
Lely yang masih dengan kondisi serba berantakan, dengan mata yang masih sayu, beranjak dari ranjang nya dan mencoba berjalan keluar dari kamar.
Ia tergoda saat sebuah aroma kuat menyeruak indra penciuman nya.
"Lel!, ih jorok banget sih, belum mandi kamu ya!," keluh Rea saat berpapasan dengan lely.
"Stt!, berisik ah, kamu cium gak bau ini?," ucap lely terus mencari sumber aroma yang menggoda nya.
"Bau kamu?," sahut Rea dengan enteng nya.
"Enak aja tuh mulut!, dasar!," seru lely bergegas mencari sumber aroma itu lagi.
"Eh, ikut dong!," seru Rea membuntut di belakang lely.
"Kalian ngapain?," tanya Mira heran saat berpapasan dengan mereka saat akan menuju dapur.
"Kamu lagi masak Mir?, tumben?," tanya lely heran.
"Masak?, sejak kapan aku masak, kan udah ada chef Roki di belakang," sahut Mira menatap aneh kedua wanita di hadapan nya.
"Tapi chef cuti hari ini" keluh Lely penasaran.
"Mungkin Bos udah pesen catering buat kita" sahut Mira berjalan menuju meja makan.
Dengan sigap Lely dan Rea segera berlari mendahului Mira.
Mereka begitu tercengang saat banyak hidangan sudah siap di meja makan.
"Wih!, tumben bos baik banget," seru Rea bersiap untuk menyantap sarapan nya.
"Kalian udah bangun?," seru Fatimah tiba tiba keluar dari arah dapur dengan membawa semangkuk masakan nya yang terakhir.
"Fatimah?, jadi ini semua?," seru Mira terkejut, terlebih Lely dan juga Rea.
Rea langsung mengurungkan niat nya dan segera beranjak dari kursi.
Sedangkan Lely, terus saja menatap tak suka ke arah Fatimah.
Perlahan Rea mendekati Fatimah hingga membuat nya sedikit risau.
"Kenapa mbak?, ada yang salah?," tanya Fatimah tanpa berani menatap Rea.
"Kamu masak?, mau cari perhatian Bos?, atau kamu mau memperbaiki malam pertama mu yang gagal!," bisik Rea.
__ADS_1
"Maaf mbak, saya hanya memasak, kebetulan kata mang asep chef hari ini cuti," sahut Fatimah membuat Lely tertawa.
"Alah!, gak usah kebanyakan ngeles deh, kamu gak akan bisa dapetin Bos besar cuma dengan masak makanan murahan kayak gini," ketus Lely sembari menarik kerudung Fatimah.
"Sakit mbak," rintih Fatimah tanpa dihiraukan oleh Lely.
"Hentikan Lel!," seru Mira mencoba menepis tangan Lely dari kerudung Fatimah.
"Diam kamu!, berani ikut campur aku patahin tangan mu ini!. Rea, pegang dia!," seru Lely membuat Rea dengan sigap segera menjerat kedua tangan Mira.
"Bagaimanapun kamu berusaha, Bos gak akan lirik kamu, apa lagi buat nidurin wanita macam kamu, paham!," sentak Lely dengan angkuh nya.
"Selera bos itu tinggi, kamu gak usah ngimpi deh!, aku kasih tau ya, bos nikahin kamu itu hanya sebatas permainan," seru Rea dengan senyum licik nya.
"Yap!, mungkin esok hari, kamu akan ditawarkan lagi kepada tuan Darji, kamu ingat dia bukan?," seru Lely tertawa dengan puas nya.
"Tapi bagaimana pun aku ini istri nya, meskipun kalian bilang bos tak akan sudi menyentuh ku, itu belum sepenuh nya benar," sahut Fatimah membuat tawa Rea dan Lely terhenti.
"Diam Fatimah!, jangan bicara lagi," seru Mira mengingatkan.
"Kenapa Mira?, aku benar bukan?, siapa mereka berani berpendapat tentang pernikahan ku?," seru Fatimah mencoba tak gemetar saat mengatakan nya.
"Apa kamu bilang?, hah!," sentak Lely tak terima.
"Siapa kami?, kamu bilang siapa kami!. Aku kasih tau ya, kami ini lebih tau dan mengenal bos besar dari pada kamu, jadi jangan sok dan blagu di depan kami!," bisik Lely semakin kencang menarik kerudung serta rambut Fatimah.
"Lepaskan mbak!," keluh Fatimah terus mempertahankan kerudung nya.
"Kami di sini, bertahun tahun hidup bersama bos besar, tapi bos tak pernah menyentuh kami dan memuaskan kami sekalipun, bagaimana mungkin bos bisa takluk pada wanita tak berwajah seperti mu yang baru dikenal nya dalam hitungan hari," bisik Lely membuat Fatimah tercengang.
Sejenak, Fatimah mencoba mengartikan semua ucapan dari Lely.
Bahkan ucapan Lely selanjut nya tak ia dengar lagi.
Fatimah terlalu larut dalam pemikiran nya sendiri.
Dia tak pernah tidur dengan wanita wanita nya?, bagaimana mungkin?, apa yang mereka ucapkan benar?, batin Fatimah mencoba menerka kebenaran dari fakta baru yang baru saja di ucapkan Lely pada nya.
"Hei!, aku sedang bicara padamu!," sentak Lely semakin marah saat diri nya tak di dengarkan.
"A-aku hanya berusaha menjalankan kewajiban ku, tak lebih, jika kalian mau makanlah masakan ku, jika tidak setidak nya biarkan aku melakukan tugas ku sebagai istri bos kalian," ucap Fatimah mencoba menepis tangan Lely dari kerudung nya.
"Berani nya!," sentak Lely sudah bersiap mengangkat tangan nya.
__ADS_1
"Lepaskan dia Lel!, lepaskan istri ku itu!," seru Bos besar membuat Lely dan yang lain nya begitu terkejut mendengar nya.
"A-apa yang bos katakan barusan?," seru Rea tak menyangka pada apa yang baru saja ia dengar.
"Dia begitu bangga menjadi istri ku, biarkan saja, kita lihat bagaimana dia akan menjadi istri yang baik untuk suami nya. Rea!, panggil semua orang dan ajak mereka makan bersama sekarang, kita hargai masakan istri ku tercinta ini," seru Bos besar membuat Rea segera bergegas melaksanakan perintah dari Bos besar tanpa bertanya lagi.
Bos besar segera duduk di kursi nya sembari menatap tajam ke arah Fatimah yang masih tertunduk tak berani menatap nya.
"Mira, ajak nyonya mu ini duduk," seru Bos besar membuat kedua wanita itu kebingungan dan hanya bisa mengikuti semua perintah dari Bos besar.
Tak berselang lama.
Semua orang penghuni rumah bordil sudah berada di kursi mereka masing masing.
"Silahkan makan, ini disiapkan khusus untuk kita," ucap Bos besar mempersilahkan jamuan pagi itu.
Saat suapan pertama, mereka seakan tersihir dengan apa yang mereka makan.
Tanpa berucap apapun, semua orang menyantap makanan itu hingga habis dengan cepat.
Kecuali Lely, Rea, dan Bos besar yang masih menatap tajam ke arah Fatimah.
"Masakan mu benar benar enak Fatimah," bisik Mira seketika.
"Terima kasih," sahut Fatimah singkat sembari meneruskan sarapan pagi nya.
"Bos, masakan ini lebih enak dari pada masakan Chef Roki," seru seorang body guard membuat Rea mendengus pelan.
"Iya Bos!, nikmat sekali!," seru seorang wanita memuji sarapan pagi mereka.
Namun berbeda dengan Aqly, dia tetap terdiam mengunyah sarapan nya.
Seakan ia sudah mengenal rasa makanan itu sebelum nya.
"Mintalah kepada istri ku, dialah yang memasak sarapan untuk kita hari ini," ucap Bos besar membuat Aqly tersedak serta membuat semua nya terdiam menatap Fatimah.
Sesaat kemudian, keheningan terus tercipta di meja makan, bos besar memilih meninggalkan kursi nya tanpa berucap apapun lagi.
Hingga satu persatu dari mereka semua ikut pergi dari kursi nya masing masing, dan hanya menyisakan Fatimah serta Mira di sana.
"Mari aku bantu bereskan," ucap Mira mencoba menghibur Fatimah.
"Terima kasih sekali lagi," ucap Fatimah berusaha kuat dengan situasi sulit nya saat itu.
__ADS_1
Tidak usah berterima kasih, aku tahu begitu berat jadi diri mu, kamu kuat dan tak gila sampai hari ini pun aku sudah sangat bersyukur, batin Mira.