
Bu Maryam mencoba mendekati suaminya, ia khawatir dengan pernikahan anaknya yang setiap hari selalu saja dihiasi dengan pertengkaran.
"Pi...., ini teh nya", ucap bu Maryam meletakkan secangkir teh di hadapan suaminya.
Tanpa melihat atau tersenyum pada istrinya, Bram terus saja membaca korannya.
"Pi, mami rasa pernikahan Malik dan Rahel tak berjalan mulus", ucap Bu Maryam mengutarakan apa yang ingin ia bahas dengan suaminya.
Seketika Bram menutup korannya dan menatap tajam bu Maryam.
"Terus mau kamu apa...??, yang terpenting bagiku sekarang, bisnisku lancar, aku untung besar berkat pernikahan mereka, ngerti ..!!", ketus Bram mendorong dahi bu Maryam dengan telunjukknya.
"Tapi kasian Malik pi", ucap Bu Maryam masih memperjuangkan kebahagiaan anaknya.
"Cukup...!!", aku bilang cukup...!!!, kurang apa aku selama ini sama Malik hahhhh..!!, sekarang giliran dia balas pudi padaku", seru Bram menggebrak meja.
"Astagfirullah, apa kamu tak bisa lembut sedikit saja pada istrimu pi..??", ucap bu Maryam tak tahan selalu dibentak suaminya.
"Apa...??, kamu mau menggertakku lagi..!!, silahkan saja, aku sudah muak, seharusnya kamu beruntung, jika tidak ada aku, Malik tak akan mendapatkan figur seorang ayah, paham..!!", seru Bram membuat bu Maryam meneteskan air mata penyesalannya, ia yang dulu telah setuju menikah dengan pria arogan seperti Bram.
__ADS_1
"Ya..., memang kamu menjadi penolong hidupku dan hidup Malik kala itu, tapi bukan berarti kamu meminta imbalan berupa kebahagiaan anakku untuk balas budi itu semua, ingat ya mas..!!, karna pernikahan kita dan karna adanya Malik kamu tidak ditertawakan dan dipandang rendah oleh rekan rekanmu, jadi kita sama sama menguntungkan, jadi jangan meminta lebih lagi kali ini", ucap bu Maryam semakin berani menguak masa lalu mereka.
"Kurang aj*r...!!", seru Bram ingin menampar bu Maryam.
"Tampar..!!, tampar pi..!!, hanya itu kan yang belum kamu lakukan padaku, aku diam bukan karna aku tak tau apa yang kamu lakukan di luaran sana, kamu yang suka mabuk mabukan, kamu juga suka menyewa perempuan perempuan itu kan..!!", seru bu Maryam menangis tersedu sedu.
Bram pun menghentikan gerakan tangannya dan berlalu pergi memacu mobilnya.
Tanpa sepengetahuan mereka, Dokter Malik diam diam menguping pembicaraan kedua orang tuanya itu.
Ia sangat syok dengan apa yang ia dengar.
"Mi...??", ucap dokter Malik mendekati bu Maryam.
"Mami gak usah pura pura tegar di dekatku, aku sudah dengar semuanya, apa maksud perkataan Mami barusan .??", ucap dokter Malik memegang bahu mami nya.
Bu Maryam pun tak kuasa membendung semuanya lagi.
Tangisannya pun kembali pecah.
__ADS_1
"Maafin mami nak, mami belum memberi tahu mu kenyataan ini", ucap bu Maryam.
"Maksud mami..??, semua yang Malik dengar barusan itu kenyataan..??", ucap dokter Malik tak menduganya.
"Dulu, mami anak teman bisnis dari ayah papi mu , seperti layaknya Rahel, teman yang bahkan lebih dekat dari keluarga.
Mami anak satu satunya dari keluarga Sanjaya, mami menikah siri di usai muda, pernikahan mami disembunyikan, rencananya sampai resepsi kami digelar kelak, keluarga mami sebenarnya kurang setuju mami menikah dengan ayahmu, karna ia hanya seorang pegawai kontruksi di sebuah perusahaan kecil, tapi...., naas, ketidak sukaan orang tua mami bagaikan menjadi sebuah doa buruk bagi hubungan mami, suami mami meninggal di proyek tempatnya bekerja, saat itu mami juga baru mengetahui jika mami telah hamil kamu yang baru menginjak 1 bulan.
Dan papi mu Bram...., ia mengalami kecelakaan pesawat, sekitar 25 tahun silam pesawat yang ia tumpangi mengalami pecah ban saat akan take off dan insiden itu pun terjadi, mengakhibatkan papi mu divonis tidak akan mempunyai keturunan lagi karna cidera akhibat kecelakaan itu", ucap Bu Maryam menceritakan sedetail mungkin masa lalunya.
"Lalu...??", ucap dokter Malik tak sabar mengetahui lengkap kenyataan itu.
"Keluarga papi mu malu, bagaimana reputasi mereka saat publik dan kolega mereka tau kalau anak semata wayang mereka divonis mandul, dan garis keturunan mereka akan lenyap, akhirnya ayah papi mu menawarkan kesepakatan pada keluarga mami yang saat itu juga khawatir dengan citra keluarga mereka, karna sejatinya pernikahan mami belum ada yang mengetahuinya, kehamilan mami akan berpotensi menjadi aib bagi mereka, jika mami setuju menikah dengan Bram anak dari keluarga Jayawijaya corp , anak mami akan memiliki ayah dan status yang jelas, dengan syarat anak yang mami kandung harus menjadi anak kandung papi mu di mata masyarakat dan negara, dan tidak mengungkit masalah ini lagi sampai kapanpun", ungkap bu Maryam membuat dokter Malik dibuat lemas dengan kenyataan itu.
"Jadi itu sebabnya, Papi dengan mudahnya menjadikan Malik sebagai alat bisnisnya, karna memang kasih sayang papi ke Malik itu palsu, Malik bukan anak kandung papi", ucap dokter Malik tak menyangka semua kenyataan pahit itu.
"Maafin mami nak, maafin mami, dosa apa mami hingga kamu harus membayar semuanya", ucap Bu Maryam menangis sejadi jadinya.
Dokter Malik pun memeluk bu Maryam dan menenangkannya.
__ADS_1
Ia juga sama terpukulnya seperti mami nya, tetapi ia harus tegar demi orang tua kandung satu satunya yang ia miliki sekarang ini.
Ya Allah, cobaan apa lagi ini..??, belum masalah yang ditimbulkan oleh Rahel selesai, sekarang kenyataan ini harus ku terima mau ataupun tidak, gumam dokter Malik dalam hati.