
Di tengah kegelisahan Mawar, Burhan memiliki ketakutannya sendiri.
Ia tatap wajah yang kini terpejam di dekapannya.
Tak terasa air matanya menetes.
Ya Allah..!!, kuatkan hamba..!!, gumam Burhan mengusap air matanya yang jatuh.
Tiba tiba telfonnya berdering.
Burhan segera keluar dari kamar dan mengangkat telfonnya.
"Iyaa..!!, aku akan segera kesana", seru Burhan menutup telfonnya dan bergegas melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.
1 jam kemudian.
Burhan telah berada di ruang tunggu rumah sakit.
Terlihat ia tengah menunggu antrian pasien habis untuk masuk ke dalam ruangan dokter.
Kurang lebih 2 jam, dokter Malik keluar dari ruangannya dan membawa Burhan masuk ke dalam.
"Bagaimana hasilnya..??", seru Burhan tak sabar.
Dokter Malik dengan raut wajah yang tak karuan, mengatakan yang sejujur jujurnya.
"Perkiraanku benar", seru dokter Malik membuat Burhan langsung syok dan hampir tak kuat menopang badannya sendiri.
Burhan terduduk di lantai dan menangis.
Entah apa yang tengah ia hadapi.
Dokter Malik hanya bisa berusaha menguatkan Burhan saat itu.
"Sabar..!!, aku akan coba semaksimal mungkin", ucap dokter Malik memberikan dokumen medis pada Burhan.
Dengan tangan gemetar, ia membaca setiap detail laporan di tangannya, dan segera menutupnya, ia tak sanggup harus membacanya sampai selesai.
__ADS_1
Saat dokter Malik ingin keluar dari ruangannya.
Tangannya di tahan oleh Burhan.
"Berjanjilah..!!, ini hanya antara aku dan kamu", ucap Burhan berusaha tegar.
"Tapi Mawar berhak tau semua ini, sudah cukup lama kita merahasiakannya", seru dokter Malik berniat menghubungi Mawar.
Seketika ponsel dokter Malik di ambil paksa oleh Burhan.
"Tolong..!!, kali ini saja..!!, jangan katakan ini padanya..!!", seru Burhan memohon.
Dokter Malik menghela nafas panjang dan menuruti setiap permintaan Burhan.
"Baiklah, terserah kamu..!!", ucap dokter Malik menepuk bahu Burhan dan mencoba menguatkannya.
Saat perjalanan pulang, Burhan berhenti di taman tempatnya bertemu Mawar untuk pertama kalinya.
Ia mengingat begitu cantiknya Mawar saat itu hingga kini.
Tak ada yang memudar darinya, entah cantiknya, kelembutannya, bahkan kasih sayangnya.
"Takdir memang tak bisa di tebak ya Mawar, sungguh aku mencintaimu, sangat mencintaimu", ucap Burhan mengusap air matanya lagi.
Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan kembali melajukan mobilnya menuju ke kediaman mereka.
Di sana Mawar sudah menyambut Burhan dengan perasaan harap harap cemas.
"Ya Allah mas..!!, kamu kemana aja..!!, di hubungi gak bisa", seru Mawar mencium punggung tangan suaminya.
"Assalammualaikum", seru Burhan berusaha tersenyum di hadapan Mawar.
"Walaikumsalam", ucap Mawar merasa malu karna telah melupakan ucapan salam yang sangat penting itu.
"Mas dari mana..??", tanya Mawar penasaran.
"Aku barusan ketemu dengan Malik", ucap Burhan masuk ke dalam rumah dengan merangkul istrinya.
__ADS_1
"Kamu ketemu dokter Malik..??, ngapain..??, emang udah ada kabar dari Rahel..??", seru Mawar menghentikan langkahnya.
"Enggak kok, cuma hilangin penat aja", ucap Burhan mencoba menyembunyikan sesuatu dari Mawar.
"Oh gitu, aku bikinin teh ya", ucap Mawar bergegas ke dapur.
Tiba tiba Burhan merasa gelisah dan berlari menuju ke kamar mandi.
"Ehh..!!, mas mau kemana..??", seru Mawar membawakan segelas teh untuk Burhan.
"Iya sebentar", seru Burhan dari dalam kamar mandi.
Beberapa menit, bahkan jam, Mawar kembali dari kamar Aqly yang menangis meminta susu.
Mawar heran melihat teh yang ia hidangkan masih utuh dan hampir di kerumuni semut.
"Mas..!!, mas gpp..!!", seru Mawar mengetuk pintu kamar mandi.
Tiba tiba pintu kamar mandi di buka dari dalam oleh Burhan.
"Kamu kok sampek 2 jam di kamar mandi itu ngapain mas..??", seru Mawar melirik ke belakang suaminya.
"Enggak kok gpp, aku cuma baru cukur jenggot", ucap Burhan mengajak Mawar ke ruang keluarga.
"Jenggot..??, kamu mana punya jenggot mas....!!", seru Mawar curiga.
"Ada..!!, nih, pendek pendek sih, tapi risih kalau gak di bersihin", ucap Burhan mencoba setenang mungkin.
"Ya udah, aku buatin teh lagi ya", seru Mawar mengambil teh lama dan menggantinya dengan yang baru.
Burhan mengelus dada, tanda ia lega karna Mawar percaya dengan alasannya.
"Ini mas..", ucap Mawar duduk di sebelah suaminya.
Mereka pun bercengkrama bersama, beserta Aqly dan juga Fatimah.
Burhan menatap Mawar dengan bahagia.
__ADS_1
Setidaknya kegelisahanmu sedikit terlupakan saat ini dengan adanya kebersamaan ini, maafkan aku jika nantinya akan menjadi alasanmu bersedih kembali, sungguh aku tak menginginkannya istriku..!!, gumam Burhan dalam hati mencoba tak meneteskan air mata di hadapan Mawar.