
Mobil Malik tengah berhenti di tepi jalan raya.
Ia memandangi rumah besar di sebrang jalan.
"Apakah aku benar benar sanggup..??", ucap dokter Malik masih bimbang.
Sudah 2 jam lamanya ia terdiam di sana.
Bagaimana nanti jika Burhan tak memperbolehkan Mawar bertemu denganku..??, gumam dokter Malik dalam hati.
Tiba tiba ia melihat Fatimah keluar dari rumah.
Ia bermain bola sendirian di teras rumah.
Bola itu menggelinding keluar dari halaman rumah.
Fatimah seketika mengejarnya, ia tak memperhatikan jalanan yang sewaktu waktu mobil bisa lewat secara tiba tiba.
"Astagfirullah..!!", seru dokter Malik keluar dari mobilnya menghampiri Fatimah yang hampir tertabrak mobil.
"Ya Allah..!!, Fatimah..!!", seru Burhan keluar dari rumahnya dan langsung mendekati Fatimah yang tengah di gendong oleh dokter Malik.
"Dia baik baik saja", ucap dokter Malik memberikan Fatimah ke gendongan Burhan.
"Trima kasih Malik", ucap Burhan memeriksa kondisi Fatimah yang masih terlihat ketakutan.
"Sama sama", ucap dokter Malik tak berani mengutarakan niatnya berani datang kesana.
"Mari masuk, Mawar akan senang bertemu denganmu", ucap Burhan tanpa prasangka buruk sedikitpun pada mantan kekasih Mawar itu.
"Bolehkah..??", ucap dokter Malik tak percaya.
"Kenapa kau bertanya begitu..?, ayo masuk...!!", ucap Burhan mencoba menjadi tuan rumah yang baik.
Dokter Malik pun mengikuti Burhan masuk ke dalam rumahnya.
Ia sedikit canggung untuk itu semua.
__ADS_1
"Nak Malik..??", seru Mbak Lastri dari arah dapur.
"Assalammualaikum buk, bagaimana kabar ibuk..??", ucap dokter Malik mencium punggung tangan mbak Lastri.
"Walaikumsalam, baik nak, nak Malik kok ada di sini...??", ucap mbak Lastri heran.
Dokter Malik serasa masih tak berani berterus terang, sesekali ia memandang ke arah Burhan.
"Kenapa Malik..??, apa ada yang mau kamu sampaikan padaku..??", ucap Burhan merasa dokter Malik ingin menyampaikan sesuatu di balik kedatangannya itu.
"Papi lumpuh..", ucap dokter Malik membuat Burhan dan mbak Lastri terkejut.
Mawar yang saat itu sedang berjalan ke arah mereka pun kemudian menghentikan langkah kakinya.
"Astagfirullah..!!", seru Mawar mengagetkan semua yang ada.
"Mawar...!!", seru Burhan mendekati Mawar yang seakan syok dan lemas ketika mendengar kabar tentang Bram.
Dokter Malik sempat merasa heran, kenapa Mawar begitu syok mendengar kabar itu...??.
"Lalu..??, apa yang bisa kami bantu nak..??", ucap mbak Lastri merasa iba dengan keadaan Bram.
"Saya ingin menyampaikan sebuah keinginan papi, ia ingin sekali bertemu dengan Mawar, itupun jika Burhan mengizinkannya", ucap dokter Malik mencoba berterus terang.
Burhan dan Mawar pun saling pandang.
Tanpa rasa berat sedikitpun, Burhan tersenyum pada Mawar dan mengizinkannya untuk menemui Bram.
"Jika itu untuk kebaikan, aku mengizinkannya, aku mempercayaimu.!!", ucap Burhan yang mengetahui bahwa Mawar sangat mengkhawatirkan kondisi ayah kandungnya saat itu.
Firasat Burhan benar, setelah mendengar Burhan mengizinkannya untuk bertemu dengan Bram, Mawar akhirnya tersenyum dan seakan mengucap terima kasih pada Burhan dengan di sertai air mata yang mengalir dipipinya.
"Trima kasih Burhan, aku tak tau lagi harus berucap apa..!!", seru dokter Malik bahagia karna bisa membawa Mawar ke hadapan Bram.
"Tunggu dokter Malik..!!, aku akan pergi jika suamiku ikut denganku", ucap Mawar menggandeng tangan suaminya.
Seakan hati dokter Malik tersayat saat itu.
__ADS_1
Seharusnya tanganku lah yang kamu pegang saat ini..!!, gumam dokter Malik meratapi kisah cintanya yang telah kandas.
"Baiklah..!!, mari..!!, saya pamit buk", ucap dokter Malik mencium punggung tangan mbak Lastri dan berjalan menuju ke mobilnya.
"Ibuk gpp kan aku tinggal..??", ucap Mawar memegang kedua tangan mbak Lastri.
"Pergilah Mawar, selagi masih ada kesempatan untukmu berbakti pada ayahmu", ucap Mbak Lastri memeluk Mawar.
"Assalammualaikum", ucap Burhan mencium punggung tangan Mbak Lastri dan berjalan beriringan dengan Mawar masuk kedalam mobil dokter Malik.
Di perjalanan, tak banyak kata yang keluar dari mulut mereka bertiga.
Hanya sesekali dokter Malik mencuri pandang pada Mawar yang duduk bersanding dengan Burhan di kursi belakang.
"Astagfirullah", ucap dokter Malik menyadarkan dirinya dari dosa memandangi istri orang tanpa izin.
"Kenapa Malik..??", ucap Burhan heran.
"Enggak kok, aku cuma sedikit kurang fokus, mungkin sedikit ngantuk aja", ucap dokter Malik mencari cari alasan yang tepat.
"Apa sebaiknya kita gantian menyetir..??", ucap Burhan khawatir dokter Malik tak lagi fokus menyetir.
"Aku masih kuat kok, gpp", ucap dokter Malik meneguk air mineral untuk menghilangkan kegugupannya.
"Kondisi terakhir pak Bram gimana dok..??", ucap Mawar.
"Papi kehilangan fungsi berbicara dan berjalannya, baru tadi pagi ia pulang dari rumah sakit, tetapi ia tak mau makan sampai ia bisa bertemu denganmu", ucap dokter Malik mencoba tak terbawa perasaan.
"Bisakah kita lebih cepat lagi dok..??", seru Mawar ingin segera bertemu dan memastikan sendiri kondisi dari ayah kandungnya itu.
Belum sempat dokter Malik menenangkan Mawar yang gelisah, Burhan sudah lebih dulu menenangkan Mawar dengan memegang tangannya dan menghapus air mata Mawar.
Dokter Malik hanya bisa memalingkan pandangan dari semua yang bisa membuat luka hatinya terbuka lagi.
Sempat dokter Malik berfikir lagi, ada satu pertanyaan yang masih belum ia temukan jawabannya...
Kenapa Mawar sangat khawatir sekali dengan papi..??, seolah olah ia mengkhawatirkan orang tuanya sendiri, gumam dokter Malik dalam hati merasa heran sambil terus melajukan mobilnya kembali kerumahnya.
__ADS_1