Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Masihkah kau menginginkanku..??


__ADS_3

"Trima kasih mas, sudah membantu mami selama ia sakit sampai akhirnya pulih seperti sekarang ini", ucap Mawar mengantar Burhan menuju pintu depan.


"Tak apa Mawar, aku ikhlas membantu, ya sudah aku pamit ya, assalammualaikum", ucap Burhan melangkah keluar dari rumah Mawar.


"Tunggu Mas..!!", seru Mawar menghentikan langkah Burhan.


Mawar berjalan mendekat ke arah Burhan.


"Soal pengakuan ku di depan dokter Malik dan di depan Mami tentang aku menerima mas, aku minta maaf jika aku lancang", ucap Mawar merasa tak enak.


"Gpp kok, santai saja", ucap Burhan yang seketika merasa bahwa pengakuan Mawar yang telah menerimanya hanya pura pura di depan Malik dan keluarganya.


"Tapi mas..??", ucap Mawar malu.


"Kenapa..??", ucap Burhan.


"Mas benar benar serius sama Mawar..??", ucap Mawar.


"Insyaallah Mawar, kenapa kamu bertanya begitu..??", ucap Burhan heran.


"Mas sudah tau asal usul Mawar kan...??, siapa ibu dan ayah kandung Mawar dan bagaimana masa kelam mami, apakah mas masih menginginkanku..?", ucap Mawar menginginkan jawaban sebelum ia benar benar memilih lelaki dihadapannya itu.


"Kamu tau Mawar, aku sudah menjadi yatim piatu sejak lama, hanya anak anak rumah singgah keluargaku, kami selalu dipandang sebelah mata oleh orang orang tertentu, tapi hidup terus berjalan, kita tidak akan bisa hidup hanya dengan memandang masa lalu, yang terpenting bagaimana kita menata hidup dan masa depan yang jauh lebih baik lagi, aku memilihmu karna Allah Mawar, dan aku akan meninggalkanmu karna Allah juga yang mengambil nyawaku kelak", ucap Burhan memegang pundak Mawar.


Mawar tertunduk dan tak terasa air matanya menetes.


Inikah calon imamku...???, gumam Mawar dalam hati.

__ADS_1


"Ya sudah kamu istirahat ya", ucap Burhan yang lagi lagi tidak memaksa Mawar untuk memutuskan semuanya secara instan.


"Mas...!!", ucap Mawar menghapus air matanya.


"Aku harus pulang, gak enak sama tetangga", ucap Burhan mengelus jilbab Mawar.


Seketika Mawar memejamkan matanya


dan memberanikan diri mengutarakan apa yang ingin ia utarakan sejak tadi.


"Aku menerimamu mas, sudilah kamu menjadikanku makmum mu", ucap Mawar menatap Burhan dengan senyumnya yang menawan.


Burhan kaget dan seketika tersenyum.


Ia tak menyangka Mawar mau menikah dengannya.


"Alhamdulillah...!!, beneran Mawar ...??", seru Burhan membuat mbak Lastri keluar dari dalam rumah.


Burhan memeluk Mawar dalam dekapannya.


"Buk..!!, Mawar mau menikah sama Burhan", seru Burhan menoleh ke arah Mbak Lastri yang tengah berdiri di pintu depan.


Mbak Lastri pun tak kuasa membendung rasa bahagianya melihat momen mengharukan didepannya.


Ia menghampiri Mawar dan memeluknya.


"Selamat ya nak, ibuk yakin di setiap kesedihan pasti ada kebahagiaan untukmu", ucap Mbak Lastri merangkul mereka berdua.

__ADS_1


"Ibuk mau kasih tau kabar ini ke mami dulu ya", seru Mbak Lastri bergegas masuk ke dalam rumah.


"Insyaallah aku akan belajar mencintaimu mas", ucap Mawar.


"Aku akan tunggu waktu itu datang", ucap Burhan memegang tangan Mawar.


"Mas, katanya mau pulang..??", seru Mawar yang melihat Burhan terus memegangi tangannya.


"Astagfirullah, iyaa lupa, aku pulang dulu ya, assalammualaikum", ucap Burhan masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi.


"Walaikumsalam", ucap Mawar melambaikan tangannya.


Mawar pun masuk ke dalam rumah dan di sambut kedua ibunya.


"Mawar....!!!, selamat ya sayang", seru Geyna memeluk Mawar seakan rasa lemas di tubuhnya hilang dan masalah tentang Bram ia lupakan.


"Mami...!!, mami kok gak istirahat..??", ucap Mawar.


"Mami udah sehat sayang, pas denger berita pernikahan kamu sama Burhan", ucap Geyna kegirangan.


"Alhamdulillah mi, doakan Mawar ya", ucap Mawar bahagia.


"Pasti sayang, kamu pantas bahagia", ucap Geyna mengecup kening Mawar.


"Fatimah juga seneng bunda, sebentar lagi bakal punya ayah", seru mbak Lastri menggendong Fatimah.


"Uhhhh anak bunda, seneng ya nak..??, semoga ia bisa jadi ayah yang baik ya buat Fatimah", ucap Mawar menimang nimang Fatimah.

__ADS_1


Mereka berpelukan seakan sudah melupakan duka yang telah lalu dan mencoba membuat awal yang baru kembali.


Terima kasih tuhan, engkau masih memberi kebahagiaan pada wanita pendosa sepertiku ini, gumam Geyna dalam hati, dan larut dalam pelukan Mawar dan Mbak Lastri.


__ADS_2