
"Bik !, saya mau pergi, jaga rumah ya", seru dokter Malik bergegas menuju mobil nya yang telah siap di halaman depan.
"Baik tuan", sahut nya merasa heran dengan tingkah majikan nya pagi itu yang begitu amat bahagia.
Saat dokter Malik ingin masuk ke dalam mobil nya.
Sebuah mobil berwarna putih lebih dulu memasuki halaman rumah nya.
"Seperti nya aku tak ada janji hari ini", gumam dokter Malik sembari membenarkan fokus kaca mata nya demi memperjelas penglihatan nya mobil siapa yang tengah memasuki halaman rumah nya.
Dokter Malik masih saja merasa asing dengan mobil putih yang sekarang telah berhenti di samping mobil nya.
Sesaat kemudian.
Seorang supir turun dari mobil dan bergegas membuka pintu mobil untuk seorang wanita.
Saat wanita itu turun.
Seakan jantung dokter Malik berhenti berdetak.
Ia berulang kali membenarkan letak kaca mata nya, mencoba meyakinkan siapa yang ada di hadapan nya.
"Assalammualaikum dokter", ucap nya dengan tutur kata yang halus dan tak berubah sama sekali semenjak dokter Malik mengenal nya.
Dokter Malik langsung mencoba mengatasi kegugupan nya sembari menyembunyikan tangan nya yang masih gemetar.
"Walaikumsalam, Mawar ?", sahut dokter Malik bahagia bercampur tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Sekilas, memori masa lalu mereka muncul.
Saat Dokter Malik dan Mawar masih berusia 25 tahun nan.
Mereka saling berhadapan membalas senyum satu sama lain.
"Dokter ?", seru Mawar membuyarkan lamunan dokter Malik.
"Astagfirullah !, maaf, aku begitu terkejut saat melihat mu datang", seru nya.
Mawar langsung tersenyum dengan anggun nya.
"Maaf kalau kedatangan ku membuat dokter terkejut, salah ku karna tidak mengabari dokter terlebih dulu sebelum nya, tapi mau bagaimana lagi, ayah ku ada di sini, jadi inilah tempat pertama yang aku kunjungi saat kepulangan ku ke Indonesia", ucap Mawar menjelaskan maksud kedatangan nya.
Benar !, kau pasti datang untuk ayah mu, tidak ada alasan lain di balik itu, bahkan alasan untuk bertemu dengan ku, gumam dokter Malik dalam hati mempersilahkan Mawar untuk duduk di kursi teras nya.
"Tunggu sebentar !, aku membawa kedua malaikat ku juga", seru Mawar membuat dokter Malik langsung paham dengan maksud nya.
"Oh ya !, dimana mereka ?, sudah lama aku tak bertemu malaikat malaikat itu", seru dokter Malik membuat Mawar ikut tersenyum mendengar nya.
__ADS_1
"Ayo sayang !, beri salam sama om kalian", seru Mawar membuat Fatimah dan Aqly segera turun dari mobil.
"Assalammualaikum om", seru Fatimah segera mencium punggung tangan dokter Malik dan tersenyum indah persis seperti senyuman indah bunda nya, yaitu Mawar.
Sementara Aqly, dengan diam dan sikap ogah ogah an, mencium punggung tangan dokter Malik dan bergegas kembali ke samping bunda nya.
"Sudah bunda ?, kata nya kita mau ke rumah kakek lalu ke makam ayah dan nenek", keluh Aqly melirik jam tangan nya berulang ulang kali, seakan ada hal yang tidak mau ia lewatkan hari itu.
Persis seperti yang digambarkan Thoriq, gumam dokter Malik dalam hati lalu berbalik memandang Fatimah yang masih tersenyum tanpa melepas pegangan tangan nya dari dokter Malik.
Mereka bak dua kubu yang berbeda, semoga itu hanya kenakalan seorang anak kecil, gumam dokter Malik lagi.
"Jaga sikap mu di depan orang lain !, Ini lah tempat tinggal kakek sayang, dokter Malik yang merawat kakek selama ini", ucap Mawar tak ada lelah nya memberi pengertian baik pada putra nya.
"Owh ", ucap Aqly singkat.
"Dulu dia masih kecil saat datang ke rumah ini, wajar saja jika ia lupa", ucap dokter Malik tak mempermasalahkan sikap cuek Aqly pada nya.
"Bisa kami bertemu ayah ?", tanya Mawar penuh harap.
"Ayah sudah tidak tinggal di sini lagi", ucap dokter Malik membuat Mawar terkejut.
"Tapi dokter janji mau merawat ayah waktu itu bukan ?", seru Mawar mulai khawatir dengan nasib ayah nya.
"Bukan begitu Mawar", seru dokter Malik.
"2 tahun setelah kepergian mu ke Amerika, ia mulai bersemangat untuk sembuh, segala macam terapi ia ikuti, dan ia di nyatakan sembuh satu tahun yang lalu", terang dokter Malik membuat Mawar semakin terkejut tapi juga merasa bahagia.
"Lalu dimana ayah sekarang ?", tanya Mawar tidak sabar bertemu dengan ayah kandung nya.
"Ia memutuskan untuk tinggal di rumah singgah mu yang di kelola oleh Azizah, sudah satu tahun ini ia di sana membantu merawat anak anak terlantar", ucap dokter Malik membuat Mawar tak bisa membendung air mata bahagia nya lagi.
"Masyaallah !, Allah telah menunjukkan cahaya untuk ayah Bram", seru Mawar mengucap syukur tiada henti.
Kamu masih gadis paling sempurna di mata ku sampai saat ini Mawar, gumam dokter Malik dalam hati selalu takjub dengan apapun tentang Mawar, baik ucapan, sikap, dan tindak tanduk nya.
"Aku akan ke rumah singgah sekarang", seru Mawar mengusap air mata nya.
"Aku ikut !", seru dokter Malik langsung di jawab anggukan dan senyuman oleh Mawar.
"Bunda, aku boleh satu mobil dengan om Malik ?", tanya Fatimah.
"Boleh sayang, dokter jaga anak ku", ucap Mawar sembari masuk ke dalam mobil nya bersama Aqly.
"Yuk Fatimah", seru dokter Malik merasa begitu damai saat berada di dekat anak itu.
_____
__ADS_1
Beberapa jam kemudian.
Mobil mereka berdua telah sampai di depan gerbang rumah singgah yang di kelola oleh Azizah dan ibu nya.
Seorang satpam nampak tergesa gesa membuka pintu gerbang saat mengenali mobil dokter Malik yang saat itu datang.
Mawar menatap rumah di hadapan nya dari dalam mobil.
Tak terasa air mata nya menetes.
Kenangan masa lalu nya kembali muncul di hadapan nya.
Aku sampai tak sengaja melupakan kenangan indah itu, gumam Mawar dalam hati menciptakan bayangan masa lalu suami serta ibu dan mami nya yang selalu melambai di teras rumah menyambut nya saat pulang ke rumah.
"Aku pulang", ucap Mawar lirih sembari mengusap air mata nya yang berulang kali menetes.
Sedangkan di halaman samping rumah.
Seorang lelaki yang tak lain ialah pak Bram terlihat sedang asyik bermain dengan anak anak asuh nya saat Mawar dan dokter Malik datang.
Ia segera berdiri dan mencoba mendekat saat melihat mobil putra nya memasuki halaman rumah.
"Malik datang sama siapa mang ?", tanya pak Bram pada satpam mereka.
"Saya gak tahu pak", seru nya.
Pandangan nya terus terfokus pada kedua mobil di hadapan nya.
Saat dokter Malik turun dari mobil, begitu pun dengan Mawar.
Mata pak Bram langsung membelalak tak percaya.
Mulut nya menganga dan tubuh nya menjadi lunglai.
Mawar tersenyum sembari menggandeng Aqly berjalan ke arah pak Bram yang tak lepas memandang mereka.
"Assalammualaikum ayah", ucap Mawar segera meraih tangan sang ayah dan mencium nya sambil meneteskan air mata.
"Mawar ?", tanya pak Bram meyakinkan.
Mawar hanya mengangguk sembari menahan tangis nya.
"Anak ku pulang !", teriak pak Bram segera memeluk Mawar dengan erat sembari menangis dengan keras nya.
"Aku pulang yah", ucap Mawar menangis di pelukan sang ayah.
Membuat semua penghuni rumah ikut meneteskan air mata kebahagiaan menyaksikan pertemuan antara ayah dan anak setelah sekian lama berpisah.
__ADS_1