
Hari itu, Mawar mencoba menyelesaikan semua urusannya.
Ia menyerahkan rumah singgahnya untuk di kelolah oleh Azizah dan ibunya.
Ia titipkan rumah kenangannya dan berusaha untuk membuka lembaran baru di tempat yang akan ia tuju nantinya.
"Aku percayakan rumah ini pada ibuk dan Azizah", ucap Mawar pada bu Ratih sembari berpamitan.
"Kamu yakin mau pergi dari kota ini..??", ucap bu Ratih tak tega melepas Mawar pergi dengan mengajak serta kedua anaknya yang masih kecil.
"Insyaallah buk, ini sudah keputusan Mawar", ucap Mawar mengusap pipinya yang basah, dan tanpa memberitahu siapapun kemana ia akan pergi.
"Mawar...!!, sering sering menghubungi kami ya", ucap Azizah memeluk sahabatnya itu.
"Pasti Azizah", ucap Mawar menangis tersedu sedu sambil memandang kesekeliling rumah yang sangat berarti baginya.
"Jaga diri baik baik ya nak", ucap bu Ratih memberikan koper terakhir Mawar.
Mawar perlahan berjalan meninggalkan rumahnya.
Ia gandeng Fatimah dan ia gendong Aqly dengan mantapnya.
Seakan ia tak ingin menoleh kembali ke belakang.
"Bunda...!!, kita mau kemana...??", ucap Fatimah sambil tersedu sedu tak ingin meninggalkan rumah tempat ia tumbuh besar.
"Fatimah percaya kan sama bunda..??", ucap Mawar mencoba membuat Fatimah mengerti.
Fatimah hanya mengangguk dan menuruti setiap perintah Mawar.
"Bunda..!!, ayah mana...??", seru Aqly terbangun di gendongannya.
"Sayang, Aqly sama bunda ya", ucap Mawar mencoba menahan air matanya.
Mereka pun menaiki mobil dan segera meninggalkan halaman rumah diiringi tangisan dari anak anak asuh Mawar beserta Azizah dan bu Ratih.
Semoga ini memang jalan dari mu ya Allah, gumam Mawar dalam hati lagi lagi tak bisa membendung air matanya.
Fatimah seketika menghapus air mata bundanya, dan kemudian menatap keluar jendela mobil.
Aku tau bunda, kali ini aku dan Aqly akan kehilangan sosok ayah lagi, gumam Fatimah dalam hati memandangi jalanan yang tak akan ia lewati lagi.
Beberapa jam kemudian.
Mobil Mawar berhenti di sebuah tempat.
Tempat di mana orang orang yang ia sayang berada.
Saat Mawar turun dari mobil, seakan angin mengabarkan pada sang ibu dan pada sang suami bahwa Mawar telah datang.
"Assalammualaikum", ucap Mawar melangkahkan kakinya memasuki area pemakaman sembari menatap ke arah 3 makam yang sangat ia rindukan.
"Ayah...!!", seru Fatimah menatap Mawar.
Sedangkan Aqly turun dari gendongan Mawar dan berlari mendahului mereka.
Aqly sudah paham kemana langkah kaki Mawar berhenti jika mereka datang ke sana.
Sudah sering sekali Aqly di ajak Mawar untuk berziarah ke makam sang nenek dan ayahnya.
Tetapi ia tak paham mengenai ayah dan nenek yang bundanya maksud.
Aqly dan Fatimah membantu Mawar membersihkan ketiga makam di hadapannya.
Dengan sekuat tenaga Mawar mencoba agar tak menangis di depan anak anaknya.
"Kita berdoa yuk buat kedua nenek kalian juga buat ayah Burhan", ucap Mawar membimbing Aqly dan Fatimah berdoa.
Saat Mawar memejamkan mata dan memanjatkan doa.
Aqly dan Fatimah melihat ketiga sosok tersenyum dan melambai padanya.
Aqly tanpa mengenal mereka tanpa ragu langsung melambai dan tersenyum pada mereka, ia mendekatinya dan mencoba mengambil sebuah bunga dari uluran sebuah tangan dari salah satu sosok itu.
Fatimah yang melihatnya mencoba mendekat.
Ia menangis tak bisa berkata kata.
Ia mencoba memegangnya tapi tak bisa.
Kemudian salah satu dari mereka menyelipkan sebuah bunga Mawar ditelinga Fatimah.
"Ayah...!!", ucap lirih Fatimah dengan terus menangis tersedu sedu.
Saat Mawar selesai berdoa dan membuka matanya, sosok itu telah menghilang.
Mawar yang melihat Fatimah menangis mencoba mendekatinya.
"Fatimah kenapa nak..??", seru Mawar gelisah.
__ADS_1
Tiba tiba Aqly berjalan mendekati sang bunda.
"Ini bunga buat bunda", ucap Aqly mengecup pipi Mawar, seakan itu membuat hati Mawar begitu damai di buatnya.
"Fatimah kangen ayah bunda", ucap Fatimah memeluk Mawar dengan terus menangis tersedu sedu.
Mawar yang berusaha tegar kembali rapuh.
Air matanya tak lagi bisa di bendung.
Ia memeluk dan mencium kedua anaknya itu.
"Kita akan kuat sama sama ya sayang", ucap Mawar terus menciumi kedua anaknya.
Beberapa saat kemudian.
Mawar membawa anak anak untuk melanjutkan perjalanan mereka.
Mereka kembali memasuki mobil dan melaju meninggalkan tempat itu.
Doakan kami buk..!!, mami..!!, mas Burhan..!!, gumam Mawar dalam hati tanpa sanggup untuk menoleh kembali kebelakang.
2 jam kemudian.
Mobil mereka kembali berhenti di sebuah tempat berbeda.
Suasananya ramai dan nampak para dokter dan suster mondar mandir di sekeliling tempat itu.
"Kita dimana bunda..??", seru Fatimah bangun dari tidurnya.
"Nanti kamu juga tau sayang, yuk turun", ucap Mawar menggendong Aqly dan menggandeng Fatimah memasuki bangunan di depannya.
"Ibuk cari siapa..??", tanya seorang suster di ruang jaga perawat.
"Saya cari ibu Rahel Yahya, apakah benar ia dirawat di sini..??", ucap Mawar menjelaskan maksud kedatangannya.
"Ibuk Rahel...??, tapi ibuk ini...??", tanya Suster itu heran karna tidak ada satupun keluarga yang pernah mengunjungi Rahel di dalam ruang perawatannya di rsj tempatnya berada kini.
"Saya saudaranya", ucap Mawar singkat.
"Baik buk, tapi ibu hanya bisa menemuinya di luar ruangannya, karna mengingat penyakit yang bu Rahel derita, dan alangkah lebih baik jika anak anak ibuk di titipkan saja, karna banyak pasien yang berkeliaran di sini", ucap suster itu memperingatkan Mawar.
"Tidak perlu sus, saya akan menjaga anak anak saya di dalam", ucap Mawar mengikuti langkah suster itu membawanya.
Di dalam gedung, nampak banyak pasien gangguan jiwa dengan berbagai macam tingkatan keparahannya.
Ada yang berteriak teriak di dalam kamarnya, ada juga yang menari nari mengikuti langkah Mawar, dan ada juga yang hanya menatap kosong ke arah orang yang sedang melintas.
Mereka tak pernah mencoba memikirkan bahwa Allah tak pernah memberi cobaan hidup di luar kemampuan umatnya.
Hanya duniawi saja yang mereka lihat dan fikirkan.
Mawar hanya menghela nafas dan terus menggenggam erat tangan Fatimah.
"Ini ruangannya buk, saya permisi", ucap Suster itu meninggalkan Mawar yang sedang menatap iba wanita yang ada di hadapannya.
Ia mencoba kuat demi Fatimah.
"Fatimah kenal gak sama ibu itu..??", seru Mawar mencoba mengenalkan sosok wanita di depannya.
Fatimah hanya menggeleng.
Karna ia tak pernah mengenal wanita di hadapannya yang ternyata ialah Rahel ibu kandungnya.
"Fatimah ingat gak, apa yang bunda ajarkan sama Fatimah tentang sikap kita ke orang yang lebih tua..??", tanya Mawar memancing ingatan Fatimah.
"Ingat dong bunda, Fatimah harus hormat pada semua orang yang lebih tua dari kita kan bunda ..!!", seru Fatimah.
"Nah..!!, sekarang Fatimah lihat deh ibu yang ada di ruangan itu, ia sendirian dan bahkan tak punya siapapun, mau kan Fatimah melambai dan tersenyum padanya..??", ucap Mawar mencoba mendekatkan Fatimah dengan Rahel tanpa membuka kebenaran yang ada.
Fatimah hanya mengangguk dan mencoba mengetuk pintu kaca di depannya demi mendapat perhatian dari Rahel.
Ternyata upaya Fatimah berhasil, ketukan tangannya membuat Rahel berjalan mendekati mereka.
Awalnya Rahel bersikap acuh tak acuh dan bertingkah tak karuan.
Tapi tiba tiba pandangannya berhenti di hadapan Mawar.
Seakan kesadarannya sedikit kembali.
Ia seakan mengenali Mawar secara spontan.
Air matanya menetes membasahi kedua pipinya.
Rahel lalu menurunkan pandangannya dan duduk di hadapan Fatimah.
Tangisan Rahel pecah saat menatap wajah mungil nan cantik yang tersenyum di hadapannya.
Rahel meraba pintu kaca di depannya seakan ia membayangkan bisa mengusap wajah Fatimah.
__ADS_1
"Anakku...!!", seru Rahel tapi tak bisa terdengar oleh Fatimah, karna kaca di depannya kuat dan tak tembus oleh suara.
Fatimah tersenyum dan mencoba mengajak Rahel bermain boneka yang ia bawa sejak dari rumah.
Rahel memperhatikan dengan seksama dan sesekali tersenyum bahagia melihat kelucuan Fatimah.
"Buk maaf, waktu kunjungannya sudah habis", ucap suster mengajak Mawar untuk keluar dari tempat itu.
"Sayang..!!, yuk kita pulang", ucap Mawar lembut pada Fatimah.
"Bunda, boleh gak boneka ini buat ibuk itu...?", seru Fatimah mendekap boneka kesayangannya.
"Tentu sayang", ucap Mawar bahagia, karna Mawar merasa ikatan mereka masih tetap ada sebagai seorang ibu dan anak.
Fatimah meletakkan bonekanya di hadapan Rahel sembari melambai dan tersenyum pada nya.
Membuat Rahel begitu bahagia kala itu.
Seakan lambaian perpisahan itu mengobati setiap duka yang ia rasakan.
Rahel mendobrak dobrak pintu kaca di depannya, hingga seorang suster mendekatinya.
Ia melihat Rahel sangat bersemangat menunjuk nunjuk boneka di luar pintu kaca.
Akhirnya suster itu mengambilnya dan memberikannya pada Rahel.
Sejak itu Rahel terus memeluk boneka itu sebagai teman kesehariaannya, dan entah dalam keadaan sadar atau tidak, ia memanggil boneka itu dengan nama Fatimah.
Dalam perjalanannya keluar dari gedung rumah sakit jiwa, Mawar dan Fatimah berpapasan dengan seorang wanita yang terus berlagak bak orang kaya dan menari nari di sepanjang lorong.
Ia menatap Fatimah dan tersenyum padanya serta melambai lambai padanya, kemudian ia kembali berlalu dan pergi sambil berbicara tak karuan.
Tanpa Fatimah sadari, itu ialah bu Dara neneknya sendiri.
Beberapa jam kemudian.
Mereka terlihat sudah berada di kursi bandara.
Memegang 3 tiket keberangkatan mereka keluar negeri.
"Bunda...!!, Amerika itu seperti apa...??", seru Fatimah membaca tulisan di tiket pesawatnya.
"Itu rumah baru kita sayang", ucap Mawar mengelus rambut Fatimah.
"Apakah jauh...??", seru Fatimah penasaran.
"Nanti kita hitung jamnya sama sama ya", ucap Mawar mencoba bergurau dengan Fatimah.
____
Setelah cukup lama mengudara, mereka telah mendarat dengan selamat di bandara Amerika.
Fatimah sangat antusias melihat pemandangan yang baru pertama kali ia lihat.
Lalu dari kejauhan nampak seorang wanita mendekati mereka.
"Hallo sayang..!!", seru Susan langsung memeluk Fatimah.
Fatimah yang tak mengingatnya segera berubah ketakutan.
"Bunda..!!, bunda...!!, tolong...!!", seru Fatimah menarik narik tangan Mawar.
Membuat Susan dan Mawar tertawa di buatnya.
"Jangan takut sayang, dia ini teman bunda, kenalkan ini tante Susan", ucap Mawar memperkenalkan Susan pada Fatimah.
"Iyaa..!!, dan mulai sekarang tante yang bakal jailin kamu..!!", seru Susan menggendong Fatimah dan bergurau sepanjang jalan dengannya saat keluar dari bandara.
Mawar mengikuti mereka dan merasakan tuk pertama kalinya ia bisa bernafas lega.
"Bismillah....!!", ucap Mawar berjalan dan bergabung bersama Fatimah dan Susan yang asyik bergurau di sepanjang langkah mereka.
...End.......
___
Alhamdulillah, kisah Mawar sudah selesai kakak semuaπ.
Terima kasih atas dukungan kalian selama ini.
Maafkan othor yang membuat jalam cerita ini terkadang keluar dari harapan kalian...ππ.
Semoga ada hikmah dan pembelajaran dari kisah ini ya...βΊοΈ.
Salam sehat dari othor...π
Oh ya jangan lupa intip novelku yang lain yaπ€π€
Terima kasih....
__ADS_1
Wassalammualaikum...,ππ