Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Saling Ketertarikan antara dokter Malik dan Mawar.


__ADS_3

Mobil dokter Malik berhenti di halaman pesantren.


Terlihat pak kyai Usman mondar mandir di teras pesantren dengan gelisahnya.


Dokter Malik turun dari mobilnya dan menemui pak kyai.


"Assalammualaikum pak kyai", ucap Dokter Malik mencium punggung tangan pak kyai.


"Walaikumsalam", ucap pak Kyai memandangi dengan seksama lelaki muda yang ada di hadapannya.


Ia kemudian mengingat siapa lelaki muda dihadapannya itu.


"Astagfirullah, nak Malik..??, anaknya bu Maryam", ucap pak kyai memeluk Dokter Malik.


"Alhamdulillah, pak kyai masih ingat saya dan mama", ucap dokter Malik.


"Bagaimana pak kyai bisa lupa, mama mu sangat berjasa bagi pesantren ini, ngomong ngomong ada hal apa nak Malik datang ke sini..??", ucap pak kyai penasaran.


Mawar dari dalam mobil memperhatikan kedekatan dokter Malik dan pak kyai.


Sepertinya dokter Malik benar benar orang baik, sehingga pak kyai pun sangat dekat dengannya.


"Tidak ada masalah apa apa pak kyai, kebetulan tadi pagi saya sengaja ingin mengunjungi pesantren, sudah lama saya tidak berkunjung kemari, dan tadi pagi saya tak sengaja bertemu Mawar dan ibunya, katanya ia tinggal di sini


.??", ucap dokter Malik menjelaskan.


Pak kyai kembali ingat akan Mawar dan ibunya.


"Astagfirullah, pak kyai sampai lupa, iyaa iyaa, sejak pagi tadi mereka belum pulang, pak kyai gelisah menunggu mereka, takut terjadi apa apa nak", ucap pak kyai kembali gelisah.


"Tenang pak kyai, Mawar dan ibunya ada di dalam mobil saya, mereka tadi pagi terkena musibah, jadi saya rawat dulu di rumah sakit, baru sekarang saya mengantar mereka pulang", ucap Dokter Malik.


"Ya Allah, kenapa lagi dengan mereka..??, bagaimana keadaan mereka nak..??", ucap pak kyai semakin khawatir.


Dokter Malik membuka pintu mobil dan menunjukkan kondisi Mawar dan ibunya.


Pak kyai melihat mereka dengan seksama.


"Alhamdulillah, jika kalian tak apa apa", ucap pak kyai sedikit lega.


"Mari pak kyai, kita antar mereka", ucap dokter Malik memasuki mobilnya.


"Baik nak", ucap pak kyai ikut masuk ke dalam mobil menuju pondok Mawar.

__ADS_1


"Didepan nak", ucap pak kyai ketika mobil kian mendekati pondok, yang terlihat asri, bersih dan terawat.


Dokter Malik menghentikan mobilnya.


Membantu mengangkat mbak Lastri memasuki pondok.


"Assalammualaikum" ucap mbak Lastri memasuki rumahnya.


Dokter Malik membawa mbak Lastri kekamarnya untuk istirahat.


"Terima kasih ya dok", ucap mbak Lastri menahan sakit di kakinya.


"Sama sama buk, dan tolong panggil saja saya Malik, dan kamu juga ya Mawar", ucap Dokter Malik.


Mawar hanya mengangguk tanpa berani memandang dokter Malik.


Mbak Lastri sangat menyukai dokter Malik.


Aku akan sangat senang jika meninggalkan dunia ini saat Mawar telah memiliki pendamping seperti dokter Malik, gumam mbak Lastri dalam hati.


"Iyaaa nak Malik, terima kasih", ucap mbak Lastri.


"Ya sudah saya permisi dulu ya buk, jangan lupa obatnya diminum", ucap dokter Malik mencium punggung tangan mbak Lastri.


"Mari mas Malik", ucap Mawar dengan senyumnya dan kepala yang masih tak berani memandang dokter Malik secara terang terangan.


Dokter Malik sepertinya terkesima dengan Mawar pada hari pertama ia bertemu Mawar.


Keanggunan dan sifatnya menjadi keistimewaan tersendiri untuk dokter Malik memandang seorang wanita.


Dokter Malik duduk di ruang tamu dengan pak kyai, dan menceritakan semua yang telah terjadi.


Sementara Mawar membuatkan mereka teh di dapur.


"Astagfirullah, siapa yang tega dengan Mawar dan ibunya", ucap pak kyai tak habis pikir.


"Saya juga berfikir begitu pak kyai", ucap dokter Malik.


Mawar keluar dari dapur membawa 2 cangkir teh.


Mawar mempersilahkan Dokter Malik dan pak kyai meminum teh buatannnya.


Dokter Malik dan pak kyai pun menikmati teh buatan Mawar.

__ADS_1


Pandangan dokter Malik tak berhenti mengitari seisi pondok Mawar.


Sederhana tetapi sangat nyaman.


Pandangannya berhenti pada sebuah mesin jahit dan setumpuk mukenah.


"Kamu membuat mukenah Mawar..??", ucap dokter Malik.


Mawar terkejut Dokter Malik menanyakan mukenah miliknya.


"Iyaa mas, saya usaha mukenah sekitar 1 tahun ini, untuk membantu ibuk", ucap Mawar.


"Mawar itu pintar sekali membuat mukenah, mukenahnya selalu habis setiap ia menjualnya offline maupun online lhoo nak Malik", ucap pak kyai.


"Wah, namanya rejeki memang banyak jalannya ya pak kyai", ucap dokter Malik dengan menunjukkan senyumnya saat mengobrol dengan pak kyai.


Mawar entah kenapa mencuri pandang kepada lelaki muda di depannya itu, ia mengangkat pandangannya ke arah dokter Malik.


Sepertinya Mawar mulai menyukai dokter Malik.


Pak kyai sepertinya mengetahui, bahwa baik Mawar maupun dokter Malik sepertinya ada rasa satu sama lain.


Dokter Malik melihat ke arah jam tangannya.


"Pak kyai, Mawar, saya pamit dulu, sudah hampir isya, mama pasti khawatir di rumah", ucap dokter Malik mencium punggung tangan pak kyai.


"Ya sudah, salam untuk mama dan papamu ya nak, terima kasih atas pertolonganmu", ucap pak kyai mengantar dokter Malik keluar dari pondok.


"Assalammualaikum", ucap dokter Malik memasuki mobilnya.


"Walaikumsalam", ucap pak kyai dan Mawar serempak.


Mobil dokter Malik pun terlihat sudah keluar dari gerbang pesantren.


Pak kyai pun menghela nafas dan menatap Mawar.


"Apakah ini perbuatan mama mu Mawar...??", ucap pak kyai dengan wajah datar.


"Bukan pak kyai, itu hanya kecelakaan biasa", ucap Mawar menyembunyikan tentang ulah mbak Gea.


"Bapak kira mama mu berulah lagi, ya sudah bapak tinggal dulu ya, jaga ibumu, assalammualaikum", ucap pak kyai pergi meninggalkan pondok Mawar.


"Walaikumsalam", ucap Mawar masuk dan menutup pintu pondoknya.

__ADS_1


__ADS_2