
Mawar akhir akhir ini sibuk sekali dengan mesin jahitnya.
Terlebih pesanan yang masuk dari ibu dokter Malik.
Semenjak kejadian 2 tahun lalu.
Awal pertemuan Mawar dengan dokter Malik, seakan Allah juga membuka jalan rejekinya bagi Mawar.
Ibu dari dokter Malik kebetulan sangat tertarik dengan mukenah rancangan Mawar.
Dan ia pun mencoba memesan beberapa mukenah untuk di jual di butik nya.
Diluar prediksi Mawar dan bu Maryam.
Mukenah buatan Mawar sangat banyak peminatnya.
Bahkan ia kewalahan untuk memenuhi semua pesanan yang ada.
Oleh karna itu, Mawar membuat lapangan pekerjaan bagi santriwati di pesantren dengan visi sambil belajar sambil menghasilkan.
Ia melatih anak anak yang telah lulus dari pesantren untuk lebih menekuni bidang menjahit.
Dan di ajak bekerja sama oleh Mawar untuk berbisnis mukenah.
Pak kyai pun mensupport Mawar sepenuhnya.
Di salah satu pondok di pesantren yang sudah lama kosong, pak kyai sulap menjadi tempat kerja Mawar.
Antusias para santri pun sangat besar, mereka sangat senang dengan pekerjaan dan pelatihan yang di tawarkan Mawar pada mereka.
Terlebih mereka masih bingung harus kemana jika telah lulus dari pendidikan pesantren.
Mawar menawarkan pekerjaan, tetapi saat mereka mendapatkan kesempatan sendiri bekerja di luar pesantren, Mawar tak keberatan melepas mereka.
"Alhamdulillah ya Allah, kalau begini terus, Aku bisa beli rumah untuk ibuk", ucap Mawar memeluk mukenah hasil produksinya.
Lamunannya terbuyarkan oleh sebuah salam di sampingnya.
__ADS_1
"Assalammualaikum", ucap dokter Malik yang sudah berdiri di samping Mawar.
"Walaikumsalam mas, astaga..!!, kamu mengagetkanku saja", ucap Mawar merapikan mukenah di depannya.
"Kamu lagi mikirin apa sih..??, aku ketok ketok pintunya kamu sampek gak denger lhoo", ucap dokter Malik yang semakin membuat Mawar merasa gugup di dekatnya.
"Benarkah mas..??, maaf ya mas, aku tak dengar", ucap Mawar dengan senyum indah di bibirnya dan wajah yang masih tertunduk tak berani memandang mata lelaki di sampingnya itu, meskipun sudah 2 tahun lamanya mereka saling kenal, dan selama 2 tahun ini hampir setiap minggu dokter Malik berkunjung ke pesantren untuk mengambil pesanan mami nya.
"Ibuk mana..??", ucap dokter Malik memandangi sekitar.
"Ibuk lagi istirahat Mas di kamar", ucap Mawar mempersiapkan pesanan bu Maryam.
Karna ia tau kedatangan Dokter Malik untuk mengambil pesanan bu Maryam, jangan sampai ia kelamaan di sini dan ia menyadari kegugupanku saat dekat dengannya, guman Mawar dalam hati.
"Oh ya kamu hari ini gak sibuk..??", ucap dokter Malik.
"Aku sibuk mas", ucap Mawar takut dokter Malik mengajaknya jalan jalan seperti tawarannya setiap ia datang menemui Mawar.
"Ku kira kamu gak sibuk, mama ku cari kamu, ada sesuatu yang ingin ia sampaikan ke kamu", ucap dokter Malik agak kecewa.
"Aku gak sibuk kok mas, maaf, kalau permintaan bu Maryam aku gak sibuk", ucap Mawar dengan kebingungan.
Dokter Malik tak berkata apa apa.
Ia memandang wajah cantik bersinar Mawar yang tak pernah ia lihat 2 tahun terakhir ini.
Subhanallah cantiknya, gumam dokter Malik dalam hati.
Mawar yang menyadari dokter Malik yang memandangi wajahnya seketika berbalik badan membelakangi dokter Malik.
"Maaf mas saya siap siap dulu", ucap Mawar meninggalkan dokter Malik.
"Ehh iya Mawar silahkan", ucap dokter Malik tersipu malu karna Mawar menyadari bahwa ia telah memandangi Wajah Mawar dengan terkesima.
___
"Ayo mas", ucap Mawar dengan gamis berwarna merah muda dan kerudung putih yang menambah keanggunan dalam dirinya.
__ADS_1
"Ayo Mawar", ucap dokter Malik membukakan pintu mobil untuk Mawar.
"Astagfirullah, saya belum pamit pak kyai mas", ucap Mawar menghentikan langkahnya.
"Tenang Mawar, aku sudah minta izin pada pak kyai, dan aku juga sudah membawa semua pesanan mami, ada lagi...??", ucap dokter Malik seperti terburu buru mengajak Mawar ke rumahnya.
"Sudah mas, mari kita berangkat", ucap Mawar sembari masuk ke dalam mobil.
Selama di dalam mobil, tak ada pembicaraan di antara mereka berdua.
Dokter Malik dan Mawar sama sama bingung ingin berbicara apa.
Dokter Malik pun membuka laci mobilnya, niat hati ingin mencari telfonnya.
"Mas itu buku apa..??", ucap Mawar melihat beberapa buku di laci mobil.
"Oh ini, ini novel kesukaanku, jika aku bosan biasanya aku membacanya di manapun itu", ucap dokter Malik.
"Boleh aku melihatnya..??", ucap Mawar.
"Silahkan", ucap dokter Malik mengambil novel itu untuk Mawar.
Mawar memandangi novel itu dan tersenyum.
Dokter Malik pun mengetahui satu hal, Mawar menyukai novel, itu bisa jadi kesempatannya untuk lebih dekat mengobrol dengan Mawar.
"Oh ya Mawar, kamu lebih suka yang mana..??", ucap dokter Malik mencoba mencari topik pembicaraan.
"Emmm saya suka yang ini mas, Ayat ayat cinta dan ketika cinta bertasbih.
Banyak ilmu di dalamnya dan hakikat cinta yang sebenarnya. Serta bagaimana seharusnya kita menyikapi cinta", ucap Mawar mulai terbawa topik pembicaraan dokter Malik.
Mereka pun membahas semua novel kesukaan mereka, setidaknya sedikit kecanggungan Mawar tercairkan oleh percakapan itu.
Sepanjang perjalanan mereka terlihat semakin akrab, jarak antara mereka pun semakin dekat.
Mereka memang sama sama suka, sama sama memendam rasa, tapi tidak ada yang berani mengutarakannya.
__ADS_1