
Sesuai niat awalnya, dokter Malik kembali mendatangi rumah Mawar 1 minggu kemudian.
Ia berhenti tepat di tempat ia menghentikan mobilnya pekan lalu.
Ia melihat kesekeliling rumah.
Ia tersenyum melihat ada tanda tanda keberadaan seseorang di rumah Mawar.
"Pintu rumahnya terbuka, sepertinya itu supir Mawar juga ada di sana, berarti Mawar sudah pulang", seru Dokter Malik segera keluar dari mobilnya dan mendekati rumah Mawar.
Langkahnya terhenti, ia bersembunyi.
Terlihat seorang lelaki keluar bersama Mawar dari dalam rumah dan duduk di kursi teras rumah.
"Makasih ya mas, sudah repot repot membantuku mengurus mami", ucap Mawar.
"Sama sama Mawar, Fatimah kemana..??", ucap Burhan mencari Fatimah.
"Fatimah lagi tidur Mas ditungguin ibuk", ucap Mawar.
"Oh ya Mawar, pertanyaanku minggu lalu, apa kamu sudah punya jawabannya..??", ucap Burhan mulai berbicara serius.
Mawar seketika terdiam dan bingung.
Ia harus jawab apa sekarang....??.
Sementara dokter Malik yang bersembunyi di sisi gerbang mulai mengerti arah pembicaraan mereka.
"Pemuda itu suka sama Mawar, aku gak boleh diam aja", ucap dokter Malik keluar dari persembunyiannya dan berjalan ke arah Burham dan Mawar.
Seketika Mawar terkejut melihat kedatangan dokter Malik, ia segera berdiri dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Mawar ..??, kamu gpp..??", ucap Burhan heran melihat tingkah Mawar yang seketika berubah.
Burhan pun melihat dokter Malik yang menuju ke arah mereka.
Burhan pun berdiri dan menegurnya.
"Maaf, mas ini siapa ya...??", tanya Burhan menghentikan langkah dokter Malik.
Pandangan dokter Malik masih tak berpaling dari Mawar, begitupun Mawar.
"Anda bisa tanya sendiri pada Mawar, apakah dia mengenal saya..?", ucap dokter Malik menguji Mawar.
"Mawar...??", tanya Burhan tau apa yang sedang terjadi.
Mawar menarik nafas dan mencoba menguatkan kakinya untuk tetap berpijak di tempatnya berdiri.
"Iyaa mas, aku mengenalnya, mas Burhan kenalkan ini dokter Malik, dokter kenalkan ini Burhan", ucap Mawar mencoba bersikap biasa saja.
"Itu saja Mawar..??", seru dokter Malik.
"Aku orang yang pertama kali melamar Mawar, dan sampai sekarang belum ada jawaban pasti darinya", ucap dokter Malik membuat Burhan tercengang dan memandang Mawar.
"Mawar....??, jelaskan apa yang terjadi..??", ucap Burhan merasa berada di tengah tengah hubungan seseorang.
"Bukankah sudah jelas jawabannya mas, papi mu sendiri yang menjawabnya kala itu, ia tak mau memiliki menantu sepertiku", ucap Mawar mencoba tetap tegar.
Dokter Malik mulai mendekat ke arah Mawar dan menatap wajah wanita yang tak pernah menatap matanya itu.
"Apakah kamu tak mau berjuang bersama denganku untuk mendapatkan restunya Mawar..??", ucap dokter Malik dengan nada memohon.
"Aku juga punya kesempatan itu kan Mawar...??", ucap Burhan memberanikan diri menyela pembicaraan mereka dan memperjuangkan cintanya.
__ADS_1
Mereka bertiga saling pandang, seakan hati dan pikiran mereka sedang berperang memperjuangkan cinta masing masing.
"Aku lebih dulu mencintaimu Mawar, kamu juga mencintaiku, apakah waktu telah merubah semuanya..??", ucap dokter Malik bersujud dengan putus asa di depan Mawar.
"Mawar...??", ucap Burhan belum sempat menyelesaikan ucapannya, sudah di hentikan oleh Mawar.
"Cukup..!!, Aku butuh waktu untuk itu semua, maaf, lebih baik kalian pulang", ucap Mawar menghapus air matanya dan berjalan ke arah pintu rumah dan menutupnya dari dalam, meninggalkan dokter Malik dan Burhan.
"Sebaiknya kamu tidak kembali hanya untuk menyakiti Mawar", ucap Burhan berlalu meninggalkan dokter Malik yang masih terdiam dalam sujudnya.
Tak berapa lama, dokter Malik pun bangkit dari tempatnya dan seakan kedua kakinya lemas untuk melangkah menuju mobilnya.
Geyna dan mbak Lastri keluar dari kamar dan menghampiri Mawar yang sedang menangis.
"Mawar kamu kenapa..??", seru mbak Lastri memeluk Mawar.
"Sayang kenapa kamu..??", ucap Geyna menghapus air mata Mawar.
Mbak Lastri pun mengajak Mawar duduk di sofa dan menenangkannya, setelah Mawar mulai tenang ia menceritakan tentang dilemanya akan dokter Malik dan Burhan.
Ia masih mencintai dokter Malik tapi rasa sakit penghinaan dari ayah dokter Malik masih membekas di ingatan Mawar.
Sedangkan Mawar juga sadar, Burhan adalah lelaki sempurna, yang bahkan kesabaran dan kelembutannya tidak dimiliki oleh dokter Malik, Burhan juga mencintai Mawar, tapi hati Mawar tak ada rasa sedikitpun pada Burhan.
Geyna menyimak cerita Mawar tentang asmara dan penghinaan keluarga lelaki yang Mawar cintai.
Sungguh berat lika liku hidup Mawar gara gara status yang ia bawa dari Geyna ibu kandungnya.
Sebaik apapun Mawar menjelma, asal usulnya akan selalu dipertanyakan.
"Mawar..., mami memang tak mengerti agama, dan sama sekali tak mengenalnya, tapi mami pernah dengar shalat istikharah untuk menyelesaikan Masalah, apa itu mungkin bisa membantumu..??", ucap Geyna mencoba membantu masalah putrinya.
__ADS_1
"Bener kata Mami mu Mawar, istikharah lah, meminta petunjuk dari Allah", ucap Mbak Lastri mengusap air mata Mawar.
"Iyaa buk, insyaallah, malam ini akan ku laksanakan nasehat mami dan ibu", ucap Mawar masih terisak isak.