Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Istri yang tak pernah dianggap.


__ADS_3

Sejak saat itu, teh hangat selalu siap di meja makan setiap pagi nya.


Hal kecil itu ternyata berdampak besar pada Bos besar.


Teh itu tanpa sengaja dapat mengurangi frekuensi merokok Bos besar.


Bahkan minuman keras pun hanya ia konsumsi saat mengobrol dengan tamu tamu nya menjelang malam.


"Ini teh nya Mira," ucap Fatimah menyodorkan teh buatan nya ke tangan Mira.


"Sampai kapan kamu begini Fatimah?," keluh Mira.


"Sampai takdir memberi kepastian akan hubungan ku dengan nya," sahut Fatimah tak menyadari bahwa Bos besar sedang berjalan menuju ke arah mereka.


Saat mendengar percakapan Mira dan Fatimah, seketika langkah kaki Bos besar terhenti.


"Para wanita itu!, sepagi ini sudah sempat sempat nya bergosip," keluh Bos besar masih tak menyadari apa yang sedang di bicarakan oleh Fatimah dan Mira.


"Jika Bos besar tahu kalau kamu yang membuat teh ini, kita bisa celaka Fatimah," seru Mira membuat Bos besar tercengang mendengar nya.


What!, batin Bos besar tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Dengan wajah yang nampak kesal, Bos besar berjalan semakin mendekat menuju ke arah mereka.


Begitu terkejut nya mereka saat mendengar sebuah gemuruh suara tepuk tangan.


"Wah! Hebat!, jadi selama ini kalian membodohi aku!," seru Bos besar masih nampak mencoba mengontrol amarah nya.


"B-bos," ucap Mira langsung bergetar ketakutan.


"Maaf Bos, aku tidak bermaksud apa apa dengan melakukan semua ini," seru Fatimah mencoba bersikap setenang mungkin.


"Its oke, kamu memang suka sekali kan membuktikan bahwa kamu adalah istri yang terbaik," ucap Bos besar menatap tajam ke arah Fatimah yang masih tak berani menatap ke arah nya.


"Tidak!, bukan itu tujuan ku," sahut Fatimah menepis prasangka buruk dari mulut sang suami.


"Tak usah berbohong!," sentak Bos besar sembari menggebrak meja makan hingga membuat Fatimah dan Mira semakin ketakutan.


Bahkan semua penghuni rumah bordil berhasil di buat berhamburan ke arah mereka saat mendengar suara kencang dari arah meja makan.


"Aku tulus melakukan nya," sahut Fatimah merasa tak melakukan salah apapun.


"Buls*t!," sentak Bos besar mengambil secangkir teh di hadapan nya dan segera melemparkan nya dengan keras ke lantai.


Pyar!!!!.


Membuat semua wanita berteriak histeris saat itu.


"Apa lagi yang dia lakukan kali ini Bos?, tanya Rea penasaran.

__ADS_1


"Dia memang wanita wajah tembok!," hina Lely dengan seenak nya.


Spontan Bos besar berjalan mendekati Rea dan segera menarik pinggul seksi Rea hingga merapat ke tubuh sang Bos.


Semua nya di buat menganga saat melihat hal itu.


Terutama bagi Fatimah.


Sesuai yang ia yakini, seorang suami tidak boleh menyentuh wanita lain selain istri nya, terlebih di hadapan sang istri.


"Kenapa kau menatap ku begitu?," seru Bos besar dengan sengaja.


Namun Fatimah masih tak menjawab pertanyaan Bos besar, ia masih bingung harus bersikap seperti apa lagi di hadapan sang suami yang sudah jelas jelas tak menginginkan nya.


"Apa kau cemburu?, istri ku?," tanya Bos besar sembari menatap wajah Rea yang masih tertegun menatap balik Bos besar yang belum melepaskan dekapan tangan di pinggul nya.


"Bos tolong hentikan," ucap Mira memohon.


"Hentikan!,", seru Bos besar tertawa.


"Aku berhak melakukan apapun semau ku, dan aku juga berhak mendapatkan pelayanan dari siapapun yang aku kehendaki di sini!, dan aku tak suka jika dia ikut campur dengan semua itu!," sentak Bos besar membuat Fatimah meneteskan air mata.


"Fatimah hanya sekedar membuat kan Bos secangkir teh, apa itu sebuah kejahatan?," seru Mira tak terima.


"Bahkan secangkir air putih pun, aku tak butuh ia layani!," sentak Bos besar semakin menjadi jadi.


"Untuk apa?, pikirkan saja sendiri!, aku sudah muak dengan sikap naif mu itu," keluh Bos besar tanpa memikirkan perasaan Fatimah.


"Aku tak pernah bermimpi akan hidup dalam sebuah pernikahan seperti ini," keluh Fatimah sesenggukan.


"Oh ya!, apa kau juga membayangkan saat suami mu melakukan ini pada wanita lain?," seru Bos besar mendaratkan sebuah kecupan di bibir ranum Rea.


Membuat semua orang lagi lagi tercengang di buat nya.


"Bos?," ucap Rea tak berkedip, ia seakan meleleh merasakan sentuhan dari Bos besar.


Kenapa harus Rea!, batin Lely kesal.


Sementara Fatimah memilih membuang muka dari pada melihat itu semua.


"Lihatlah Fatimah!, lihat apa yang dilakukan suami mu ini!, aku lebih nyaman menyentuh wanita lain dibanding diri mu!," seru Bos besar sembari menarik tubuh Rea hingga mengapit nya di tepi meja makan.


Kali ini tubuh mereka semakin dekat.


Gerakan gerakan dari Bos besar semakin membuat Rea bergairah.


Rea tak henti henti nya menatap wajah lelaki yang kini mengapit nya.


"Bos, bisa kita lanjutkan ini?," ucap Rea penuh nafsu.

__ADS_1


Membuat Bos besar sedikit terkejut dengan reaksi berlebihan Rea dalam menyikapi sikap nya yang hanya ingin sekedar membuat Fatimah sakit hati.


"Jangan coba coba Rea!," seru Lely berharap dialah yang pertama kali merasakan tidur di bawah tubuh kekar Bos besar.


"Kenapa kau marah Lely?, kau juga akan mendapatkan giliran," seru Bos besar sembari mengamati reaksi dari Fatimah selanjut nya.


Namun Fatimah masih saja tak bereaksi apapun juga.


Hingga membuat Bos besar kembali tertantang.


Segera ia membuka kemeja nya dan menunjukkan tubuh atletis nya, yang berhasil membuat semua mata tersihir akan kekekaran nya.


"Aku tak sabar menghabiskan waktu dengan mu, bukan dengan wanita sok peduli seperti dia!," seru Bos besar membuat air mata Fatimah tak berhenti mengalir.


Karna begitu tak sabar, Rea segera membuka kancing baju nya dan menunjukkan bagian kenyal dari dada nya di depan semua orang tanpa rasa malu.


"A-apa yang dia lakukan?," ucap Aqly yang baru saja bergabung, ia begitu gugup saat itu karna itu adalah kali pertama nya ia melihat secara langsung dada seorang wanita.


Meskipun Bos besar merasa risih dengan reaksi Rea, ia tetap meladeni nya demi memberi sebuah goresan luka di hati Fatimah.


Rea dengan ganas nya segera memeluk Bos besar dan segera mendaratkan ciuman yang bertubi tubi serta ganas di bibir sang bos.


Merasa kalau hal itu sudah kelewat batas, Fatimah segera bergegas menuju kamar nya tanpa berucap apapun juga.


"Fatimah, tunggu!," seru Mira berusaha mengejar nya.


Sesaat setelah Fatimah pergi.


Bos besar dengan segera melepaskan dekapan dan ciuman ganas dari Rea.


Membuat semua orang kebingungan, terlebih Rea.


"Bos?, kenapa berhenti?, mereka juga sudah terbiasa dengan adegan ini. Apa bos malu?, apa kita teruskan di kamar?," seru Rea tak sabar melanjutkan kehangatan yang baru sebentar ia rasakan.


"Cukup Rea!, sebaik nya bos melakukan nya dengan ku dulu!," sentak Lely mencoba mendorong Rea sembari membuka baju nya di hadapan Bos besar yang masih terdiam di tempat nya berdiri.


Astaga!, para wanita itu kenapa?, begitu ingin nya mereka di sentuh?, batin Aqly berusaha memalingkan pandangan nya.


"Ayolah bos," seru Lely menarik tangan Bos besar menuju kamar nya.


"Kurang aj*r kau Lel!," sentak Rea tak terima.


"Cukup!," teriak Bos besar membuat Rea dan Lely terdiam.


"Aku hanya ingin memberi pelajaran untuk Fatimah, tapi kenapa kalian begitu agresif begitu?," keluh Bos besar kembali memakai kemeja nya.


"J-jadi Bos?," seru Rea tercengang dengan kenyataan itu.


"Apa!, kau pikir aku akan serius meniduri mu, begitu?," seru Bos besar berjalan meninggalkan mereka begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2