan tinggalkan aku dan anak anak, aku tak sanggup, dengan siapa lagi aku harus mengadu mas..!!", seru Mawar terus menangis tiada henti.


"Mawar istriku yang kuat, aku titip anak anak, bersatulah dengan Malik agar ada yang bisa menjaga kalian", ucap Burhan kembali memuntahkan darah dan perlahan menutup matanya.


"Mas....!!!!", teriak Mawar menggema di seluruh hutan.


Rahel yang melihat kejadian itu malah merasakan bahwa ia telah melihat gambaran kesedihannya saat ia menyaksikan jasad pak Yahya yang terbaring kaku di depannya waktu itu.


Bukannya senang karna Burhan telah meninggal sesuai keinginannya, nyatanya Rahel malah bersedih tanpa alasan.


Mawar pun menatap tajam ke arah Rahel yang telah di borgol polisi sembari memeluk jasad suaminya.


"Pembunuh...!!, siapa lagi yang akan kau bunuh..!!, belum puaskah kamu menghancurkan hidupku...!!", teriak Mawar marah.


"A, aaaa, aku tak melakukannya...!!, aku tak membunuhnya..!!", ucap Rahel ketakutan.


"Bohong...!!, kamu memang wanita tak punya hati..!!", seru Mawar berdiri dari duduknya dan menghampiri Rahel.


"Aku memang telah melenyapkan ibumu, tapi aku tak melenyapkan suamimu..!!", seru Rahel terus membela diri.


"Mawar tenang...!!, sebenarnya", ucap dokter Malik di hentikan oleh Mawar.


"Apa dokter..??, kamu mau membela istrimu...!!, dan kau Rahel..!!, apa yang sebenarnya kamu inginkan...!!", teriak Mawar histeris dan terduduk di lantai memandang jasad suaminya.


"Aku sudah hancur, hidupku telah mati", seru Mawar tersedu sedu.


"Bukan aku", ucap Rahel lirih.


"Aku sudah tak punya siapa siapa lagi", seru Mawar menangis histeris.


Setalah beberapa saat.


Setelah kondisi bisa di atasi dan sedikit mereda.


Dokter Malik menenangkan Mawar dan membawa jasad Burhan ke rumah sakit untuk di autopsi.


Mawar terlihat sadar namun terlihat bak kehilangan jiwanya.


Ia berjalan memasuki ambulan tanpa sepatah kata pun.


Saat ia berpapasan dengan Rahel yang akan di ringkus ke kepolisian.


Mawar menatap tajam ke arahnya.


"Pastikan ia dihukum mati pak...!!", seru Mawar berlalu dari hadapan Rahel.


Rahel tanpa bicara terlihat pasrah digelandang ke kepolisian.

__ADS_1


Disepanjang jalan ia hanya berkata.


"Aku tak melakukannya".


__ADS_2