Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Ketika semua nya menjauh 2.


__ADS_3

"Maaf, dengan berat hati saya menyampaikan hal terburuk dari kondisi suami anda," seru an sang dokter masih terngiang ngiang di kepala Fatimah saat itu.


"Saya siap mendengarkan," sahut Fatimah sembari sesekali mengusap air mata nya.


"Akibat kecelakaan itu, Suami ibu mengalami lumpuh total, hanya mukjizat yang bisa menjawab nasib nya sekarang ini," ucap sang dokter sembari melepas selang transfusi darah dari lengan Fatimah.


"Fatimah?," seru Mira seketika membuyarkan lamunan nya akan kejadian pagi itu.


Dengan mata yang masih basah, Fatimah menatap suami nya yang kini masih terbaring tak sadarkan diri di hadapan nya.


Ada perasaan sakit di hati nya saat melihat keadaan Bos besar saat itu.


Seakan ada perasaan aneh dalam diri nya saat menatap sosok lelaki di hadapan nya kini.


Kenapa dengan ku?, kenapa hati ku begitu sakit saat melihat nya terluka dan menderita?, batin Fatimah.


Terlebih semua orang bahkan diri nya sendiri pun tahu bahwa ia dan Bos besar tak menikah atas dasar cinta.


Bersamaan dengan itu, Aqly segera beranjak dari duduk nya dengan raut wajah lelah dan malas.


"Ayo kita pulang", ajak Aqly bergegas ingin keluar dari ruangan itu, ia nampak begitu lelah dan bosan berada di sana.


Meskipun ia hanya duduk diam di sana sepanjang waktu sembari melihat Mira serta sang kakak mondar mandir mengurus setiap keperluan pengobatan sang bos.


"Ayo Fatimah," ajak Mira menggenggam erat tangan Fatimah.


Namun Mira merasa bingung saat ia merasa ada penolakan dari tangan Fatimah untuk pergi dari sana.


Fatimah tak bergeming dari tempat nya walaupun Aqly sudah kesal menunggu nya.


"Fatimah?," seru Mira.


"Kalian pulanglah dulu, aku akan menjaga nya di sini, aku takut sewaktu waktu Bos tersadar dan membutuhkan sesuatu," ucap Fatimah masih menatap lekat lekat wajah suami nya.


"Tidak bisa!, tak ada jaminan kau tak lari saat aku pulang!," sentak Aqly menarik paksa tangan sang kakak.


"Hentikan Aqly!, biarkan kalau itu memang keinginan nya, kau tak harus memaki nya setiap berbicara dengan kakak mu bukan!," seru Mira mencoba menepis tangan Aqly.


Ia sudah merasa muak dengan sikap kasar dan arogan Aqly pada kakak nya sendiri.

__ADS_1


Tidak ada hal yang lebih menyakitkan lagi antara hubungan kedua saudara melainkan dari sikap seorang adik yang dengan tega menyeret sang kakak seperti Fatimah masuk ke dunia gelap dan kotor mereka.


"Berani nya!," sentak Aqly tak terima.


Tangan nya sudah hampir menampar pipi Mira, namun di hentikan oleh Fatimah.


"Hentikan dik!, coba kamu ada di posisi Bos!, apa kamu mau sendirian di sini!," sentak Fatimah membuat Aqly tercengang.


"Baiklah jika kau bersikeras, aku akan hubungi kak Rea untuk menggantikan mu di sini, jadi tak akan ada alasan lagi dari mulut mu itu," sahut Aqly segera merogoh ponsel dari saku celana nya.


Dengan yakin nya ia mencoba menelfon Rea dan Lely yang sedari awal sudah menolak datang ke rumah sakit.


Mira sedikit mencebik saat menatap Aqly yang terus berusaha menghubungi Rea berulang ulang kali.


"Sudahlah Aqly, mereka tak akan pernah mengangkat panggilan dari mu, mereka bukan wanita yang bisa mengerti kesusahan seseorang," seru Mira membuat Aqly menyerah akan sikap keras kepala nya.


"Oke, kau boleh di sini mengurus bos, tapi jika kakak berani macam macam, ingatlah nasib bunda kak, aku tak main main," ancam Aqly membuat Fatimah hanya mengangguk pelan.


Dasar anak durhaka!, batin Mira melepas pegangan tangan nya dari tangan Fatimah dan bergegas mengikuti Aqly tuk meninggalkan rumah sakit.


-----


"Mau kemana dia," ucap Mira menatap Aqly yang sedang berusaha sampai ke sebrang jalan lain.


"Astaga!," seru Mira dengan cepat keluar dari mobil dan menarik tubuh Aqly dengan cepat hingga mereka terjatuh di tepi trotoar secara bersamaan.


Sesaat, Aqly dan Mira terjebak tatapan satu sama lain.


Aqly juga begitu gugup saat dada nya menempel di kedua gundukan dada milik Mira.


"Kau tak apa?," tanya Mira membuat Aqly tersadar dan berubah menjadi marah hingga mendorong tubuh Mira menjauh dari atas tubuh nya.


"Kau sudah gila!, apa kau sedang mencari kesempatan untuk mendekati ku!," sentak Aqly mencoba bangkit.


Ia bahkan menatap Mira dengan begitu rendah nya saat itu.


Membuat Mira sedikit merasa canggung dengan diri nya sendiri.


"T- tadi, ada...," seru Mira bahkan tak di beri kesempatan oleh Aqly untuk menjelaskan apa yang terjadi.

__ADS_1


Aqly terus saja menyela apa yang ingin di ucapkan Mira saat itu.


"Kau bukan level ku Mira, pakai otak mu itu!, aku masih waras!, kalaupun aku mendekati seorang wanita, bukan wanita kotor seperti mu!, yang setiap hari di lumuri keringat nafsu oleh banyak lelaki!," sentak Aqly secara spontan.


Ucapan nya begitu membuat Mira tercengang dan merasa jijik akan diri nya sendiri.


"Kenapa?, apa sekarang kau berfikir bahwa perkataan ku ini benar!," sentak Aqly semakin membuat hati Mira hancur.


"Kau benar Aqly, aku sadar akan siapa diri ku ini," ucap lirih Mira tanpa sanggup menahan air mata yang ingin segera jatuh ke pipi nya.


"Baguslah kalau begitu!, ingatlah satu hal, sekarang ataupun nanti, aku tak akan pernah mendekati mu atau tertarik padamu!," bisik Aqly membuat Mira segera berlari masuk mobil sembari mengusap air mata nya yang tak henti henti nya menetes.


"Mas gpp?," seru seorang lelaki tiba tiba muncul dengan tergopoh gopoh.


Mendengar ucapan lelaki itu, Aqly begitu heran dan bingung hingga membuat nya hanya terdiam menatap aneh lelaki yang sedang menatap nya dengan tatapan lega.


"Seperti nya mas gpp, syukurlah kalau begitu," seru lelaki itu lagi semakin membuat Aqly terheran heran.


"Maaf pak, memang nya saya kenapa?, dan apa saya mengenal bapak sebelum nya?," tanya Aqly meluruskan rasa penasaran nya.


"Loh, mas itu gimana toh!, mas barusan hampir mau di tabrak motor, untung nya ada mbak mbak tadi yang dorong mas ke trotoar," seru lelaki itu membuat Aqly begitu tercengang tak percaya.


Setiap ucapan lelaki itu selanjut nya kini tak terdengar di telinga Aqly.


Tatapan Aqly masih berfokus menatap wanita yang kini menangis di kursi belakang mobil nya.


Dia menolong ku?, batin Aqly merasa bodoh.


"Heh mas!, gimana sih!, sarap kali ya, pantesan mau nyebrang gak ngerti cara nya," keluh lelaki itu bergegas pergi meninggalkan Aqly yang tak merespon ucapan nya sama sekali.


Perlahan Aqly berjalan menuju mobil dan duduk dengan penuh perasaan bersalah di kursi kemudi.


Bahkan diri nya tak berani menatap ke arah belakang, ia begitu malu dengan ucapan ucapan kotor nya yang telah sengaja ia ucapkan untuk menghina Mira tanpa tahu kejadian yang sebenar nya.


Namun Aqly juga merasa begitu malu saat ingin mengucapkan sebuah kata maaf pada Mira dan mengakui kesalahan nya.


"Mi - Mira?," seru Aqly mencoba memancing percakapan dengan Mira.


Namun nampak nya Mira terlalu rapuh dan hancur untuk meladeni Aqly saat itu.

__ADS_1


Sembari menatap wajah Mira lewat kaca kemudi, Aqly perlahan menjalankan mobil nya terus hingga sampai ke depan rumah bordil mereka.


__ADS_2