Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Keluarga baru untuk sang Bayi


__ADS_3

Susan terlihat menimang nimang bayi perempuan lucu di gendongannya.


Sedangkan Rahel terlihat sibuk membereskan koper miliknya.


"Cantikkk..., jangan nakal ya sayang, kapan kapan tante bakal berkunjung ke Indonesia buat ketemu kamu", ucap Susan menciumi bayi yang tertidur di gendongannya itu.


Rahel yang mendengarnya merasa bosan dan muak, ia tak habis pikir, kenapa ia bisa punya sahabat yang berhati lembut kayak gitu, berbanding 360 derajat darinya.


"Sudahlah Susan, kamu mau harapin apa ke aku, aku gak bakal ya rawat dia setibaku di indonesia", seru Rahel menepis semua harapan Susan.


"Hel, kamu gak pikirin nasibnya apa..??, dia masih bayi, kasian", ucap Susan menasehati sahabatnya itu.


"Kalau kamu memang sayang sama bayi itu, kenapa gak kamu rawat aja...??", ucap Rahel membereskan kopernya yang terakhir.


"Kalau aku bisa pasti aku lakuin Rahel, kamu tau sendiri aku kesini jauh jauh buat bangun karir aku, apa kata orang tuaku nanti jika aku urus bayi disini..??", ucap Susan.


"Nah kamu aja gak mau, jadi gak usah ceramahin aku deh..!!", seru Rahel mengambil bayinya dari tangan Susan.


"Oh ya, sekarang terserah aku ya, bayi ini nasibnya kedepannya mau aku apain juga, bye", ucap Rahel keluar dari apartemen Susan.


Susan mondar mandir gelisah di dalam apartemennya.


Ia Khawatir Rahel akan nekat dengan bayinya sendiri.


Susan lalu membuka laci riasnya.


Ia mengaambil sebuah buku dan duduk di tepi ranjang.


Ia agak ragu membukanya, tetapi ia akhirnya membuka buku itu juga.


Ia ambil sebuah tiket pesawat menuju Indonesia yang terselip di halaman buku, tanggal keberangkatannya tertulis hari ini.


Ia sengaja menyembunyikannya dari Rahel, ia berniat mengikuti Rahel pulang ke Indonesia hanya untuk memastikan bayi perempuan itu selamat selama bersama ibu kandungnya.


Susan menarik nafas dan bersiap untuk menuju ke bandara menyusul Rahel.


Susan melajukan mobilnya menuju bandara.


Ia segera mencari Rahel dan berhasil menemukannya di pintu keberangkatan.


Susan mencoba bersembunyi dari Rahel, ia menutup kepalanya dengan kerudung panjang dan kacamata hitam.


Ia menyerahkan tiket dan mengikuti Rahel masuk ke dalam pesawat.


Ia memperhatikan Rahel agar tak nekat dengan bayinya itu.


Sesaat kemudian pesawat itu pun take off menuju Indonesia.


Oekkk..oekkk.


Tangis bayi perempuan itu di tengah tengah penerbangan.


Sedangkan Rahel tertidur dengan handset di telinganya.


Ia tak mempedulikan tangisan bayi nya sendiri.


Ditegur penumpang lain pun tak Rahel hiraukan.


Kemudian Susan memanggil pramugari dan memintanya untuk mengambil bayi itu, dengan alasan pada Rahel pramugari itu yang merawat bayi itu selama penerbangan jika Rahel bertanya.


"Maaf mbak, bayi nya nangis terus, boleh saya beri susu di kabin depan..??", ucap pramugari itu.

__ADS_1


"Ambillah, kau adopsi pun boleh", seru Rahel kembali tidur.


Susan pun mengikuti pramugari itu.


"Makasih mbak", ucap Susan menggendong bayi itu dan memberinya susu formula.


"Mbak kenal bayi ini..??", ucap pramugari itu.


"Saya tantenya mbak", ucap Susan terus menidurkan bayi perempuan malang yang sekarang berada di dekapannya.


"Kasian ya, kayaknya ibunya gak suka deh sama bayinya sendiri", ucap pramugari itu.


"Tapi jangan bilang bilang kalau saya yang ngurus dia ya mbak", ucap Susan tak mau Rahel tau.


"Siap mbak", ucap pramugari itu meneruskan tugasnya lagi di dalam pesawat.


Beberapa jam kemudian, Pesawat telah mendarat dengan sempurna.


Pramugari itu pun sudah mengembalikan bayi perempuan itu di pangkuan Rahel.


Rahel berjalan keluar dari Bandara diikuti oleh Susan tanpa sepengetahuannya.


Rahel pun memanggil sebuah taxi dan melaju meninggalkan bandara.


Susan terus mengikuti Rahel dari kejauhan, ia tak mau kehilangan jejak Rahel sedetik pun.


Mau aku apain ya anak ini..??, kasih ke Jeri gak mungkin juga, apa aku buang aja ya..??", gumam Rahel dalam hati.


"Pak jalan terus ya, nanti di sudut jalan sana turunin saya", ucap Rahel pada sopir taxi itu.


"Siap mbak", ucap sopir itu tanpa tau rencana buruk Rahel.


"Ini uangnya pak, saya turun disini aja, bapak bisa pergi", ucap Rahel turun di tepi jalan sambil menarik kopernya dan menggendong bayinya.


"Berhenti di sini pak, ini uangnya, makasih ya", ucap Susan segera turun dan mengikuti Rahel.


Ngapain Rahel berhenti disini..??, rumahnya kan masih jauh, gumam Susan dalam hati.


Susan terus mengikuti langkah kaki Rahel.


"Nyusain aja kamu ....!!, di perut nyusahin, setelah lahir pun nyusahin..!!", seru Rahel melihat kesekeliling.


Setelah di rasa aman, ia meninggalkan bayinya di bawah semak semak.


"Astaga Rahel", lirih Susan melihat Rahel membuang bayinya sendiri.


"Bye bayi sialan", ucap Rahel berlari meninggalkan bayinya dan segera mencari taxi di belokan jalan didepannya.


Setelah melihat Rahel sudah benar benar pergi, Susan menghampiri bayi itu dan menggendongnya.


"Astaga, aku gak nyangka setelah jadi ibu pun ia malah makin menjadi jadi", ucap Susan membersihkan bayi itu dari debu semak semak.


Susan pun berjalan ke arah jalan raya untuk mencari sebuah taxi.


Susan menyusuri jalan dengan memikirkan bagaimana nasib bayi itu selanjutnya...??.


Ia juga tak berdaya jika harus merawatnya.


Susan hanya bisa memastikan nantinya bayi ini akan hidup layak seperti anak sebayanya.


Susan pun menghentikan taxi nya di depan sebuah panti asuhan, tetapi ia tak sampai hati meletakkan bayinya di teras panti.

__ADS_1


Ia pun mengurungkan niatnya dan masuk kembali ke dalam taxi.


"Jalan lagi pak", ucap Susan menyusuri jalanan lagi.


"Mbak sebenarnya kita mau kemana..??", ucap Sopir taxi itu merasa penumpangnya hanya bermain main saja dengan taxi nya.


"Kita jalan dulu aja pak, saya akan bayar sesuai tagihan", ucap Susan melihat ke arah bayi perempuan yang ia gendong.


"Sabar ya nak", ucap Susan merasa iba dengannya.


Seketika pandangan Susan entah kenapa tertarik pada sebuah rumah besar di ujung jalan.


"Berhenti pak", ucap Susan menghentikan laju taxi yang ia tumpangi.


Sepertinya aku merasa ada yang spesial di sini, gumam Susan melihat ke arah rumah di ujung jalan yang menarik perhatiannya.


"Ini uangnya pak, makasih", ucap Susan menyuruh taxi itu meninggalkannya.


Susan pun mendekati rumah besar itu.


Terlihat seorang wanita berjilbab dengan keanggunan tubuhnya sedang menyirami bunga bunga di halaman rumahnya.


Saat itu juga seorang wanita tua keluar dari dalam rumah.


"Ibuk..??, ibuk gak istirahat..??", ucap wanita itu memapah badan ibunya agar tak terjatuh.


"Ibuk bosan istirahat terus Mawar, ibu ikut kamu ke ruko ya hari ini..??", ucap Ibu itu yang ternyata ialah mbak Lastri.


Dan wanita berjilbab itu ialah Mawar.


Dalam satu tahun ini karir Mawar melejit pesat


Ia sudah bisa membelikan rumah yang besar bagi ibunya.


Dan mendirikan beberapa cabang untuk toko mukenahnya.


"Gak apa apa buk, ibuk istirahat aja ya", ucap Mawar memapah ibunya duduk di kursi teras rumah.


Susan mendengarkan percakapan antara anak dan ibunya itu.


Ia merasa mereka bisa menyayangi bayi Rahel sepenuh hati.


"Sepertinya ini rumah yang cocok buatmu bayi cantik, sehat sehat dan tumbuhlah dengan sehat di sini, Tante akan berkunjung sesekali untukmu", ucap Susan meletakkan bayi itu di depan gerbang rumah Mawar.


Susan pun bersembunyi di semak semak sampai pemilik rumah itu benar benar mengambil bayi itu.


Sesaat kemudian bayi perempuan itu menangis membuat Mawar dan mbak Lastri mencari asal suaranya.


"Masyaallah buk..!!, ada bayi..!!", seru Mawar segera membuka gerbang dan menggendongnya, Mawar mencari kesekeliling jalanan mencari orang tua bayi itu.


"Bayi ..!!, siapa yang tega membuang bayi ini..??", seru mbak Lastri terkejut.


"Gak tau buk, kita bawa masuk yuk, kasian", ucap Mawar segera membawanya masuk kedalam rumah.


Susan yang melihat itu pun merasa lega, ia pun mencari taxi dan menuju bandara kembali.


Ia berangkat menuju Amerika lagi, ia sudah tenang karna bayi itu sudah berada di tempat yang aman.


Ia memandang ke arah jendela pesawat sebelum akhirnya take off.


Tante harap di pertemuan berikutnya, kamu sudah tumbuh besar cantik, gumam Susan dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2