
"Astagfirullah," lirih Fatimah sembari meremas sebuah kertas laporan di tangan nya.
Kaki nya terus berjalan namun tanpa mendapat fokus penuh dari otak nya.
Seakan ada hal hebat yang kembali mengguncang diri nya saat itu.
Kegelisahan dan rasa takut juga tak bisa di sembunyikan dari raut wajah nya saat itu.
__##__
Tubuh Rea tak sedikitpun bergerak dari tempat nya.
Nafas nya semakin kembang kempis dengan kucuran keringat yang semakin membasahi kerudung nya saat itu.
"Ba- bagaimana mungkin?," lirih Rea mencoba mundur dan pergi dari ruangan itu.
Namun secara kebetulan, Mira dan Tia tiba di tempat itu dan langsung mencekal tangan Rea hingga Rea tak bisa berkutik sedikitpun.
"Ohhh, jadi kecurigaan Tia benar ya," seru Mira sembari menampar Rea dengan spontan nya.
"Mbak, mbak Mira," lirih Tia ikut terlihat syok seketika.
Sama seperti ekspresi yang ditunjukkan Rea pada saat itu.
Walaupun Mira telah menampar nya, namun Rea nampak tak merespon nya sama sekali.
Mira segera mengedarkan pandangan nya ke arah tatapan Tia dan Rea tertuju.
Dengan sekali pandang, raut wajah Mira pun langsung berubah pucat pasi tepat di saat itu juga.
__ADS_1
___###__
"Permisi buk," seru sebuah suara menghentikan langkah kaki Fatimah yang beberapa langkah lagi telah sampai ke ruangan tempat suami nya berada.
Sembari menyeka mata nya yang basah, ia mencoba menatap ke arah seseorang yang telah memanggil nya.
Suara serak yang terdengar begitu tegas itu nyata nya ialah seorang polisi yang kini semakin dekat berjalan ke arah nya.
"Ada yang bisa saya bantu?," tanya Fatimah merasa kalau diri nya belum melaporkan apapun tentang kasus kecelakaan Bos besar maupun kecurigaan nya pada sosok Rani yang begitu di yakini oleh Tia dan Mira bahwa ia adalah Rea sang buronan.
"Kami yang menangani tkp kecelakaan pak Ummar, karna kami menemukan sebuah kejanggalan, akhir nya kami datang kemari meskipun pihak keluarga tak menindaklanjuti kasus ini," ujar polisi itu membuat hati Fatimah semakin gelisah saja.
"Kejanggalan?," sahut Fatimah begitu menginginkan sebuah penjelasan dengan cepat.
"Rem mobil telah di rusak buk, apa ibuk menyadari itu?," sambung pihak polisi membuat Fatimah begitu tercengang mendengar nya.
"Kalau boleh, kami ingin mengunjungi suami ibuk, apakah ibuk mengizinkan?," ujar polisi yang lain namun lagi lagi tak mendapatkan jawaban dari Fatimah.
"Ibuk baik baik saja?," tanya polisi itu mulai khawatir dengan sikap diam dari Fatimah.
"Mari ikut saya," sahut Fatimah singkat sembari mulai berjalan menuju ruangan Bos dengan berusaha keras agar diri nya tak terlihat gemetar dan resah sedikitpun.
___##__
Perlahan tapi pasti, kaki yang tengah terbalut perban itu mencoba berjalan menuju ke arah dimana Rea berdiri.
Dengan menggunakan besi penyangga infus, Bos besar nampak tertatih tatih menuju ke arah Rea namun tanpa merintih sakit sedikitpun.
Bahkan ekspresi wajah nya begitu datar dan dingin meskipun perban kaki nya mulai memerah karna darah yang kembali merembes di kaki yang sengaja dipaksakan untuk berjalan.
__ADS_1
"Mari pak, silahkan masuk," ucap Fatimah yang kedatangan nya segera dipandang tajam oleh Mira serta Tia.
Namun dengan cepat mata Fatimah segera menangkap sosok lelaki yang kini tengah berjalan tertatih tatih ke arah mereka.
Ia begitu tak menyangka hal itu bisa terjadi mengingat perkiraan dari dokter bahwa Bos besar akan siuman dalam beberapa hari ke depan.
Rasa bahagia kini begitu menyelimuti hati Fatimah.
Air mata kebahagiaan kini terus mengalir tiada henti dari kedua mata indah nya.
"Apakah kalian berdua menaruh curiga kepada seseorang yang mungkin ada kaitan nya dengan kecelakaan pagi ini?," seru pihak kepolisian membuat Mira segera menunjuk ke arah Rea tanpa ragu sediktpun.
"Tidak ada lagi yang kami curigai selain dia pak," seru Mira membuat Rea semakin terpojok.
Kondisi nya begitu berat hingga ia tak bisa lagi membela diri nya sendiri dalam keadaan sendirian tanpa kawan seperti saat itu.
"To- tolong, aku mohon," rintih Rea sembari menangis di hadapan Bos besar yang kini terus saja menatap nya.
"Bukan kah dia..?," ucap pak polisi mulai mengingat wajah wanita yang kini ada di hadapan nya itu.
"Kerudung tak bisa menutupi kedok mu selama nya," ujar polisi yang lain bersiap untuk memborgol tangan Rea.
Tangisan Rea langsung pecah di saat itu juga, ia semakin histeris saat borgol telah benar benar terpasang di kedua tangan nya.
"Hentikan!," sentak Bos besar seketika begitu mengejutkan semua yang ada di sana.
Nada sentakan itu begitu membuat Mira ketakutan, terlebih Tia yang sebelum nya belum pernah mengenal sosok Bos besar secara langsung.
Sentakan itu?, batin Mira merasa ada hal besar yang akan menimpa mereka saat itu.
__ADS_1