Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Bukan bualan kosong.


__ADS_3

Rahel keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah.


Ia seakan merasa ada yang aneh dengan hari itu.


Tapi ia tak sadar apa yang berbeda dengan hari itu.


"Enak banget mandiku pagi ini", ucap Rahel mengelap rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya.


Ia bersenandung sembari membuka lemari baju.


"Emmm..., pakek baju apa ya hari ini..??, ini aja deh", ucap Rahel mengambil sebuah gaun berwarna biru miliknya.


Ia kemudian duduk di kursi riasnya, mengamati cermin didepannya.


Dan mulai bersiap mengambil alat riasnya dari dalam laci.


Hampir satu jam ia merias wajah cantiknya, mengeringkan rambutnya dan mencatoknya sekaligus.


Ia mengambil pakaian yang telah ia pilih tadi.


Ia berganti pakaian dan bersiap mengambil tas nya.


Hari itu ada rencana yang harus segera ia laksanakan dengan Gea dan dengan bantuan dari Jeri.


Saat Rahel akan keluar dari kamarnya, langkahnya tiba tiba terhenti.


Ia masih penasaran, kenapa seakan hari itu begitu terasa berbeda.


Ia memandang ke arah tempat tidur yang telah rapi.


Memandang seisi kamar, tetapi ia masih belum menemukan jawabanya.


"Ah..!!, sudahlah, mungkin perasaanku aja", ucap Rahel keluar dari kamar dan tatapannya langsung tertuju pada meja makan.


"Sarapan..???", ucap Rahel seakan mengingat sesuatu.


Bu Maryam tak berkata apapun saat melihat Rahel, ia terlihat sibuk dengan aktifitasnya di dapur.


Rahel pun duduk di kursinya, ia mengambil nasi goreng yang telah siap di meja makan, ia melahapnya dengan mencoba mengingat ngingat sesuatu.


"Mi, Malik berangkat dulu ya, Assalammualaikum", seru Malik keluar dari ruang kerjanya dan sudah terlihat siap untuk ke kantor, ia langsung menghampiri mami nya dan mencium punggung tangannya.


Seakan ia tak menghiraukan ada Rahel yang sedang tertegun di meja makan.


Rahel pun menghentikan suapan tangannya.


Ia teringat apa yang membuat hari ini berbeda dari hari hari lainnya, dan apa yang telah ia lupakan.


Astaga...!!, aku lupa merapikan kamar, menyetrika jas Malik dan menyiapkan sarapan, pantas aku puas sekali mandi dan berias dari pagi, kenapa Malik tak marah marah ya..??, gumam Rahel dalam hati sambil meneguk air di gelasnya.


"Iya sayang, hati hati, Walaikumsalam", ucap Bu Maryam.


Malik pun berjalan keluar dari rumah menuju ke mobilnya.


Rahel pun seketika berdiri dan berjalan mengikutinya.


Bu Maryam hanya menggelengkan kepala melihat sikap Rahel yang tak berubah, bahkan hanya untuk pamit dan mengucap salam sebelum pergi.


"Tunggu...!!", seru Rahel menghentikan langkah kaki Malik.


Malik pun berbalik menghadap Rahel tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Kenapa kamu gak marah...??, aku gak lakuin tugasku pagi ini", tanya Rahel penasaran.

__ADS_1


"Ucapanku bukan bualan kosong Hel, pakai otakmu..!!, selagi kamu tak berubah, terserah kamu mau lakuin apa, dan...!!, jangan pernah bicara didepanku lagi", seru Malik masuk ke dalam mobilnya dan berlalu sampai hilang dari pandangan Rahel.


Rahel hanya terdiam di tempatnya berdiri.


Kenapa denganku..??, harusnya aku seneng dong Malik gak ikut campur hidupku lagi, tapi kenapa malah aku yang ngerasa aneh ya..??, gumam Rahel dalam hati.


Ia pun mencoba melupakan apa yang telah terjadi pagi itu.


Ia kembali fokus kerencananya semula.


Ia melajukan mobilnya menuju ke rumah Jeri dan langsung menemui Gea di rumah Bordil.


Mobil Rahel berhenti di depan gerbang rumah besar, Gea langsung masuk ke dalam mobil Rahel dan langsung bergerak lagi menuju ke kediaman Mawar sesuai rencana awal mereka.


"Jer, kamu tau kan tugasmu..??", ucap Rahel.


"Siap...!!, tenang aja, semua pasti beres, kalau soal nyulik anak kecil mah gampang", ucap Jeri santai.


Beberapa jam kemudian.


Mobil mereka sudah mengintai di sebrang jalan agak jauh dari rumah Mawar.


Terlihat Mawar dan Burhan sedang bermain dengan Fatimah di halaman depan.


Mereka menunggu waktu yang tepat untuk menculik Fatimah.


"Sayang..., ayo tangkap bolanya...!!", seru Mawar melempar bola menuju Fatimah.


"Ayahhh...!!", seru Fatimah menghindari bola dan malah memeluk ayahnya.


"Kenapa sayang...??, ini cuma bola lhoo", ucap Burhan tertawa.


"Takut...!!", ucap Fatimah bermanja dengan ayahnya.


"Lama banget sih..!!, mual aku cuma nonton kisah kasih mereka bertiga", ketus Rahel.


"Diem dulu ah..!!, bawel..!!", seru Gea mengamati terus rumah Mawar.


Burhan terlihat merogoh ponsel di sakunya.


Ia terlihat menjauh dari Fatimah dan Mawar untuk menerima sebuah panggilan telfon.


"Bentar ya sayang, bunda buatin kamu susu", ucap Mawar menutup gerbang depan lalu masuk kedalam rumah meninggalkan Fatimah bermain bola di teras.


"Nahhh..!!, kesempatan tuh..!!, yukkk...!!", seru Rahel menepuk bahu Jeri agar segera melancarkan aksinya.


Jeri pun turun dari mobil dan mengamati situasi.


Ia membuka gerbang dengan perlahan dan mengakali gembok gerbang milik Mawar.


Ia mengendap ngendap mendekati Fatimah yang kala itu tak menyadari kehadiran Jeri.


Jeri pun langsung membungkap mulut Fatimah dan membawanya masuk ke dalam mobil.


"Ayokkk ayokk jalan...!!!", seru Jeri bergegas memberikan Fatimah ke pangkuan Rahel.


Mobil mereka pun bergegas pergi, menjauh dari rumah Mawar.


Tiba tiba tangan Rahel digigit oleh Fatimah.


"Awhhh..!!, sakit tau..!!", teriak Rahel mengibas ngibaskan tangannya.


"Ayah....!!, bunda...!!", teriak Fatimah dengan menangis tanpa henti.

__ADS_1


"Berisik...!!!, nyebelin banget sih kayak ibunya", seru Rahel membungkam kembali mulut Fatimah.


"Trus kita kemana nih...??", ucap Jeri.


"Kerumah kamu...!!", seru Rahel.


"Kok kerumah aku sih...!!, gak ah", ucap Jeri tak setuju.


"Sementara ini rumah kamu yang paling aman Jer, gak usah banyak alasan deh..!!", ucap Rahel membuat Jeri tak bisa berkutik dibuatnya.


Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di halaman rumah Jeri.


Dengan susuh payah Rahel dan Jeri membungkam dan menggendong Fatimah agar tak lepas dan mberontak, sehingga para tetangga tak curiga.


Gea lalu mengunci pintu rumah dari dalam.


"Aman...!!", ucap Gea mengelus dada.


"Dah lepasin hel", ucap Jeri melepaskan pegangannya dari badan Fatimah.


Fatimah pun kembali menangis dan berteriak, diusianya yang masih belum 3 tahun.


Ia masih sangat kecil untuk jauh dari ayah bundanya.


"Bundaa...., Fatimah takut, jemput Fatimah bunda...!!", seru Fatimah di sela sela tangisannya yang tak kunjung berhenti.


"Berisik banget sih dia...!!", ucap Rahel menutup kupingnya.


"Trus apa rencana kita kedepannya..??", seru Jeri.


"Kita teror Mawar, lalu kita culik dia juga, buat dia kapok dan mau tinggalin kota ini", ucap Gea menyalakan Rokok di tangannya.


"Setuju..., ide bagus tuh..!!", ucap Rahel tertawa.


Tiba tiba ponsel Rahel berdering.


"Susan...??, tumben...??", ucap Rahel mengangkat panggilan telfonnya.


"Kamu dimana...??, bisa jemput aku...??, taksiku mogok nih", ucap Susan di telfon.


"Kamu di Indo..??, kapan pulang..?", tanya Rahel terkejut.


"Barusan, ini aku baru keluar dari bandara, aku tunggu ya", ucap Susan.


"Ehh, tunggu tunggu...!!", seru Rahel, tetapi panggilan telfon sudah ditutup oleh Susan.


"Kenapa..??", tanya Gea.


"Temenku, baru pulang dari Luar negri, aku suruh jemput di dekat bandara", ucap Rahel.


"Jemput aja lagi, bawa dia kesini, biar bisa ku goda dia", seru Jeri tertawa.


"Gobl*k..!!, kita lagi nyulik anak tau..!!", ketus Gea melempar bantal kursi ke muka Jeri.


Jeri pun hanya terdiam melihat ke arah Fatimah yang mulai berhenti menangis dan duduk ketakutan dipojok.


"Tenang, dia sahabat ku kok, apa yang aku lakuin dia gak bakal berani bilang kesiapapun, dia bisa kita manfaatin buat rawat anak cengeng itu", ucap Rahel mengutarakan idenya.


"Kalau ada manfaatnya aku setuju deh", ucap Gea.


"Tadi ngatain gobl*k, sekarang setuju, blok..!!, blok..!!", ucap Jeri kesal.


"Diem..!!", seru Gea tak terima.

__ADS_1


"Udah udah, gak usah ribut kenapa sih..!!, aku cabut dulu deh", ucap Rahel keluar dari rumah dan melajukan mobilnya menjemput Susan.


__ADS_2