
Hari itu, kaki Mawar dengan mantap berjalan memasuki rumah yang amat penuh kenangan bagi nya.
Mawar menghidupkan kembali setiap momen indah dalam pikiran nya.
Yang utama ialah momen bahagia nya saat bersama lelaki satu satu nya yang berhasil memiliki hati nya sampai kini.
Momen pahit pun juga terulang kembali, saat kebakaran rumah itu beberapa tahun silam, yang membuat Mawar kehilangan sosok ibu yang merawat nya sejak bayi dengan tulus tanpa memandang bahwa diri nya adalah anak seorang wanita malam.
Mengingat semua itu, Mawar mencoba menghentikan semua memori itu.
Ia berusaha tegar dengan mengusap air mata yang sempat menetes di pipi nya.
"Bunda sering menangis saat kita tiba di Indonesia, sebaik nya kita tetap di Amerika", keluh Aqly sembari berjalan beriringan bersama Fatimah dan dokter Malik.
"Itu tangisan bahagia Aqly", ucap dokter Malik mengacak ngacak rambut Aqly.
"Hentikan !, rambut ku bisa rusak !", ketus Aqly membuat dokter Malik menggelengkan kepala.
Dari dalam rumah, Mawar segera di sambut dua wanita hebat dari kejauhan.
Mawar segera berlari dan memeluk kedua wanita hebat itu.
"Apa kabar sahabat ku ?, apa kabar ibu ?", seru Mawar memeluk erat dua wanita yang kini sudah ada di pelukan nya, mereka
yang tak lain adalah Azizah dan bu Ratih.
"Apakah ini benar Mawar ku ?", seru Azizah berusaha meraba wajah sahabat nya.
Setelah ia yakin dengan raba an tangan nya, Azizah segera menangis dan memeluk erat kembali sahabat yang telah lama tak ia temui.
"Masyaallah Mawar, apa kabar mu nak ?, semoga Allah selalu melindungi mu di mana pun kamu berpijak", seru bu Ratih bergantian memeluk Mawar.
"Saya baik buk, bagaimana kabar kalian ?, aku harap kalian juga baik baik saja", ucap Mawar mengusap air mata yang mengalir di pipi kedua wanita hebat di hadapan nya.
"Kami baik, seperti yang kamu lihat !", seru bu Ratih terlihat amat bahagia.
Lalu pandangan Mawar tertuju pada beberapa foto yang terpajang rapi di tembok rumah.
Ia begitu terkejut saat melihat sebuah foto terpajang di samping foto almarhum ibu Lastri dan mami Geyna.
"Ibu Maryam ?, apa maksud nya ini ?", seru Mawar menatap semua orang yang ada di sana.
__ADS_1
Sedangkan dokter Malik hanya menunduk terdiam saat Mawar menatap nya.
"Apa ini dokter ?", tanya Mawar tapi tak mendapatkan jawaban apapun dari dokter Malik.
"Azizah ?, kamu bisa jelaskan ini ?, kenapa foto bu Maryam di sanding kan dengan foto ibu dan mami, katakan pada ku !, ibu Maryam baik baik saja kan ?", seru Mawar mulai histeris.
"Tenanglah Mawar !", seru dokter Malik mencoba menenangkan Mawar.
"Tolong !, aku ingin bertemu dengan ibu Maryam, antarkan aku pada nya", seru Mawar memaksa dokter Malik.
"Bu Maryam sudah tiada Mawar, dia sudah menyusul ibu dan mami mu 2 tahun silam", seru pak Bram memegang erat tangan putri nya.
Wajah Mawar seketika pucat pasi, tangisan nya langsung pecah saat itu juga.
Tubuh nya langsung lunglai hingga terduduk di lantai.
"Istighfar Mawar !", seru bu Ratih mencoba menenangkan Mawar yang lepas kendali.
"Buk, Azizah, kenapa kalian tak mengabari aku tentang semua ini ?", seru Mawar sesenggukan.
"Kami tak tega Mawar", ucap Azizah mulai ikut menangis.
"Sudahlah Mawar !, semua itu sudah takdir yang maha kuasa", ucap pak Bram mencoba menenangkan Mawar yang tak henti henti nya menangis.
"Jika aku pulang lebih cepat buk", seru Mawar saat bu Ratna mencoba memeluk nya.
"Sabar ya nak, kita doakan mereka, mereka wanita wanita hebat, kesayangan Allah", ucap bu Ratih ikut terenyuh dengan rasa kehilangan Mawar terhadap bu Maryam.
Mawar kemudian mengingat saat diri nya di anggap anak sendiri oleh bu Maryam meskipun bu Maryam tahu bahwa Mawar ternyata adalah anak dari hasil hubungan kotor suami nya di masa lalu.
Bahkan bu Maryam mau menyayangi Mawar seperti ia menyayangi dokter Malik anak kandung nya sendiri.
"Bisa antar aku ke makam nya ?", ucap Mawar masih terus sesenggukan.
"Bu Maryam di makam kan di pemakaman yang sama dengan suami dan kedua ibu mu", ucap pak Bram.
"Kita bisa sekalian mengunjungi ayah dan nenek bunda", seru Fatimah.
Segera Mawar menarik tangan dokter Malik dan membawa nya memasuki mobil di ikuti oleh Fatimah dan Aqly.
"Kenapa semua orang di sini sangat dramatis sekali !", ketus Aqly berusaha mengimbangi langkah kaki bunda nya.
__ADS_1
Selama perjalanan, Mawar terus menatap ke depan tanpa berbicara sepatah kata pun.
Mami, Mawar juga sama kehilangan nya seperti aku dulu saat mami pergi meninggalkan ku sendirian di muka bumi ini, kenapa mami tega meninggalkan kami secepat ini, gumam dokter Malik dalam hati.
Saat mobil mereka telah sampai di area pemakaman.
Mawar segera turun dari mobil sembari menggandeng tangan kedua anak nya.
"Mari", seru dokter Malik menunjukkan arah menuju ke pusaran bu Maryam.
Angin berhembus menerpa jilbab Mawar, mengisyaratkan bahwa ada juga yang sangat bahagia melihat kedatangan Mawar kala itu.
Langkah mereka terhenti saat batu nisan bertuliskan nama Maryam binti Bukhori terlihat jelas di depan mata mereka.
Seketika itu juga, Mawar menangis di makam bu Maryam.
Bahkan berulang ulang kali ia mencium nisan bu Maryam dengan air mata yang terus menetes.
"Maafkan aku Mawar, aku tak dapat mengabari mu karna kamu yang meminta ku untuk pergi dari mu, aku kira aku akan membuat mu marah saat aku mengabari mu lagi", ucap dokter Malik tak mendapat jawaban apapun dari Mawar.
Aku tahu dokter, aku tahu sebenarnya kamu menjaga ku selama ini dari kejauhan, aku juga tahu sebenar nya sangat mudah bagi mu menemukan ku dan menghubungi ku kapan saja, tapi aku juga tahu, kamu melakukan itu semua karna tak ingin mengusik ku saat aku mencoba pulih dari pahit nya masa lalu yang berusaha aku lupakan, maafkan aku, maafkan aku bu Maryam, gumam Mawar dalam hati menghapus air mata nya.
"Kita baca doa sama sama yuk sayang", seru Mawar memegang kedua tangan anak anak nya.
Aqly dan Fatimah hanya menurut, terlebih saat melihat bunda mereka seperti sangat terpukul sekali mendengar berita meninggal nya bu Maryam.
Mereka membaca doa seperti yang selama ini di ajarkan Mawar kepada mereka.
Dokter Malik juga ikut berdoa di samping makam mami nya.
Rasa perih dalam hati nya kembali terasa saat itu juga.
Rasa kehilangan, rasa kesepian, rasa hampa tanpa perhatian sang ibu lagi begitu menyayat dalam hati nya.
Hingga kekuatan nya pun ikut runtuh kala itu.
Air mata nya ikut menetes saat diri nya sedang memanjatkan doa untuk sang ibu.
Melihat itu, Mawar segera mengelus punggung dokter Malik.
Seketika itu juga, tangisan dokter Malik pun pecah.
__ADS_1