
Mawar terisak isak didalam mobil sambil memeluk Fatimah dan membawa sebuah kendi kecil di tangannya.
Ia mengingat momen singkat saat ia bersama dengan Geyna selayaknya ibu dan anak yang tak pernah mereka lakukan saat Mawar masih seusia Fatimah.
Mi, kenapa mami tega meninggalkan Fatimah..!!, gumam Mawar, air matanya tak berhenti menetes.
"Bunda, kita mau kemana..??, nenek na kok gak ikut...??", seru Fatimah tak melihat Geyna dalam beberapa hari kebelakang.
"Kita mau kerumah nenek na yang baru, kita antar sama sama ya sayang", ucap Mawar mengusap air matanya yang jatuh.
"Bunda jangan nangis", ucap Fatimah memeluk bundanya yang terus menangis.
Di usianya sekarang, Fatimah masih belum mengerti apa yang telah terjadi.
Mbak Lastri tak bisa berkata apa apa, ia juga merasakan sakit yang tengah Mawar alami.
Sesekali air matanya jatuh, tapi ia terus berusaha tegar dan sesekali tersenyum pada Fatimah.
"Kita sudah sampai", ucap Burhan menghentikan mobilnya.
Mereka pun turun bersamaan dengan rombongan yang lain.
Rombongan anak asuh rumah Burhan dan beberapa tetangga yang iba dengan Mawar.
Di pemakaman sunyi itu adalah tempat baru untuk Geyna.
Sebuah tempat peristirahatan terakhir untuk setiap orang yang telah dipanggil oleh sang penciptanya.
Manusia yang diciptakan dari segenggam tanah dan akhirnya akan kembali menjadi tanah.
Disana sudah berkumpul para pengurus makam, liang lahat sudah siap untuk menyambut jasad Geyna.
Mawar kembali menangis saat kendi yang ia pegang dimasukkan ke dalam liang lahat dan hilang dalam gundukan tanah yang semakin menutupinya.
Jasadmu pun aku tak bisa selamatkan mi, maafkan aku hanya bisa mengambil sisa abumu sebagai tanda bahwa kami telah memakamkanmu secara layak, semoga kau tenang disana, gumam Mawar dalam hati sambil memejamkan matanya.
Tiba tiba angin berhembus mengibas jilbab Mawar.
Seakan Mawar merasakan bahwa Geyna berada di sisinya dan sedang tersenyum padanya.
Seketika Mawar pingsan dan hilang kesadaran.
Di tidurnya ia merasa berada disebuah taman yang sangat indah.
__ADS_1
Ia berjalan melewati bunga bunga yang telah mekar dengan sempurna.
Tak jauh di depannya, terlihat seorang perempuan berjilbab sedang duduk di ayunan.
Mawar pun menghampirinya dan menyapanya.
"Assalammualaikum ukhti", seru Mawar.
"Walaikumsalam", ucap wanita itu berbalik dan berdiri di hadapan Mawar.
Betapa terkejutnya Mawar, wanita yang berdiri di hadapannya ialah Geyna.
Dengan tubuh yang bersih, memakai baju dan jilbab putih, dengan wajah yang bercahaya tersenyum padanya.
"Mami...!!", seru Mawar menangis tak percaya.
Geyna mengusap air mata Mawar dan memegang kedua tangannya.
"Apa kamu sudah tak mengenali mami mu..??", ucap Geyna.
"Aku hanya tak menyangka bisa melihat mami lagi", ucap Mawar tersenyum bahagia.
"Anggap saja ini sebuah kesempatan dari Allah untuk kita bisa berjumpa sekali lagi anakku", ucap Geyna mencium dahi Mawar.
"Ini tempat Mami menunggu sampai kita bersama sama di panggil ke padang Mahsyar nanti", ucap Geyna mengajak Mawar berkeliling tempat itu.
"Sungguh indah tempat ini", ucap Mawar takjub.
"Tunggu sampai kau nanti melihat indahnya surga yang telah kamu impikan sejak kecil Mawar", ucap Geyna tersenyum.
"Sungguh mi..!!", seru Mawar penasaran.
"Ya...!!, dan berjanjilah untuk hal itu Mawar, kamu akan selalu hidup seperti sekarang ini, sampai tugasmu di dunia selesai dan berhasil meraih surganya Allah sesuai apa yang kamu cita citakan sejak kecil", ucap Geyna mengusap jilbab Mawar.
"Tentu mi, akan aku bawa serta mami masuk kedalamnya", ucap Mawar memeluk Geyna.
"Tentu sayang, mami akan menunggu hari itu, dan sampai waktu itu tiba, mami harus menebus kesalahan dan dosa mami selama didunia terlebih dahulu, dan hanya Allah yang tau kapan itu berakhir", ucap Geyna.
"Apakah aku boleh tetap disini..??", ucap Mawar memohon.
"Fatimah masih membutuhkanmu Mawar, ada banyak hal yang harus kamu lakukan di dunia", ucap Geyna.
Mawar hanya mengangguk, sesaat kemudian Geyna melepaskan pegangan tangannya dari Mawar.
__ADS_1
Geyna mulai melangkah menjauhi Mawar.
Saat Mawar ingin mengejarnya tiba tiba langkahnya terhenti mendengar suara dari Fatimah yang memanggil dirinya.
"Bunda...!!", seru Fatimah dari kejauhan.
Tiba tiba Mawar membuka matanya kembali.
Dan ia menyadari bahwa dirinya telah berada di rumah.
"Ayah..!!, bunda udah bangun..!!", teriak Fatimah memeluk Mawar.
"Alhamdulillah..!!", seru Burhan dan Mbak Lastri mengucap syukur karna Mawar telah siuman.
"Mas, bukannya tadi kita di pemakamannya mami...??", ucap Mawar bingung.
"Tadi kamu pingsan sayang, makanya kami bawa kamu pulang", ucap Burhan memeluk Mawar.
Seketika Mawar berdiri dsn berlari memeluk Mbak Lastri.
"Buk, tadi aku ketemu mami dalam mimpi, mami berada di tempat yang indah buk", seru Mawar memegang tangan Mbak Lastri.
"Masyaallah, semoga itu pertanda baik ya Mawar, mami sudah Jihad di jalan Allah, dosa sebesar apapun pasti akan Allah ampuni, insyaallah", ucap mbak Lastri mengusap air matanya yang jatuh.
"Amin", seru Mawar dan Burhan secara bersamaan.
"Oh ya Mawar, apa kamu sudah siap menemui Wartawan, kamu sudah janji seusai pemakaman Mami kamu akan menemui mereka dan menjelaskan tentang insiden itu, mereka sekarang menagih itu", ucap Burhan memegang pundak Mawar.
"Aku siap mas", ucap Mawar menarik nafas.
"Bagaimana kamu menjelaskan nama Rahel...??, dia itu menantu ayahmu", tanya Burhan.
"Kita lihat saja nanti mas, ayo kita temui mereka dulu", seru Mawar memegang tangan Burhan dan berjalan bersama menemui wartawan yang sudah tak sabar di depan rumah mereka.
___###___
Hai semua😘
Jangan lupa tinggalkan like, favorit dan vote ya, seikat bunga juga boleh kokðŸ¤.
Biar othor makin semangat ngetik nya.
Penasaran kan apa yang terjadi pada Rahel..??.
__ADS_1
Stay trus ya...🤗🤗