
"Apa kau benar benar ingin ikut Mawar?" tanya bu Ratih yang begitu nampak prihatin saat menatap hidup Mawar saat itu.
Mawar semakin hari semakin kurus, namun aneh nya laporan medis mengatakan tidak ada masalah akan kesehatan Mawar.
Dokter Malik mengatakan, ia hanya harus berdamai dengan diri dan pikiran nya sendiri.
Melepas beban yang selama ini menggerogoti hati dan pikiran nya.
Namun bu Ratih juga tak kuasa menasehati Mawar sebagaimana keinginan besar dalam hati nya.
Ia bahkan tak bisa membayangkan saat dalam posisi Mawar saat itu.
Mungkin ia akan jauh lebih rapuh dari pada Mawar.
Hidup begitu sulit sejak ia masih anak anak, cobaan terus datang dari segala arah, dan kini ia harus hidup tanpa mengetahui di mana kedua anak nya berada, sungguh aku tak bisa membayangkan jadi diri nya, kau wanita kuat Mawar, batin bu Ratih berusaha menyembunyikan air mata nya yang tak bisa lagi ia bendung.
"Bagaimana mungkin aku tak ikut datang memenuhi undangan ini buk?, apalagi yang lebih membahagiakan untuk ku saat ini selain melihat anak anak asuh kita nanti nya bisa berhasil mendapatkan orang tua angkat nya," seru Mawar sembari berusaha keras menahan tangis nya.
Sedetik pun, ia sebenar nya tak bisa melupakan rasa kehilangan akan Fatimah dan Aqly sekaligus.
__ADS_1
Namun anak anak asuh nya juga butuh sosok diri nya hari itu.
"Ya sudah, jangan lupa bawa obat mu, ibu gak mau kau sakit setelah pulang nanti," ucap bu Ratih sembari berjalan memasuki mobil sebelum air mata nya menetes di hadapan Mawar.
"Ibu duluan, aku mau menyusul mas Malik dulu," ucap Mawar sembari berjalan kembali memasuki rumah lama nya itu.
Sesaat, langkah nya terhenti saat mendengar percakapan antara sang suami dan Azizah.
Sejenak Mawar terdiam menyaksikan itu semua.
Namun bukan nya merasa cemburu dan kesal.
Mereka sudah cukup hidup menderita, batin Mawar terus mengamati perbincangan antara dokter Malik dengan Azizah saat itu.
Hingga akhir nya dokter Malik menyadari akan kedatangan Mawar sesaat kemudian.
"Maaf Mawar, apa kau dan ibu sudah menunggu kami lama?," seru dokter Malik sembari berjalan beriringan dengan Azizah menuju ke arah Mawar berada.
"Sebaik nya kita cepat, anak anak sudah tak sabar datang ke acara itu. Kalau boleh tahu, apa yang sedang kalian bicarakan?, seperti nya asyik," ucap Mawar membuat Azizah merasa bersalah saat itu juga.
__ADS_1
"Nanti aku akan ceritakan pada mu, sungguh aku tak menyangka sebelum nya, bahwa Azizah cukup humoris , kenapa aku tak berteman dengan nya sejak dulu ya?," seru dokter Malik berjalan menuju mobil yang akan mereka naiki sembari tak henti henti nya tersenyum dan tertawa.
"Maaf Mawar, bukan maksud ku..," ucap Azizah begitu takut Mawar salah paham antara ia dan dokter Malik.
"Kenapa kau begitu gugup seperti itu Azizah?, aku tidak melihat kesalahan apapun sedari tadi," ucap Mawar membuat Azizah kembali tersenyum dengan riang nya.
"Syukurlah," ucap Azizah sembari menghela nafas lega.
"Ayolah!, anak anak pasti sudah menunggu kita," ucap Mawar sembari menggandeng tangan Azizah selayak nya sahabat masa kecil tanpa ada yang berubah sedikitpun.
"Ini dia kedua putri ibu!, kalian kalau sudah bersama pasti akan keasyikan mengobrol hingga lupa dengan urusan yang lain," keluh bu Ratih sembari membantu Azizah masuk ke dalam mobil.
"Iya buk, kami minta maaf," ucap Azizah sembari memegang kedua kuping nya seperti seorang anak kecil yang sedang mengakui kesalahan nya.
"Sebenar nya kita mau pergi ke rumah singgah yang mana Mawar?, seperti nya tidak ada rumah singgah di kota ini selain kita," seru bu Ratih penasaran.
"Kita akan ke rumah singgah Ummar buk, ku dengar rumah singgah itu masih baru sekali terbentuk," seru Mawar menjelaskan.
"Masyaallah, semoga lebih banyak orang yang mau membangun tempat mulia untuk anak anak terlantar ya Mawar," ucap bu Ratih langsung di amini oleh semua yang ada di dalam mobil itu.
__ADS_1