Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Ambil ginjal Mawar mi....!!


__ADS_3

"Pak, sedekahnya, saya lapar...", ucap Geyna sambil terisak isak memegangi sisi perutnya yang semakin terasa sakit.


"Sana sana...!!, kotor banget sih..!!", bentak seorang lelaki di sebuah warteg pinggir jalan.


"Kamu bikin kotor warteg saya aja..!!", seru seorang wanita pemilik warteg, dan dengan sigap menarik tangan Geyna dan menghempaskannya ke jalanan sampai jatuh tersungkur.


"Ahhhkk..!!, sakit buk...", ucap Geyna merintih kesakitan sambil menangis.


"Makanya..!!, waktu muda ngapain aja..!!, udah tua glandang deh, pasti mudanya gak bener", ketus wanita itu pergi meninggalkan Geyna dengan keadaannya yang menyedihkan.


Ia mencoba bangkit dan menahan sakit.


Seperti kata dokter, ginjal Geyna sudah hampir mati, dan ia butuh cuci darah sampai mendapatkan ginjal yang cocok.


Lalu...!!, melihat keadaannya sekarang yang makan pun meminta belas kasih orang lain, bagaimana iya bisa cuci darah atau membeli sebuah ginjal.


Itu bagaikan keinginan meraih bulan, yang tak kan sampai diraih tangan manusia.


Geyna terus melangkahkan kakinya, ia memikirkan perkataan wanita pemilik warteg.


Bagaimana ia yang menghabiskan masa mudanya dulu...??.


Bagaimana sikapnya dulu saat sehat..??.


Kemana orang yang tulus mencintainya, sampai di masa tua dan sakit sakitan, ia harus terlunta lunta dijalanan, di bawah terik matahari dan bertemankan rasa lapar setiap waktunya.


Geyna duduk di sudut gang, ia menangis terisak isak mengingat masa lalunya.


Yang ia bisa dahulu hanya memuaskan hasrat para lelaki hidung belang.


Tanpa memikirkan hari tuanya yang sekarang telah ia rasakan.


"Mawar .....!!!", ucap Lirih Geyna mengenang anak satu satunya yang ia miliki.


"Tuhan sudah baik padaku, tapi aku selalu menolak niat baiknya", seru Geyna meratapi nasibnya kini.


"Anak asuhku yang ku bangga banggakan malah mencampakanku kini, malah mengharapkan kematianku", teriaknya menghadap langit dengan tangisannya yang kian menjadi.


Kemudian ia terdiam, termenung, dan tatapan mata kosong.


Ia mulai mengusap air matanya.


"Baiklah Tuhan, aku akan terima ini semua, kau tidak akan bisa menghukumku lebih dari ini, ginjalku tak akan bertahan lebih lama dari ini, terlebih tanpa obat, cuci darah, bahkan ginjal baru, beberapa hari lagi aku akan mati menemuimu, terserah kau mau menempatkanku di nerakamu yang mana", ucap Geyna sudah putus asa dengan hidupnya.


Ia kemudian meraih tong sampah di sampingnya, sebuah bekas nasi bungkus ia raih dan ia makan.


Tanpa ekspresi dan tanpa bergeming sedikitpun.


Inilah hidupnya sekarang.


Bagaikan Allah mendengar ucapan Geyna tempo hari.


Yang mengatakan bahwa ia akan mati bersamaan dengan ginjalnya yang akan mati.


Allah sepertinya berkata lain.


Geyna bertahan dengan ginjalnya yang rusak berhari hari bahkan berbulan bulan.


Jika di lihat dari ilmu medis, seharusnya ia telah lama mati dengan kondisinya itu.


Tapi...., Allahhua'lam.......


Geyna berjalan terus mengikuti langkah kaki membawanya, sampai akhirnya ia sampai di sebuah rumah besar dan meminta sedekah di sana...


Terlihat seorang wanita dan seorang pemuda sedang asik menimang nimang seorang bayi di pangkuan mereka.

__ADS_1


"Bahagia sekali mereka...", ucap Geyna iri, kenapa ia tak bisa merasakan kenikmatan itu selama hidupnya, bahkan anak satu satunya pun ia serahkan kepada seorang baby sister.


Geyna berjalan dan duduk di pinggir gerbang rumah, tenaganya sudah habis berjalan dari pagi ke malam dan bertemu pagi lagi.


"Minta sedekahnya buk", seru Geyna meminta belas kasihan pemilik rumah.


"Bik Mus..!!, ambilin tas saya dong", seru Mawar menitipkan Fatimah di pangkuan Burhan dan berjalan masuk rumah mencari bik Mus.


"Bik Mus kemana ya..??, ya udah deh aku kasih sendiri aja", ucap Mawar mengambil tasnya dan mengambil sejumlah uang untuk pengemis di depan rumahnya.


Ia berjalan menuju gerbang rumahnya.


Ia duduk dan mengulurkan sejumlah uang di genggamannya.


"Buk, semoga berkah ya, silahkan ini untuk keperluan ibuk", ucap Mawar tak menyadari siapa sebenarnya pengemis itu karna seluruh badannya yang sudah sangat kotor.


Geyna menerima uang pemberian Gadis baik didepannya.


Geyna hanya mengangguk tanda ia berterima kasih tanpa memandangnya.


Ia memandangi sejumlah uang di tangannya, ia sangat senang kala itu, dengan uang itu ia bisa makan untuk beberapa hari kedepan.


Lalu Mawar pun berjalan lagi menuju Burhan dan Fatimah berada.


"Sini sayang..", ucap Mawar mengambil Fatimah lagi dari gendongan Burhan.


Sejak pertemuan mereka ditaman beberapa bulan lalu.


Burhan dan anak anak rumah singgah sering mengunjungi kediaman Mawar, memenuhi undangan langsung dari Mawar.


Mawar ingin rumahnya ramai dan selalu bersenandung sholawat.


Terlebih taman dan halaman Mawar cukup besar untuk tempat mereka belajar.


Burhan yang telah mengetahui kebenaran tentang Mawar yang sebenarnya belum menikah, mencoba memberanikan diri mengutarakan niatnya.


"Silahkan", ucap Mawar sambil menimang nimang Fatimah.


"Maukah kamu menjadi makmumku dunia akhirat Mawar..??", seru Burhan memberanikan diri melamar Mawar.


Mawar kaget dan tercengang mendengar ucapan Burhan.


Hatinya bergejolak, antara iya atau tidak.


Belum sempat Mawar menjawabnya tiba tiba......


Brukkk...


"Masyaallah", seru Mawar seketika berlari mendekati Geyna yang pingsan di depan gerbang rumahnya.


Burhan pun ikut berlari mengikuti Mawar.


Dan seketika Mbak Lastri yang mendengar teriakan Mawar pun ikut keluar dari rumah dan mendekati asal suara Mawar.


"Tolong Mas angkat masuk kerumah..!!", seru Mawar meminta bantuan Burhan.


Burhan pun mengangkatnya dan membaringkannya di kamar tamu kediaman Mawar.


"Bik Mus tolong gendong Fatimah sebentar", ucap Mawar seperti mengenal sosok wanita yang terbaring diranjang itu.


Ia kemudian mendekatinya dan menyingkirkan rambut yang menutupi wajah wanita itu.


Mawar terkejut dan langsung menangis seketika itu juga.


"Mawar kamu kenapa..??", seru Burhan panik melihat Mawar yang tiba tiba histeris.

__ADS_1


Mbak Lastri pun masuk ke kamar tamu dan segera mendekati Mawar.


"Nak...!!, kamu kenapa..??", seru mbak Lastri khawatir.


"Bukkkk, ituuu mami buk.!!", seru Mawar bangkit dari duduknya dan memengang tangan mbak Lastri dengan menunjukkan wajah wanita yang terbaring lemah itu.


Dalam sekali pandang mbak lastri pun mengenali siapa wanita itu.


"Ya Allah mami....!!", seru Mbak Lastri mendekat ke arah Geyna.


"Mawar..., kenapa mami mu bisa seperti ini..??", ucap Mbak Lastri tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Mawar hanya menangis dan menggeleng.


Dan kemudian meminta Burhan menolongnya lagi.


"Mas, tolong bantu Mawar bawa mami ke rumah sakit", seru Mawar memegang tangan Burhan yang masih bingung dengan apa yang terjadi.


"Iya..", ucap Burhan segera menggendong Geyna menuju mobil dan langsung melaju ke rumah sakit.


Geyna masuk ke ruang igd dan di tangani selama 3 jam lamanya.


"Dok, gimana kondisi mami saya..??", seru Mawar saat melihat dokter keluar dari ruangan igd.


"Mami mu masih sangat lemah sekali, kami sudah melakukan tindakan cuci darah barusan, kami juga bingung dalam kondisinya seperti itu mustahil bagi seseorang untuk bertahan hidup selama itu dijalanan", seru dokter keheranan.


"Maksudnya apa dok..?", ucap Mawar.


"Mami mu seharusnya sudah harus mendapatkan donor ginjal berbulan bulan lalu, karna di lihat dari kondisinya sekarang ginjalnya sudah sangat rusak, sebuah mukjizat dia bisa hidup sampai sekarang", ucap Dokter membuat Mawar semakin syok.


"Ambil ginjal saya saja dok..!!", seru Mawar histeris.


"Sabar nak", ucap mbak Lastri menenangkan Mawar.


"Tunggu sampai kondisi mami mu melewati masa kritisnya dulu, nanti kita akan lakukan langkah selanjutnya untuk persiapan operasinya, saya permisi dulu", ucap Dokter kembali masuk keruang igd.


Mawar terisak isak mendengar kondisi Geyna.


Meskipun selama hidupnya Geyna selalu berperilaku buruk pada Mawar, tapi Mawar tetap mencintai ibu kandungnya seperti ajaran pak kyai dan ibu angkatnya mbak Lastri.


Beberapa jam kemudian Geyna mulai siuman, ia tersadar di ruang inapnya.


Ia terkejut melihat seorang gadis memegang tangannya begitu erat, ia memandangi wajah cantik dan damai di hadapannya.


Kemudian ia mulai menyadari bahwa di depannya ialah Mawar anaknya.


Ia pun menangis histeris, ia malu berada di hadapan Mawar setelah semua perbuatannya pada anak kandungnya itu.


"Mawar...!!, kau kah itu..??, malu mami memandangmu Mawar", seru Geyna terus menangis menyesali perbuatannya.


"Sudahlah mi, yang lalu biarlah berlalu, mungkin ini cara Allah menyadarkan mami dan mempertemukan mami dengan Mawar lagi", ucap Mawar memeluk ibu kandungnya.


Mbak Lastri tak kuasa melihat Mawar yang begitu ikhlas memaafkan ibu kandungnya.


Ia pergi keluar dari ruangan itu dan duduk menangis di kursi tunggu.


"Kamu jangan khawatir Mawar, mami sudah di tegur oleh Allah selama ini, dan sebentar lagi mami akan meninggalkan dunia ini selamanya, mungkin itu cara mami menebus dosa dosa mami", ucap Geyna mencium tangan anaknya itu.


"Jangan bilang begitu mi, mami masih punya aku, ambil ginjalku mi, insyaallah Mawar akan baik baik saja, anggap saja ini cara Mawar berbakti kepada Mami", ucap Mawar mengusap air mata Geyna.


"Tidak sayang, mami tak pantas", ucap Geyna malu akan kebaikan anaknya itu.


"Sudahlah mi, yang penting mami sembuh, dan bertobatlah, itu saja yang Mawar minta", ucap Mawar meyakinkan Geyna.


Geyna pun menangis sejadi jadinya.

__ADS_1


"Ya Allah..!!, orang tua macam apakah aku ini", ucap Geyna memeluk Mawar di dekapannya.


Mawar pun ikut menangis di pelukan Geyna, karna sejatinya inilah pelukan tulus pertama yang ia rasakan dari seorang ibu yang telah melahirkannya.


__ADS_2