
"Di- dia suami ku kek," ucap Fatimah terbata bata, pasal nya ucapan nya itu mungkin akan membuat guncangan besar pada diri sang kakek Bram setelah melihat reaksi awal nya saat bertemu dengan Bos besar di malam itu.
Tebakan Fatimah nyata nya tak meleset sedikitpun.
Kakek Bram langsung terlihat begitu terkejut hingga membuat tubuh nya mematung cukup lama dengan pandangan mata yang tak berkedip sedikitpun menatap Fatimah.
"Kek, kami sudah menikah di hadapan agama dan hukum, berikan restu kakek pada kami, itu juga salah satu alasan ku datang kemari," ucap Fatimah semakin membuat kakek Bram begitu bingung harus bereaksi bagaimana lagi di hadapan sang cucu.
Kaki nya perlahan melemas dan ia harus segera menopang tubuh nya di salah satu tiang rumah tepat di samping nya agar tak jatuh saat itu juga.
Apa yang dia tau?, batin Bos besar di buat penasaran dengan reaksi tak biasa sang kakek istri nya itu.
...***...
__ADS_1
Sudah cukup lama mereka berdiam diri membisu di antara satu sama lain.
Perlahan, kakek Bram mulai bereaksi kembali dan berjalan pelan ke arah Fatimah.
"Kakek begitu menyayangi mu, kau tahu itu bukan?," ucap sang kakek sembari memegang kedua bahu sang cucu.
Menjawab pertanyaan itu, hanya sebuah anggukan kecil yang di tunjukkan Fatimah saat itu, ia begitu bingung akan semua yang terjadi pada sang kakek saat ia memperkenalkan sosok Bos besar pada nya.
"Bahkan melebihi kepedulian dan cinta kakek pada Aqly, kau juga tahu itu bukan?," ucap sang kakek semakin membuat hati Fatimah begitu gusar.
"Aku sudah sangat tahu bahwa kakek begitu sayang pada ku melebihi nyawa kakek sendiri," seru Fatimah perlahan mencoba mengusap air mata yang tak sengaja menetes di pipi sang kakek.
"Kalau begitu akhiri hubungan mu dengan dia!," seru sang kakek begitu membuat Fatimah sekaligus Bos besar begitu syok saat mendengar nya.
__ADS_1
"Kenapa kek?, apa alasan nya?, coba jelaskan pada Fatimah?," seru Fatimah begitu bingung dengan semua perintah dan ucapan sang kakek saat itu.
"Kau pasti sudah tahu alasan nya kan Fatimah?, hanya saja kau mencoba menutupi nya dari dunia, ku rasa ayah dan bunda mu juga belum tahu akan jati diri lelaki ini sebenar nya," ucap kakek Bram membuat Fatimah lemas seketika.
Sejenak hanya diam yang bisa Fatimah tunjukkan, ia begitu tak bisa berkata apapun lagi di hadapan sang kakek yang kemungkinan besar telah mengetahui masa kelam dari kehidupan Bos besar sebelum nya.
"Kakek akan urus perceraian kalian," seru sang kakek tetap bersikeras memisahkan mereka.
"Allah saja begitu membenci perceraian kek," ucap Fatimah mencoba menyeka air mata nya sendiri sembari berjalan mendekat ke arah sang suami.
Ia nampak menggenggam erat pegangan kursi roda milik sang suami hanya untuk menguatkan diri nya di situasi saat itu.
"Kakek gak peduli!, yang kakek pedulikan hanya cucu kakek tidak boleh bersanding dengan lelaki bejat seperti dia!, bahkan di kondisi nya kini yang seakan sudah terkena azab dunia seperti itu," keluh sang kakek tetap bersikeras dengan keinginan nya.
__ADS_1
Tolong jangan lakukan hal itu tuan, batin Bos besar begitu tak sanggup saat membayangkan jika diri nya harus dipisahkan dari Fatimah.
Di banyak kehidupan pun, aku tidak akan menemukan perempuan sebaik dan setulus Fatimah lagi, batin Bos besar namun tak bisa berbuat apa apa dengan kondisi nya saat itu.