
Keesokan hari nya.
Mira yang sudah terbiasa berdiskusi apapun dengan Aqly selama ini seketika bergegas mencari keberadaan Aqly setelah mendapat tugas teka teki dari Bos besar.
"Kemana dia?, kenapa dia selalu hilang saat aku mencari nya," keluh Mira terus memeriksa setiap tempat yang sering Aqly datangi.
Namun setiap tempat di dalam rumah ternyata hasil nya nihil.
"Halaman belakang!,"
Seru Mira segera bergegas menuju tempat terakhir Aqly biasa berada.
-----##--
"Aku heran, kenapa dia suka sekali berada di halaman belakang," ucap Mira tanpa ragu berjalan ke arah Aqly setelah berminggu minggu lama nya ia sedikit menjaga jarak dengan nya.
Semenjak Aqly mengajak nya untuk menikah, baru kali ini Mira mau menemui nya kembali.
"Ku harap ia lupa akan niat nya hari itu," ucap Mira begitu berharap Aqly tidak mengungkit masalah itu lagi.
Karna sedikitpun, Mira tak mau memikirkan tentang sebuah pernikahan.
"Hei!, bisa kah kita bicara sebentar?," sapa Mira sedikit canggung.
Seketika tatapan Aqly begitu tajam ke arah nya.
Sembari melempar sapu yang sedari tadi ada di genggaman nya, Aqly perlahan mendekat ke arah Mira, semakin dekat hingga hampir tak ada jarak di antara ke dua nya.
"Apa kau sudah lupa dengan nama ku,?, hem," ucap Aqly begitu tajam menatap mata Mira yang begitu gugup saat itu.
"Ma- af Aqly, aku kesini ingin menyampaikan tugas dari Bos besar," sahut Mira tanpa berani memandang balik Aqly yang kini sudah kembali sibuk dengan tugas nya.
"Kau tidak lihat aku sedang apa?, dan aku yakin itu tugas untuk mu, bukan untuk ku," ketus Aqly terus membersihkan halaman belakang yang entah kenapa terlihat begitu kotor hari itu.
__ADS_1
"Apa apa an ini!, pasti kau kan yang membuang sampah di sini!," seru Mira langsung melupakan permintaan maaf nya kepada Aqly setelah sadar dengan sampah sampah yang berserakan di sana.
"Kau bergurau?, aku yang membuang bungkus bungkus ini?, kau lah yang malas memasak dan memilih membeli makanan resto secara diam diam, dasar licik!," seru Aqly seketika membuat Mira tercengang.
Dengan cepat Mira segera memungut satu bungkus makanan yang kondisi nya sudah setengah terbakar.
Ia begitu mengenal desain bungkus itu lebih dari siapapun di rumah itu, termasuk Fatimah sekalipun.
"Kenapa wajah mu jadi pucat begitu?, apa kau takut aku laporkan semua ini pada kak Fatimah?", ancam Aqly tak sedikitpun di respon oleh Mira.
Tanpa berucap apapun, Mira segera menarik Aqly menuju mobil dan bergegas pergi meninggalkan rumah.
Mau kemana mereka?, batin Rani menatap kepergian mereka dari balik jendela.
"Sayang sekali mereka akan melewatkan kabar besar sebentar lagi,".
---###---
"Ada satu hal yang harus kita cari tahu Aqly," ucap Mira mencoba menjelaskan satu perintah dari Bos besar pagi itu.
"Bos terlalu paranoid, sebaik nya kita pulang, aku mengantuk," sahut Aqly sama sekali tak tertarik dengan penjelasan dari Mira.
"Tidak!, kau harus ikut dengan ku!," paksa Mira sembari menarik Aqly secara paksa masuk ke dalam resto.
"Apa ada yang bisa kami bantu?," sapa seorang pelayan resto setiba nya mereka di meja pelayanan.
"Gak perlu!, kita juga udah mau cabut kok!," ketus Aqly namun tiba tiba Mira dengan cepat meraih satu tangan Aqly dan mendekap nya erat bak sepasang kekasih.
Seketika hal itu membuat Aqly terdiam, hati nya bergejolak, rasa itu kembali muncul tanpa di minta oleh nya.
"Kami mau tanya mbak, apa kemarin ada delivery order ke alamat ini?," tanya Mira sembari menyodorkan sebuah kartu nama.
Para pelayan Resto nampak mencoba mengingat ingat alamat itu.
__ADS_1
Mereka juga tak keberatan mengecek ke dalam riwayat pesanan dan memanggil kurir mereka yang bertugas hari itu.
"Benar mbak, saya kemarin mengantar hampir 15 kotak makanan ke tempat ini," ucap sang kurir membuat Aqly dan Mira saling bertatapan heran.
"Tapi kak Ummar tidak memesan apapun," sahut Aqly mulai ikut penasaran dengan teka teki itu.
"Ummar?, bukan bukan. Pesanan ini di lakukan oleh seorang perempuan," ucap sang kurir membuat Mira tercengang dan langsung mengingat ingat masakan yang kemarin di hidangkan oleh Rani.
"Bagaimana ini Mira?," tanya Aqly saat Mira tak merespon penjelasan dari para pegawai di sana.
--###-
"Kenapa dia bisa memilih resto ini?, kenapa dia berbohong pada kita?," ucap Mira pada diri nya sendiri.
"Apa yang kau maksud Rani?, wanita asing yang dengan sok nya kau bawa masuk ke rumah," keluh Aqly mulai menyalakan Mira saat kemungkinan besar Rani bukanlah wanita baik baik seperti yang terlihat.
"Aqly!, kita harus segera pulang!, perasaan ku tak enak, tidak ada yang tahu tentang resto ini kecuali...," seru Mira begitu terlihat khawatir.
Aqly segera memacu mobil dengan cepat sedangkan Mira berusaha menghubungi Bos besar.
Namun tidak biasa nya Bos besar mengabaikan panggilan telfon nya, terlebih dari Mira.
"Kenapa perasaan ku jadi semakin tak enak?," ucap Mira sembari beralih menelfon Fatimah untuk memberi nya peringatan di awal.
Namun berulang kali pun Fatimah juga tidak menjawab panggilan telfon nya.
"Tia?," ucap Mira saat panggilan masuk bertuliskan nama Tia muncul di ponsel nya.
"Tia, maaf, aku sedang sibuk sekarang, bisa kita bicara nanti," ucap Mira seketika saat mengangkat panggilan telfon dari Tia.
Namun wajah nya mulai berubah pucat saat mendengar penuturan dari Tia dari perbincangan mereka saat itu.
"Apa kau yakin?, Rea buronan?," sahut Mira membuat Aqly langsung mengerem mobil nya secara spontan.
__ADS_1