
Beberapa bulan berlalu, Rahel telah berhasil mendapatkan sebuah pekerjaan.
Sebuah pekerjaan yang ia dapat setelah 20 kali di pecat dalam beberapa bulan terakhir.
Mau tak mau Rahel harus mau bekerja sebagai pelayan restoran.
Ia sangat membutuhkan uang untuk biaya hidupnya sehari hari.
"Mbak...!!, pesen dong", seru seorang pengunjung restoran.
"Iyaa mbak", ucap Rahel dengan terpaksa harus bisa bersikap baik di tempatnya kali ini.
Rahel yang selama ini tak pernah hidup susah, sekarang merasakan menjadi orang biasa.
Yang biasanya sehari ia menghabiskan puluhan juta untuk foya foya, sekarang ia harus membagi uang satu bulan dengan sehemat mungkin.
Tiba tiba ia melihat Mawar dan Burhan masuk ke dalam restoran tempatnya bekerja.
Rahel langsung sembunyi dan mengamati mereka dari kejauhan.
Mawar terlihat bahagia sambil menggendong bayi kecil di tangannya, sedangkan Burhan tak henti hentinya bersenda gurau dengan Fatimah.
Rahel merasa marah melihat semua itu.
"Harusnya aku yang hidup enak...!!, bukan orang miskin yang baru jadi kaya kayak mereka..!!", ketus Rahel berkacak pinggang.
Ia terus memandangi mereka dari kejauhan.
Terlihat Rahel sangat ingin membalaskan dendamnya.
Ia membayangkan semua yang telah terjadi dalam hidupnya.
__ADS_1
Kebangkrutan perusahaan, kematian pak Yahya, bu Dara yang kabur, dirinya yang menjadi budak nafsu lelaki hidung belang dan sekarang dirinya harus berjuang kerja keras hanya untuk sesuap nasi.
"Menyebalkan..!!", seru Rahel masuk ke ruang khusus pegawai dan mengganti pakaiannya.
"Hel...!!, kamu mau kemana..??", seru seorang rekannya membuat Rahel langsung berpura pura sakit.
"Aku izin pulang cepet ya, perut aku sakit, mungkin asam lambungku naik", ucap Rahel dengan berpura pura berjalan menahan sakit.
"Okey, aku akan bilang ke bos nanti", ucap rekan kerjanya sembari kembali meneruskan pekerjaannya.
Saat Rahel keluar dari restoran.
Ia mengambil sebuah bolpoin dan kertas dari dalam tasnya.
Ia kemudian menuliskan sesuatu dan segera mengarah ke saklar listrik.
Setelah ia mematikan semua listrik dan cctv ia segera mengambil sebuah batu besar dan mengawasi situasi di sekelilingnya.
"Bagus", seru Rahel seketika melemparkan batu itu di kaca mobil Mawar.
Alarm mobil segera berbunyi.
Rahel segera sembunyi di tempat yang aman.
"Astaga Mas..!!, itu bukankah suara dari arah mobil kita, jangan jangan...!!", seru Mawar segera beranjak dari kursinya bersamaan dengan Burhan yang membawa anak anak.
Seketika mereka terkejut melihat orang orang telah berkerumun di mobil mereka.
"Astaga, itu mobil mbak...??", seru satpam pada Burhan.
"Kenapa bisa seperti itu pak..??, gimana kerja bapak..??", seru Burhan yang tengah melihat kondisi mobilnya.
__ADS_1
"Sudahlah mas, bapak boleh pergi", ucap Mawar meminta Burhan untuk tenang.
Lalu Mawar melihat sebuah kertas yang membungkus sebuah batu di dalam mobilnya.
Ia pun meraihnya dan membacanya.
Betapa syok nya ia membaca surat itu.
Mawar seketika menangis dan mematung di tempatnya berdiri.
Burhan yang melihat perubahan raut wajah Mawar menjadi khawatir.
"Kenapa Mawar ..?", seru Burhan mengambil kertas yang berada di tangan Mawar.
Burhan pun terkejut membaca isi tulisan kertas itu.
...Kamu tunggu ajalmu Burhan...!!...
Seketika Burhan mencari disekeliling tempat itu, mencari orang yang mencurigakan yang telah melakukan semua itu.
"Aku mungkin tau siapa yang melakukannya Mas..", ucap Mawar masih terlihat syok.
"Siapa...??", ucap Burhan penasaran.
"Rahel", ucap Mawar ketakutan.
"Rahel...!!, apa motifnya..??", seru Burhan tak percaya.
"Banyak mas, dan selalu ada alasannya, aku takut mas", ucap Mawar histeris.
"Tenang Mawar, kita pulang dulu ya", ucap Burhan memapah Mawar masuk kedalam mobil dan melaju pulang.
__ADS_1
Rahel yang melihat ketakutan di wajah Mawar dan Burhan seketika tersenyum bahagia.
"Tunggu tanggal mainnya Burhan, kamu sudah aku peringatkan, kamu sasaran pertamaku..!!", ucap Rahel berjalan meninggalkan area parkir dengan perasaan senang.