
"Apa yang kau bilang tadi?, telinga ku seperti nya salah dengar," seru Rea semakin mendekat ke hadapan Fatimah.
Kini tatapan mereka saling beradu.
Ada rasa ingin menerkam Fatimah dalam diri Rea saat itu.
"Aku lah yang memegang surat kuasa ini, jadi sekarang akulah yang berkuasa," seru Fatimah mencoba tak gemetar saat mengatakan semua itu.
"Fatimah?," ucap Mira seakan tak percaya dengan apa yang tengah ia lihat dan dengar.
Tidak!, pasti ada penjelasan atas ucapan nya itu, Fatimah bukan wanita yang gila harta, batin Mira menepis prasangka buruk nya.
Aku tak menyangka otak nya juga bisa rakus saat ada kesempatan, cih!, agama ternyata hanya kedok nya, ternyata pemikiran ku tentang nya tidak pernah salah, ia memang tak benar benar alim seperti yang terlihat, batin Aqly tak sabar menunggu kejutan apa lagi yang di tunjukkan sang kakak di ruangan itu.
Sementara Bos besar dan yang lain masih tercengang dan mencoba menangkap apa yang coba Fatimah ingin lakukan.
"Lancang!, dasar wanita pembuat masalah!," sentak Rea sembari bersiap menampar pipi Fatimah.
Namun dengan cepat, tamparan itu berhasil di tangkis oleh Fatimah sendiri.
Itu semakin membuat semua yang melihat nya begitu tak percaya melihat nya.
Fatimah yang di kenal lemah dan mudah di manfaatkan, kini berubah menjadi orang yang tangguh dan berani membela diri nya sendiri.
"Jangan macam macam mbak!, mbak belum mengetahui apa yang bisa terjadi jika aku marah, jangan pernah remehkan aku yang bercadar ini," ucap Fatimah sembari terus menatap tajam Rea dengan tangan yang semakin erat meremas pergelangan tangan Rea.
"Lepaskan!, memang bisa apa diri mu, hah!, kau hanya wanita paling bodoh yang pernah aku temui!, kerja mu hanya membuat kan kami sarapan dan mematuhi setiap perintah kami!," sentak Rea sembari menepis tangan Fatimah dari pergelangan tangan nya.
"Tarik kembali ucapan mu mbak!, aku sudah muak terus terusan di hina di rumah ini, terlebih setelah penghinaan atas rencana penjualan kehormatan ku pada Tuan Danu di rumah ini oleh suami ku sendiri!," sentak Fatimah sembari berpaling menatap Bos besar yang kini tak berani lagi hanya untuk menatap balik Fatimah.
"Memang apa yang bisa kau lakukan?, hingga kau berani membentak bentak sahabat ku ini," seru Lely dengan berani nya memasang badan untuk mendukung Rea.
"Aqly!, beritahu kakak mu ini, jangan sok di sini!," seru Lely sembari berkacak pinggang menantang Fatimah.
Sementara Aqly masih tetap diam, ia hanya menjadi penonton saja seperti yang lain.
__ADS_1
"Aku beri kalian satu kesempatan lagi, masuklah ke kamar dan renungkan kesalahan kalian," ucap Fatimah sembari mengepal kedua tangan nya, seakan ia saat itu masih mencoba mengontrol emosi nya yang hampir meledak.
"Heh!, wanita tak tahu diri!, sebaik nya kau serahkan surat kuasa itu dan pergi deh dari sini, jangan ikut campur urusan kami," seru Rea mencoba merebut kembali surat kuasa yang di pegang erat erat oleh Fatimah.
"Sudah ku bilang ini adalah hak ku!, jadi jangan coba coba!," sentak Fatimah dengan sekuat tenaga mendekap surat kuasa itu.
"Kembalikan wanita jal*ng!," teriak Lely naik pitan.
Membuat Fatimah semakin geram dan langsung mencengkram pergelangan tangan Rea serta Lely.
"A- apa yang kamu lakukan Fatimah?, istigfar, ini bukan dirimu Fatimah," seru Mira mencoba meredam amarah Fatimah.
Sementara Aqly semakin bernyali ciut saat melihat kemarahan Fatimah saat itu.
"Lepaskan!," sentak Rea mencoba melepaskan jerat tangan Fatimah yang kini semakin bertambah kuat mencengkram pergelangan tangan nya.
"Kalian ingin melihat kemarahan ku bukan!," sentak Fatimah sembari bergegas menarik kedua nya keluar dari kamar itu.
Apa yang dia coba lakukan?, batin Bos besar begitu penasaran.
"Hentikan Fatimah!," seru Mira tak henti henti nya mengingatkan Fatimah yang sudah kalap saat itu.
"Biarkan mereka belajar mengontrol mulut mereka Mira!, semua orang punya harga diri dan kehormatan nya masing masing!," seru Fatimah terus bergegas menarik Rea dan Lely hingga berhenti tepat di teras depan rumah bordil.
"Sekarang, kalian pergi dari rumah ku!," sentak Fatimah begitu membuat para wanita dan seluruh penghuni rumah kembali tercengang di buat nya.
"Kak!, mereka pekerja kita!," seru Aqly tak terima.
"Jika kau berani berkata sepatah kata lagi, aku akan usir kau juga dari sini!," ancam Fatimah seketika membuat Aqly terdiam tak berkutik sama sekali.
"Kurang aj*r!, jaga batasan mu!," sentak Lely tak terima, sembari masih mencoba memaksa kembali masuk ke dalam rumah.
Namun, tiba tiba sebuah tamparan mendarat di pipi Lely saat itu juga.
Hingga bekas merah tamparan itu begitu terlihat jelas di pipi Lely.
__ADS_1
"Kau menamparku," ucap Lely sembari memegangi bekas tamparan Fatimah yang mendarat di pipi nya beberapa detik yang lalu.
Sementara Rea tak berkedip menyaksikan keberanian Fatimah saat itu.
"Ku bilang pergi dari sini!," teriak Fatimah begitu kencang hingga tak ada yang berani mencoba membela Lely dan Rea.
"Baik!, aku akan pergi, tapi awas!, akan aku ingat semua penghinaan ini Fatimah!," seru Lely dengan sebuah dendam yang mulai tumbuh di hati nya.
"Kami akan buat perhitungan dengan mu suatu saat nanti!," seru Rea berjalan pergi bersama Lely meninggalkan rumah Bordil tanpa membawa apapun juga.
"Fatimah, apa yang kau lakukan?," tanya Mira masih menatap tak percaya ke arah Rea dan Lely yang berjalan pergi keluar dari gerbang rumah bordil.
"Kalian semua sudah lihat bukan!, seperti yang ku katakan sejak awal, aku lah yang berkuasa di rumah ini sekarang, jika ada yang keberatan, kalian bisa pergi dari sini seperti mereka!," seru Fatimah berjalan kembali masuk ke dalam rumah.
Meninggalkan semua orang yang masih begitu syok dengan yang terjadi hari itu.
"Apa dia benar kakak mu Fatimah Aqly?," bisik seorang body guard merasa ngeri dengan perubahan Fatimah kala itu.
"Fatimah, dengarkan aku!," seru Mira namun tetap tak bisa menghentikan langkah kaki Fatimah yang terus bergegas menuju ke kamar Bos besar.
Saat ia sudah kembali berada di samping Bos besar.
Ia kembali menatap suami nya itu dengan tatapan yang sulit sekali untuk di artikan.
Kami semua di sini pantas mendapatkan amarah itu Fatimah, aku juga ikhlas kalau rumah ini akan kau ambil alih menjadi atas nama mu, batin Bos besar pasrah.
Tanpa berucap apapun, Fatimah segera mengambil cap jempol Bos besar dan membubuhkan nya di materai surat kuasa yang berada di tangan nya.
Dan menulis nama nya sebagai pemilik tunggal rumah megah itu.
Aqly dan Mira yang melihat itu dari kejauhan hanya bisa menelan ludah ketakutan melihat perubahan Fatimah yang begitu drastis itu.
"Jangan Bos pikir dosa Bos akan lunas dengan menyerahkan rumah ini pada ku, kini hidup Bos dan hidup semua penghuni rumah ini akulah yang mengatur nya," ucap Fatimah tanpa setetes air mata pun.
"Terima kasih telah memberiku penghinaan yang luar biasa ini Bos," ucap Fatimah sekali lagi sembari bergegas meninggalkan kamar itu.
__ADS_1