Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Perintah pertama.


__ADS_3

"Akhirnya kamu pulang", seru dokter Malik menyambut kepulangan Aqly, namun diri nya lagi lagi tak di anggap sama sekali dan tak dihiraukan oleh Aqly.


Aqly terus berjalan masuk ke dalam rumah dan menghentikan langkah nya tepat di ruang tamu.


"Kenapa bunda tak menyambut kepulangan ku ?", keluh Aqly.


"Bunda mu ada di kamar nya, sebaiknya kamu jenguk dia, dia masih belum sepenuh nya pulih", sahut dokter Malik masih mencoba sabar menghadapi anak tiri nya itu.


"Tak mau !, aku capek !, bunda yang ingin aku pulang kan ?, jadi biar dia yang mencari ku", seru Aqly berjalan ke kamar nya.


"Aqly !", seru dokter Malik merasa Aqly sudah sangat keterlaluan.


"Tak usah pasang muka marah di hadapan ku !, aku tak pernah takut dengan mu", ketus Aqly kembali berjalan menuju kamar nya.


"Bunda sudah ada di sini, harus apa lagi bunda kali ini untuk membuat mu puas Aqly ?", seru Mawar membuat langkah kaki Aqly terhenti.


"Mawar !, kamu belum pulih betul !", seru dokter Malik mencoba memapah Mawar untuk kembali ke kamar nya.


"Aku tak apa mas, anak ku meminta sambutan dari ku, biar aku menyambut nya agar hati nya sedikit melunak", ucap Mawar membuat Aqly berdecak tak suka.


"Jangan lakukan apapun oke !, aku tahu kau sedang marah dengan semua yang terjadi, lebih baik kamu istirahat", seru dokter Malik terus mencoba membujuk Mawar, ia takut Mawar terbawa emosi dan membuat jarak nya dengan sang putra semakin renggang.


"Tidak mas !, aku akan melayani dia, aku akan memasak dan menyiapkan semua keperluan nya, hanya keperluan nya !, entah bagaimana pun kondisi ku", sahut Mawar mencoba berjalan menuju ke arah dapur.


Namun tubuh Mawar yang masih terlalu lemah, membuat nya hampir terjatuh.


Beruntung nya, dokter Malik dengan sigap menopang tubuh Mawar saat diri nya hampir tersungkur ke lantai.


"Astaga !, dengarkan ucapan ku sekali saja !", seru dokter Malik sembari menghela nafas panjang.


"Cih !, jika kalian hanya ingin menunjukkan kebersamaan kalian di depan ku, lebih baik aku pergi saja dari sini !", ketus Aqly membuat air mata Mawar menetes.


"Bisa jaga ucapan mu Aqly !", sentak dokter Malik terbawa emosi.


"Wow !, woles !, ambil saja bunda ku, aku tak peduli", ketus Aqly seketika mendapat sebuah tamparan dari dokter Malik.


"Aku mungkin harus menumpuk semua keberanian ku untuk melakukan ini Aqly !, tapi sikap mu itu sangat pantas mendapatkan tamparan itu !", sentak dokter Malik membuat Aqly dan juga Mawar amat terkejut di buat nya.


"Kamu berani menampar ku !", teriak Aqly tak terima.

__ADS_1


Seketika itu juga tamparan kedua di terima kembali oleh Aqly.


Aqly terpaku di tempat nya berdiri sembari memegangi pipi nya.


"Tangan bunda juga menampar mu lagi kali ini nak !, apa kamu dendam dengan bunda ?", seru Mawar meluapkan amarah nya setelah menampar Aqly, sementara dokter Malik hanya menatap Mawar yang berada di hadapan nya, wanita yang dulu penyabar dan tak pernah marah, kini harus meluapkan semua nya saat diri nya mencoba mendidik sang anak kembali ke jalan yang benar.


"Bunda menampar ku lagi ?", seru Aqly tak percaya.


"Kamu tahu nak !, dalam beberapa pekan ini, semua yang terburuk seakan mengepung bunda !, kamu tahu ?, kamu di keluarkan dari sekolah mu !, mau jadi apa kamu ?", sentak Mawar naik pitan.


"Aku tak peduli dengan sekolah membosankan itu !", sahut Aqly tanpa merasa terkejut dengan berita itu.


"Buka mata kamu Aqly !, banyak anak di luar sana yang ingin sekali bersekolah !, sedangkan kamu ?", seru Mawar masih terus memperdebatkan semua perilaku buruk Aqly.


"Apa penting nya sekolah bunda !, aku juga bisa sukses tanpa bersekolah !, bunda dulu juga begitu kan !", sahut Aqly membuat Mawar mencoba mendekati sang putra dan menepuk nepuk diri nya sendiri.


"Jangan sama kan bunda dengan mu !, bunda dulu tak seberuntung diri mu, dan bunda juga sudah berusaha agar kamu tak merasakan yang bunda rasakan dulu !", seru Mawar berderai air mata.


"Lebih baik kita hentikan ini semua bunda, aku capek !, biar sekolah itu urusan ku, aku tak membutuhkan nya lagi, aku akan buktikan aku bisa sukses hanya dengan kedua tangan ku ini, dan ya bunda, mulai sekarang biarkan aku hidup dengan cara ku !", seru Aqly bergegas pergi dari hadapan sang bunda untuk kembali ke dunia luar yang menurut nya tempat ternyaman untuk nya saat itu.


"Aqly !, berhenti !", teriak dokter Malik mencoba menghentikan Aqly, tapi bahkan seruan itu tak membuat Aqly kembali menoleh kebelakang, bagaimana mungkin dokter Malik akan berharap seruan nya bisa membuat Aqly mengurungkan niat nya untuk kembali pergi dari rumah.


"Maafkan aku Mawar", ucap dokter Malik saat kembali tiba di dalam rumah.


"Tapi dia anak mu Mawar !", sahut dokter Malik.


"Memang dia anak ku mas, tapi jika aku terus menerima semua sikap buruk nya itu, bagaimana aku akan mempertanggung jawab kan tugas ku sebagai orang tua di akhirat nanti !", seru Mawar berusaha sekuat tenaga berjalan kembali ke kamar nya.


------------


"Keterlaluan !", ketus Aqly sembari masuk kembali ke dalam kediaman Bos besar.


Melihat tingkah Aqly yang nampak kesal, Bos besar tersenyum licik dari kejauhan.


Inilah waktu nya, batin Bos besar.


Ia berjalan mendekati Aqly yang nampak bersandar di sofa, seakan ia mencoba untuk meredam emosi nya dan melupakan kekesalan nya terhadap keluarga nya.


"Kamu kembali Aqly ?", tanya Bos besar menuangkan segelas air soda untuk Aqly.

__ADS_1


"Seperti nya aku lebih nyaman di sini, persetan dengan hak ku !",keluh Aqly membuat Bos besar tertawa.


"Aku sangat paham itu Aqly", seru Bos besar.


"Bagaimana kamu bisa paham bos ?, sedangkan kamu sudah memiliki segalanya di usia mu yang masih terbilang muda", sahut Aqly.


"Kamu tahu Aqly, seorang lelaki kadang harus lebih berani lagi dalam hidup, mengandalkan kesempatan yang datang pada kita", seru Bos besar mulai mempengaruhi Aqly.


"Seperti apa yang ku pikirkan selama ini !, aku pasti bisa sukses dengan tangan ku ini tanpa bantuan mereka", seru Aqly bersemangat.


Ucapan Aqly sontak membuat Bos besar kembali tertawa.


"Tapi sebelum itu, kamu harus menghilangkan sifat polos mu itu Aqly, sungguh itu menggelitik ku, hahahaha !", seru Bos besar sampai memegangi perut nya saat tertawa.


"Siap Bos !, lalu ?, apa yang harus aku lakukan ?", tanya Aqly semakin bersemangat.


"Aku akan menjadi partner pertama mu, bagaimana ?", seru Bos besar membuka tutup bir di hadapan nya.


"Tak masalah ", sahut Aqly meneguk segelas soda yang telah di tuangkan Bos besar untuk nya.


"Hahahaha, aku suka dengan semangat mu Aqly !", seru Bos besar mengisi gelas nya dan juga gelas Aqly yang kembali kosong.


Namun kali ini berbeda, gelas Aqly yang selalu ia isi dengan soda kini ia isi dengan minuman yang sama dengan nya, yaitu sebuah bir.


"Bos ?", seru Aqly menatap heran saat Bos besar menuangkan bir ke dalam gelas nya.


"Ini adalah tugas pertama mu dari ku, minumlah !, tak apa jika kamu tidak habiskan dalam sekali teguk", seru Bos besar tersenyum dengan licik nya.


Aqly terdiam beberapa saat sembari memandang gelas nya, terbayang rasa pahit yang pernah ia rasakan di club malam waktu itu akan terulang lagi jika ia meneguk bir di hadapan nya.


Bos besar masih dengan sabar menunggu reaksi Aqly selanjut nya.


Sembari meneguk bir di gelas nya, ia memandang Aqly dengan penuh harap.


Aku berharap banyak pada mu, batin Bos besar sembari meneguk habis bir di gelas nya.


Lalu, bos besar begitu terkejut saat melihat Aqly meraih gelas nya dan mencoba meneguk bir di gelas nya, bahkan Aqly mencoba menghabiskan nya dalam sekali teguk, dan ternyata berhasil.


"Luar biasa !", seru Bos besar menepuk punggung Aqly dan memeluk nya dengan erat.

__ADS_1


Aqly yang masih menahan mual akibat minuman itu merasa bahagia karna ia merasa telah berhasil membuat hati bos besar senang dan puas.


Aqly merasa di tangan Bos besar lah ia akan sukses dan tak lama lagi ia akan membuktikan nya pada sang bunda.


__ADS_2