Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Rencana menikah.


__ADS_3

Sejak kejadian malam itu.


Bos besar semakin penasaran akan sosok Fatimah.


Ia sering melintas di depan kamar Fatimah hanya untuk sekedar menatap sekilas wanita bercadar itu.


Seorang bos besar seperti ku apakah akan kalah dengan wanita seperti dia?, batin Bos besar sembari terus memikirkan cara untuk melumpuhkan tembok iman Fatimah.


"Berhenti!," ucap Bos besar menghentikan langkah Mira yang hendak memberikan jatah makan siang untuk Fatimah.


Ia segera mengambil nampan dari tangan Mira dan memerintahkan nya untuk segera pergi.


Tanpa bertanya, Mira langsung menuruti perintah dari Bos besar.


Perlahan, Bos besar berjalan memasuki kamar Fatimah.


Nampak Fatimah kembali ketakutan saat melihat siapa yang datang ke kamar nya.


Sementara pandangan Bos besar masih berfokus pada kedua tangan Fatimah yang masih di perban rapi.


"Tenanglah!, aku hanya mengantar makan siang untuk mu," ucap Bos besar segera meletakkan nampak nya dan langsung duduk di sofa sembari menyalakan rokok nya.


"Terima kasih," ucap Fatimah singkat dengan wajah yang terus tertunduk.


"Aku ke sini juga ada perlu dengan mu," ucap Bos besar sembari menyembulkan asap rokok nya ke udara.


"Jika kamu ingin membujuk ku lagi untuk melayani lelaki bejat itu, lebih baik aku mati di hadapan mu sekarang juga!," seru Fatimah membuat Bos besar semakin tertantang untuk menghancurkan Fatimah.


"Aku pastikan dia tidak akan datang ke kamar ini lagi, percayalah!. Tapi aku mau tanya satu hal pada mu," seru Bos besar menatap tajam ke arah Fatimah.


"A, apa itu?," ucap Fatimah gugup.


"Kenapa kamu memilih melukai diri mu sendiri hingga seperti itu dari pada menerima kenikmatan yang akan kamu terima nanti nya?," seru Bos besar mengungkap tanda tanya di dalam diri nya sejak kejadian itu.


"Tubuh ku hanya untuk suami ku kelak" sahut Fatimah singkat namun sangat menusuk di hati Bos besar.


"Oh ya?, itu berarti siapapun suami mu kamu akan memberikan nya secara suka rela?," tanya Bos besar lagi.


"Insyaallah, karna jodoh ku sudah pasti pilihan terbaik dari Allah untuk ku," seru Fatimah membuat Bos besar memikirkan sebuah ide.

__ADS_1


"Baiklah!, hanya itu yang aku mau dengar dari mu!," ucap Bos besar merogoh ponsel dari saku nya.


📱"Kemarilah!, ada pengumuman penting untuk kalian!," seru Bos besar dengan raut wajah serius.


Mendengar ucapan Bos besar di telfon, memunculkan tanda tanya besar dalam diri Fatimah.


Tolong lindungi aku ya Allah, batin Fatimah kembali risau.


Tak berselang lama.


Semua penghuni rumah Bordil mulai berdatangan, termasuk juga Aqly.


"Bos manggil kita?," tanya Rea penasaran.


"Cepatlah bos, aku sedang melayani tamu ku di kamar," keluh Leli membuat Bos besar tertawa.


"Sabar lah sayang, aku punya pengumuman penting untuk kalian," seru Bos besar membuat semua nya penasaran.


"Apa bos akan coba menjual nya lagi?," tanya Aqly membuat Fatimah ketakutan.


"Tidak akan laku bos!, tangan nya sudah gak mulus lagi, daya tarik nya gak ada, bisa habis tamu penting kita," keluh Rea menatap rendah Fatimah.


"Tolong, sebaik nya kamu lepaskan aku," seru Fatimah memohon.


"Kenapa?, dia ancaman kan?, itu juga akan membahayakan kalian juga!," seru Aqly membuat semua merasa ketakutan.


"Benar juga apa yang di katakan anak mami ini bos, wanita ini memang tak berguna, tapi ancaman jika kita lepaskan," seru Leli membuat Aqly kesal.


"Anak mami kamu bilang!," sentak Aqly tak terima.


"Lalu harus kita apakan dia?, apa harus kita bunuh?," seru seorang body guard membuat Fatimah terduduk tak berdaya.


"Tenang kalian semua!, aku akan umumkan sesuatu pada kalian, kenapa kalian membuat topik pembicaraan sendiri?," seru Bos besar membungkam semua yang ada di sana.


"Dengarkan baik baik!, dalam waktu dekat Fatimah akan menikah, untuk kalian semua!, persiapkan semua nya dengan baik," seru Bos besar membuat semua tercengang, terlebih Fatimah.


"Menikah?," ucap lirih Fatimah tak percaya.


"Ya!, kamu yang meminta nya bukan?, jadi aku kabulkan," seru Bos besar menyembulkan asap rokok nya ke wajah Fatimah.

__ADS_1


"Kalau saya di minta jadi suami nya sih, saya bersedia bos," seru seorang body guard dengan candaan nya.


"Tawarkan ke tuan Darji saja Bos, biar dia puas membalaskan penghinaan nya kemarin pada wanita tak tahu diri ini," seru Leli membuat Fatimah langsung memalingkan muka nya.


"Dia akan menikah dengan ku!, besok!," seru Bos besar membuat semua orang langsung terdiam dan tercengang dalam waktu cukup lama.


"Ini bukan lelucon!," sentak Fatimah memecah keheningan.


"Tapi aku ingin menjadikan nya lelucon, wanita sombong!," seru Bos besar berjalan keluar dari kamar Fatimah.


Sementara yang lain masih menatap Fatimah dengan tatapan yang aneh.


"Apa dari awal kamu memang mengincar Bos besar kami?," seru Rea menatap Fatimah dengan tatapan tak suka.


"Bos tidak akan serius dengan ucapan nya, bersiaplah kamu masuk ke dalam lubang buaya mematikan," seru seorang body guard merasa kasihan dengan nasib Fatimah.


"Harus nya kamu tak menolak tawaran bekerja seperti mereka kak. Lihatlah sekarang!, karna ulah mu sendiri, Bos sendiri lah yang turun tangan pada mu, entah kejutan apa yang akan Bos berikan pada mu nanti, ku pastikan itu bukan kejutan yang menyenangkan" bisik Aqly berjalan meninggalkan kamar Fatimah bersama yang lain nya.


Kenapa semua jadi begini?, batin Fatimah sembari menangis meringkuh di sudut tempat tidur nya.


Hingga hari kembali gelap, Fatimah terus memikirkan ucapan Bos besar kepada nya.


Dan rencana Bos besar untuk menikahi Fatimah esok hari terus terngiang ngiang di pikiran nya.


Perlahan Fatimah mengusap air mata nya, membenamkan wajah nya dalam sujud nya.


Aku pasrah ya Allah, seperti keyakinan ku di awal, jodoh terbaik pastilah yang telah engkau persiapkan untuk ku, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Hidup ku hanyalah milik mu, seberapa besar usaha mereka untuk menghancurkan iman ku, sebesar itu pula aku mempercayakan hidup ku pada mu, aku pasrah dengan jalan takdir dari mu ya Allah, batin Fatimah mencoba mendamaikan dan menentramkan hati nya dengan bermunajat pada sang kuasa.


Sementara di tempat lain.


Rahel terus menangis dengan histeris nya saat Mawar mengunjungi nya hari itu.


Terlebih saat Mawar berterus terang akan hilangnya Fatimah dari rumah.


"Maafkan aku Rahel, aku tak bisa menjaga putri kita," ucap Mawar dengan penuh penyesalan.


Rahel terus menangis tanpa bisa berkata kata.


Bayangan akan Fatimah terus hadir dalam pikiran nya.

__ADS_1


Hingga kemudian ia pingsan di dalam ruang rehabilitasi nya.


"Maaf buk, sebaik nya ibu pulang, ibu Rahel sudah cukup terguncang hari ini, kami khawatir kondisi nya yang lalu akan kambuh lagi," seru sang suster mengantar Mawar untuk pergi meninggalkan ruang Rehabilitasi.


__ADS_2