Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Kenapa harus dia?.


__ADS_3

"Pagi mbak," sapa seorang suster yang berkunjung pagi itu untuk melakukan kontrol rutin ke semua pasien.


Nampak ia sudah sangat akrab dengan Fatimah.


Mereka sempatkan bertegur sapa tanpa canggung setiap berpapasan atau saat sang suster melakukan kontrol rutin nya seperti pagi itu.


"Pasti dia suami yang baik kan mbak?" tanya sang suster sembari terus menulis hasil pemeriksaan nya.


"Kenapa suster tiba tiba bertanya seperti itu?," tanya Fatimah malah bertanya balik.


"Katakan padaku mbak, aku harus bagaimana?, aku begitu tak bisa menahan rasa penasaran ku ini tentang kalian?, bahkan seisi pegawai rumah sakit pun membicarakan kalian," sahut sang suster seakan sudah kenal akrab dengan Fatimah tanpa rasa canggung sedikitpun.


Padahal baru hitungan minggu Fatimah berada di rumah sakit itu untuk menjaga Bos besar.


Seruan sang suster seketika membuat Fatimah tercengang.


Ia tak menyangka keberadaan nya di perhatikan oleh banyak orang secara diam diam.


"Dia," ucap Fatimah masih belum menyelesaikan ucapan nya.


"Suami terbaik kan!, pasti nya," seru sang suster masih sibuk memeriksa selang infus di tangan Bos besar.


"Benar, dia suami yang terbaik," ucap Fatimah mencoba menjaga nama baik suami nya.


"Tuh kan, pasti bener!, mana mungkin bukan suami terbaik, mbak nya aja rela nungguin selama ini, " sahut sang suster menyelesaikan laporan tertulis nya.


Fatimah hanya tersenyum menanggapi ocehan dari sang suster sembari menatap lekat lekat wajah Bos besar yang belum sadarkan diri sejak kecelakaan 3 minggu yang lalu.


"Kalau boleh tahu, siapa nama suami mbak?, sejak dia di rawat di sini tidak ada nama jelas yang tercantum di sini, kami membutuhkan nya, paling tidak nama panggilan nya," seru sang suster membuat Fatimah kebingungan.


Siapa nama nya?, di hari ijab qobul pun aku tak mendengar nama nya, ia mengucap lirih di telinga sang penghulu, bahkan aku tak pernah tahu alasan nya melakukan itu, batin Fatimah.


"Mbak?," tegur sang suster membuyarkan lamunan Fatimah.

__ADS_1


"Astagfirullah, maaf sus," sahut Fatimah seketika.


"Jadi, nama nya mbak?," tanya sang suster mengulang pertanyaan nya.


"Ali, nama nya Ali," ucap Fatimah spontan.


"Wah, kenapa bisa pas gitu ya!, Fatimah dan Ali, semoga kisah cinta nya juga langgeng seperti kisah cinta Fatimah Az zahro ya mbak," seru sang suster meninggalkan ruang rawat Bos besar.


Ia meninggalkan Fatimah yang hanya diam terpaku di tempat nya.


Amin, terima kasih atas doa mu, batin Fatimah kembali menyeka tubuh Bos besar dengan telaten nya.


"Allahhu," seru Fatimah terkejut dan segera berlari memanggil para medis yang ada.


Tuk pertama kali nya, nampak mata Bos besar mulai kembali berkedip.


"A- a, ku, haus," ucap lirih Bos besar tak bisa di dengar oleh siapapun.


Terutama para dokter dan suster yang masih fokus memeriksa kondisi keseluruhan Bos besar.


Membuat tatapan nya begitu kabur saat itu.


Namun perlahan, fokus nya mulai berfungsi, dan begitu terkejut nya ia saat melihat bahwa Fatimah lah yang ia lihat saat pertama kali membuka mata.


"Ke- kenapa harus dia dok!," keluh lirih Bos besar masih nampak begitu lemas.


Mendengar ucapan dari pasien nya, sang dokter dan suster begitu bingung dan tak bisa berucap apapun saat itu.


"Bos tenang bos!, tenang ya, aku akan panggil Aqly jika bos tak mau aku di sini," seru Fatimah mencoba menenangkan Bos besar.


Ucapan itu lagi lagi membuat semua yang ada di sana semakin heran.


"Kenapa dengan kaki dan tangan ku ini!, kenapa sulit sekali di gerak kan!," teriak Bos besar semakin histeris.

__ADS_1


"Sabar pak, bapak hanya terkena lumpuh sementara, dan akan sembuh jika melakukan terapi secara rutin," ucap sang dokter mencoba menenangkan bos besar.


"Lumpuh!, kenapa aku bisa lumpuh hah!, sial!, kalian tak berguna!," teriak Bos besar semakin membuat dokter dan para suster ketakutan.


"Tenang bos, aku mohon," seru Fatimah menenangkan.


"Cepat pergi!, panggil Aqly kesini!," sentak Bos besar histeris.


Membuat yang lain segera berhamburan keluar dari ruangan itu.


"B- baik," ucap Fatimah dengan tangan gemetar segera menghubungi Aqly melalui telfon rumah sakit.


Meskipun semua pasang mata sedang menatap heran ke arah nya, Fatimah tetap memprioritaskan keadaan Bos besar apapun yang telah terjadi dan bagaimana sikap Bos pada nya.


-----


"Bagaimana kau Aqly!, kenapa kau malah menyuruh nya menjaga ku!, kau kan tahu aku tak suka pada nya!," keluh Bos besar membuat Aqly sedikit kesal mendengar nya.


"Ya sudahlah Bos, kami kan juga sibuk ngurus para tamu, dengan begitu dia kan jadi lebih berguna buat kita," sahut Aqly sembari mendorong Bos besar di atas kursi roda nya untu meninggalkan rumah sakit.


"Mas tunggu!," seru seorang suster mendekat ke arah mereka.


"Apa lagi sih!," keluh Aqly.


"Tagihan atas nama bapak Abi masih perlu di lunasi," seru sang suster membuat Aqly serta Bos besar menatap tajam ke arah Fatimah yang terus menunduk di belakang mereka.


"Abi?," ucap Bos besar membuat Fatimah ketakutan.


Ia sampai meremas tas besar yang ia bawa dengan kuat nya.


"Baik sus," sahut Aqly meraih kertas tagihan dari tangan sang suster dan segera melunasi nya di meja resepsionis.


Karna di rasa Aqly begitu lama, Fatimah berniat mendorong kembali kursi roda Bos besar untuk menuju ke mobil mereka.

__ADS_1


"Hentikan!, kita tunggu Aqly datang!, jika tangan ku bisa di gerakkan dengan normal, aku sudah menjalankan kursi roda ini sendiri, aku tak sudi di bantu oleh mu," seru Bos besar masih dengan sikap angkuh nya.


__ADS_2