Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Sambutan mengejutkan 2.


__ADS_3

Dengan sekali tarikan nafas.


Fatimah perlahan mendorong kursi roda sang suami tuk keluar dari kamar mereka.


"Bismillah," ucap Fatimah begitu gugup nya.


Perlahan tapi pasti, kini tinggal beberapa langkah lagi ia telah benar benar sampai di tempat sang bunda berada.


Sementara gemuruh tepuk tangan lagi lagi terdengar menandakan acara demi acara yang di sajikan telah usai satu persatu dengan baik.


"Sebelum kita ke acara perkenalan antara para anak dengan calon orang tua angkat nya, kita sambut dulu kak Ummar dan sang istri, tanpa mereka, rumah singgah ini mungkin saja tidak akan pernah ada seperti sekarang ini," seru Mira membuat gemuruh tepuk tangan mengiringi kedatangan dua sosok yang tak lain ialah Bos besar dan Fatimah.


Namun beberapa menit berlalu, mereka masih tak kunjung menampakkan diri memasuki ruangan acara.


"Apa mereka baik baik saja?," tanya Mawar kepada Mira yang nampak begitu berharap Fatimah tidak mengurungkan niat nya untuk bertemu dengan bunda nya.


"Mereka pasti datang, kita tunggu sebentar lagi," sahut Mira tanpa bisa menyembunyikan wajah gelisah nya saat itu.


Saat Mira berniat menyusul mereka, tiba tiba mereka muncul memasuki ruangan dan membuat gemuruh tepuk tangan kembali menggema di ruangan itu.


Namun, ekspresi yang di tunjukkan Mawar serta dokter Malik saat itu begitu berbeda dengan para undangan lain saat menatap kedatangan Fatimah.


Mereka terdiam cukup lama sembari tatapan yang tak berpaling sedikit pun dari sosok wanita bercadar yang kini telah berdiri tepat di hadapan para tamu yang ada.


"Mawar, apa kau memikirkan hal yang sama dengan ku?," ucap dokter Malik menatap sang istri yang masih tak bergeming menatap gadis bercadar di hadapan mereka.


Seketika Mawar mengangguk dengan mata nya yang juga mulai basah.


"Bagaimana pun ia mencoba menutupi nya, tapi hati ku tak bisa ia bohongi," ucap Mawar tak bisa lagi menahan air mata nya untuk menetes.


Sementara Aqly yang melihat semua itu semakin merasa gelisah dan takut akan hal yang belum pasti akan terjadi.


"Tenanglah Aqly, mereka itu keluarga mu, sebuah keluarga tak akan pernah meninggalkan satu sama lain nya, bagaimana pun besar nya kesalahan yang anggota keluarga mereka pernah perbuat," bisik Mira membuat Aqly mencoba mengusap keringat dingin di kening nya.

__ADS_1


"Assalammualaikum semua nya, selamat datang di rumah kami. Perkenalkan ini adalah suami saya Ummar, pendiri serta pemilik rumah singgah ini," seru Fatimah membuat Mawar dan dokter Malik begitu tercengang di buat nya.


"Suami?," ucap Mawar dengan tubuh yang langsung lemas tak berdaya mendengar semua itu.


Untung nya ada dokter Malik yang siap siaga menopang tubuh nya di kondisi nya saat itu.


Melihat semua itu, dengan spontan nya Fatimah segera berlari mendekati sang bunda dan memeriksa keadaan nya.


"Bunda!, bunda tak apa?," seru Fatimah


dengan mata yang nampak basah.


Seruan nya seketika membuat semua yang ada begitu tercengang mendengar nya, terutama bagi Mawar dan dokter Malik pribadi.


"Ternyata tebakan kita tak salah mas, dia putri kita yang telah hilang selama ini, dia telah kembali sekarang mas!," ucap Mawar terisak isak.


Membuat tangisan Fatimah ikut pecah saat itu juga.


"Ya bunda!, aku putri mu!, aku Fatimah!," seru Fatimah membuat semua yang menyaksikan semua itu ikut tersentuh saat melihat nya, terutama bagi Bos besar sendiri.


Ia begitu tak menyangka, banyak hal besar dan tak terduga akan kehidupan Fatimah yang tak pernah ia tahu sebelum nya.


Begitu banyak hal yang harus nya membuat mu rapuh Fatimah, tapi kamu semakin kokok beriman kepada Allah tuhan mu, batin Bos besar sekali lagi merasa malu akan sosok wanita seperti Fatimah.


Belum selesai momen haru itu terjadi.


Aqly sudah begitu terlihat geram menyaksikan semua itu.


"Selalu saja Fatimah dan Fatimah!," keluh lirih Aqly sembari berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.


"Aqly?," seru Mira mencoba mengejar Aqly yang nampak begitu kesal saat itu.


...***...

__ADS_1


"Kini, bisa ceritakan kepada bunda apa yang telah terjadi selama kau menghilang nak?," tanya Mawar sembari sesekali mencuri pandang ke arah Bos besar berada.


Mawar begitu nampak tenang menyikapi semua nya.


Menanyakan setiap hal kepada sang putri dengan bahasa yang lembut dan sabar menanti hingga sang putri mau mengatakan kebenaran dari mulut nya sendiri untuk menjawab semua tanda tanya dalam hati Mawar saat itu.


"Pasti bunda begitu penasaran dengan mas Ummar bukan?," ucap Fatimah tanpa takut dan ragu menatap mata sang bunda.


Membuat sang bunda begitu yakin, alasan dari keputusan besar anak nya itu bisa di pertanggung jawab kan ada nya.


"Bunda dan juga ayah mu tak mempermasalahkan apapun nak, kami hanya ingin mendengar kau bahagia atau tidak dengan semua ini," seru Mawar seketika membuat bola mata Bos besar seketika membulat sempurna.


Tak ia sangka pertanyaan macam itulah yang kini terlontar dari mulut sang mertua.


Bahkan tak ada hinaan atau apapun yang menyinggung fisik nya kini yang bahkan hanya bisa duduk diam di atas kursi roda.


Sebuah kondisi yang tak mungkin bisa di terima siapapun, baik itu menjadi sosok suami maupun sosok seorang menantu di mata sang mertua.


Tanpa ragu, Fatimah langsung mengangguk dan memeluk sang bunda.


Membuat hati Bos besar lagi lagi tersentuh akan sosok baik sang istri.


Kenapa kau begitu baik?, bagaimana jika mereka nanti nya tahu masa lalu ku Fatimah?, kau begitu nekat mempertaruhkan segala nya untuk lelaki cacat seperti ku, kau bisa saja membuang ku dan menikmati semua kekayaan ku dengan muda jika kau mau, tapi kau tak melakukan semua itu, bahkan kau membenahi hidup ku yang kini telah hancur!, batin Bos besar tak terasa air mata nya menetes.


"Menantu, jangan lah menangis, kami juga keluarga mu sekarang," ucap dokter Malik memeluk erat Bos besar sebagai bukti bahwa Bos besar telah di terima di keluarga mereka tanpa alasan dan syarat apapun juga.


"Kenapa adik mu Aqly bisa ada bersama mu Fatimah?, apa ada yang mau kau katakan lagi kepada kami?," tanya Mawar masih merasa ada sebuah rahasia di mata sang putri.


"Percayalah bunda, terlepas dari semua itu yang terpenting Aqly dan aku sekarang baik baik saja, jadi tenangkan pikiran bunda dan jaga kesehatan, aku begitu sedih saat melihat bunda begitu kurus seperti ini," ucap Fatimah merasa bersalah akan keadaan sang bunda saat itu.


Andai saja aku lebih cepat menemui mu bunda, rasa sakit mu akan kehilangan kami mungkin sudah terobati sejak lama, batin Fatimah dengan penuh penyesalan.


"Baiklah nak, karna itu yang di katakan putri bunda, bunda akan menurut," sahut Mawar kembali memeluk sang putri untuk melepas kerinduan nya yang begitu besar selama ini.

__ADS_1


__ADS_2