
Perlahan kaki Rose mulai melangkah berbaur dengan para wanita lain nya.
Kini satu per satu lelaki hidung belang mulai berdatangan dan mulai memilih satu bahkan dua wanita sekaligus hanya untuk sekedar menemani ia duduk atau bahkan melayani nya malam ini.
"Hai," sapa Rose mencoba mencari teman untuk mengobrol dari pada mati kutu di tengah tengah keramaian rumah malam itu.
Seketika wanita di samping nya menatap Rose dengan tatapan mata sayu nya.
Dengan aneh nya wanita itu juga memandang Rose lengkap dari atas ke bawah seakan sedang menilai penampilan nya kini.
"Apa ini waktu nya untuk bertegur sapa?," sahut wanita itu dengan mata yang mulai basah.
"Sombong!, masih banyak orang lain yang mau ku sapa," ketus Rose membuat wanita itu berdecak pelan.
"Lihatlah wajah mereka?, apa ada wanita yang nampak tersenyum di mata mu?," ucap wanita itu membuat Rose semakin kesal.
"Oke!, sudahlah!, aku tak mau membahas itu," seru Rose sembari mencuri pandang ke arah seorang wanita yang mulai di tarik masuk ke salah satu kamar di rumah itu oleh seorang lelaki hidung belang.
Perlahan Rose kembali ketakutan dan gugup seketika.
Rose semakin berkeringat dingin saat wanita yang sempat berbicara dengan nya beberapa saat lalu kini juga di tarik oleh seorang lelaki hidung belang dan kedua nya mulai hilang dari pandangan Rose masuk ke kamar yang terletak di lantai dua rumah itu.
Aku tak mau mati!, tapi aku juga jijik dengan mereka semua, batin Rose sembari mengusap keringat dingin di wajah nya.
"Hai cantik," seru seorang lelaki tiba tiba merangkul nya dari belakang.
Sontak Rose langsung mencoba menghindar dan berusaha menjaga jarak dari lelaki itu.
"Maaf, saya harus pergi," seru Rose bergegas meninggalkan lelaki itu, membuat para wanita lain menatap nya dengan begitu ketakutan.
Mereka tak bisa membayangkan jika Rea dan Tuan nya tahu akan kelancangan Rose saat itu, hukuman apa yang akan menimpa Rose jika itu terjadi.
"Tunggu!, mau kemana cantik?," ucap lelaki itu semakin lancang memegang pinggang Rose.
Saat Rose ingin memberontak, Rea datang dan membuat nya langsung mematung seketika.
Seakan Rose begitu ketakutan hanya saat melihat kedatangan Rea.
__ADS_1
"Apa para wanita kami membuat mu kesal tuan?," tanya Rea membuat semua wanita langsung menunduk takut tanpa terkecuali.
"Entah kenapa aku malah menyukai sikap nya itu," seru lelaki itu membuat Rose langsung tercengang mendengar nya.
"Baiklah tuan, kami sudah siapkan sebuah kamar untuk tuan di lantai dua," ucap Rea membuat wajah Rose pucat pasi.
"Tidak, untuk malam ini aku mau membawa nya ke hotel," seru lelaki itu membuat Rea sedikit ragu akan ide itu.
Ia begitu takut jika Rose berani kabur saat berada di luar sana.
"Baik tuan," ucap Rea namun tak berani menolak permintaan klien nya.
"Tunggu!, siapa mereka?, kenapa mereka tak di keluarkan sejak awal?," seru lelaki itu membuat Tia dan Sesa yang baru saja keluar kamar langsung gugup ketakutan.
"Mereka juga wanita kami tuan, tapi..," ucap Rea masih belum bisa percaya seratus persen kepada Tia dan Sesa.
"Aku bayar ketiga nya!, tentu bisa kan?," seru lelaki itu sembari terus memandang Tia dan Sesa dengan tatapan mesum nya.
"Baiklah tuan, tapi saya sarankan perketat penjagaan untuk mereka, saya takut..," ucap Rea langsung di sela tawa oleh lelaki itu.
"Apa yang bisa di lakukan wanita desa seperti mereka?, hem!," seru lelaki itu sembari terus tertawa sampai puas.
"A- aku takut Tia," ucap lirih Sesa sembari menahan tangis nya.
"Tenanglah, kita pasti bisa lepas dari semua ini," bisik Tia mencoba menenangkan sahabat nya itu walaupun saat itu ia belum bisa memikirkan sebuah cara untuk kabur dari tempat itu.
-----##-----
Kenapa aku malah jadi pelayan nya seperti ini?, ah!, sial!, batin Aqly sembari terus melajukan mobil nya sesuai perintah dari Fatimah.
"Di depan kita belok kanan ya dik," seru Fatimah yang saat itu duduk di kursi belakang.
Ia nampak sesekali membenarkan posisi duduk Bos besar yang kini sedang duduk tepat di samping nya.
Namun ada yang berbeda dari penampilan Bos besar kini.
Ia terlihat semakin tampan dengan balutan koko muslim yang kini ia kenakan.
__ADS_1
Wajah nya juga tak terlihat seperti orang yang sedang dalam tekanan, bahkan wajah Bos besar lebih terlihat santai dan bahagia dari pada saat ia sehat dahulu.
"Berhenti di depan dik!," seru Fatimah langsung membuat Aqly begitu heran dengan pemberhentian mereka saat itu.
"Kau serius!, ini rumah sakit jiwa!, kenapa kita tak ke panti jompo sekalian buat buang tuh Bos tak berguna!," ketus Aqly masih dengan sikap arogan dan keras kepala nya.
"Cukup Aqly!, jika kau sudah tak mau mengikuti aturan kakak mu ini, aku bisa laporkan semua nya ke kepolisian biar mereka yang memberi mu pelajaran!," gertak Fatimah membuat Aqly berdecak pelan.
Keterlaluan!, batin Aqly segera keluar dari mobil dan menyiapkan kursi roda untuk Bos besar tanpa menunggu di perintah oleh Fatimah.
Perlahan mereka berjalan memasuki bangunan besar di hadapan mereka.
Perlahan tapi pasti, kini kaki Fatimah benar benar telah kembali ke salah satu tempat yang ia rindukan.
Mata nya mulai basah, dan langkah nya mulai lambat saat ia telah benar benar berada di depan salah satu kamar rehabilitasi yang begitu ia kenal.
"Saya permisi, saya ingatkan waktu nyonya hanya sebentar, itu semua demi kebaikan nyonya dan keluarga," ucap sang suster berjalan pergi setelah mengantar Fatimah ke tempat tujuan.
I- ini kan ruang isolasi?, penderita HIV!, batin Aqly begitu merinding ketakutan dan berusaha menjaga jarak dari Fatimah dan rencana konyol apapun yang sedang di mainkan Fatimah saat itu.
Kenapa kau membawa ku ke sini Fatimah?, pelajaran apa yang kini akan kau coba ajarkan pada ku?, batin Bos besar masih menatap heran sebuah ruang isolasi di hadapan nya.
Perlahan, seorang wanita tua yang nampak ringkih mulai berjalan mendekati mereka.
Kini hanya sebuah pintu kaca penyekat yang menjadi jarak mereka dengan wanita tua itu.
"Siapa kalian?, uhuk!, uhuk!," ucap wanita itu yang tak lain ialah Rahel.
Walaupun kini badan nya semakin kurus, dan rambut nya seluruh nya telah memutih, namun wajah keriput nya masih bisa di kenali bahwa ia adalah Rahel, ibu kandung dari Fatimah.
Tanpa mampu bersuara, Fatimah mencoba terus menahan tangis nya walaupun usaha nya begitu sia sia.
Tangisan nya seketika pecah dan membuat Rahel tercengang di buat nya.
Dengan mata yang mulai basah, Rahel mencoba meraba kaca penyekat di antara mereka.
Dengan tangis bercampur tawa, seakan Rahel bisa menebak siapa yang tengah mengunjungi nya saat itu.
__ADS_1
"Putri kecil ku yang cantik telah kembali, putri kebanggaan Mawar, akhir nya pulang" ucap Rahel membuat Bos besar serta Aqly begitu terkejut mendengar nya.