Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Maukah kau menikah denganku..??


__ADS_3

Sudah 2 tahun lebih terhitung setelah kepergian Burhan.


Rutinitas Mawar pun sudah kembali seperti biasanya.


Keadaannya terlihat lebih baik dari sebelumnya.


Tapi entah.....!!.


Di dalam hatinya ia merasakan apa.


Fatimah juga telah bersekolah tahun ini.


Aqly putra dari Mawar dan Burhan pun sudah mulai lincah lincahnya berlarian kesana kemari.


Rumah Mawar terlihat lebih ramai dari dahulu.


Ia menyulap ke kediamannya menjadi rumah singgah seperti yang pernah Burhan dirikan dahulu.


Sebagian anak anak asuhnya ialah anak asuh Burhan yang terdahulu.


"Ayah ....!!", seru Fatimah dan Aqly saat melihat dokter Malik datang ke rumah mereka.


Karna sejak Burhan meninggal, dokter Malik lah yang ada untuk mereka.


Menemani mereka bermain dan sekedar untuk menemani mereka berangkat ke sekolah.


"Maaf dokter", ucap Mawar masih merasa tak enak karna anak anaknya telah berlebihan memahami perhatian dokter Malik pada mereka.


Tiba tiba Fatimah menarik tangan dokter Malik dan mendekatkan mulutnya di telinga dokter Malik.


Seakan terkejut dan malu.


Dokter Malik berjalan menghampiri Mawar setelah mendengar bisikan dari Fatimah.


Kemudian seketika dokter Malik mengurungkan niatnya dan sedikit mundur dari hadapan Mawar.


"Kenapa dokter...??", ucap Mawar heran melihat tingkah dokter Malik.


Melihat sang ayah menghindar dari Mawar.


Aqly mencoba mendorong tubuh dokter Malik untuk mendekat lagi ke arah Mawar.

__ADS_1


Fatimah yang melihat tingkah lucu Aqly mencoba membantunya untuk mendekatkan sang ayah ke arah bundanya.


"Dorong...!!", seru Fatimah memasang raut wajah yang berusaha sekuat tenaga mencoba mendekatkan sang ayah dengan sang bunda.


Dalam diri Fatimah, ia sudah mengerti dan paham akan ayah Burhan, berbeda dengan Aqly yang belum paham tentang sosok ayah Burhan yang telah meninggal saat Aqly masih bayi.


Yang Aqly tau dokter Malik lah yang selalu ada untuknya, dan ialah satu satunya sosok ayah baginya.


Fatimah hanya ingin bundanya bahagia, Fatimah ingin sekali menjadikan dokter Malik ayah mereka secara hukum dan agama.


Terlebih dokter Malik lah yang sangat telaten dan sayang pada mereka berdua seperti ayah Burhan dahulu.


Kini dokter Malik dan Mawar telah berdiri berhadap hadapan.


Seakan waktu ikut terhenti menyaksikan mereka tengah bersanding lagi setelah sekian lama.


Besar harapan dokter Malik untuk menjadikan Mawar satu satunya ratu di hati dan hidupnya.


Tapi kali ini ada rasa berbeda yang muncul dalam dirinya.


Seakan rasa itu bukan mengarah ke obsesi cinta, melainkan hanya niat untuk melindungi Mawar dan juga anak anaknya seperti yang telah di amanatkan oleh Burhan sebelumnya.


Dari sisi perasaan Mawar.


Rasa yang dulu pernah ia miliki telah hilang bersamaan dengan terucapnya janji suci pernikahan antara Mawar dan Burhan.


Cukup lama mereka berpandangan, angin menghembus menerpa mereka.


Seakan mencolek mereka agar segera memecahkan keheningan di antara mereka.


"Bunda...!!", seru Fatimah menarik narik baju Mawar, membuat lamunan Mawar buyar.


"Iya sayang", ucap Mawar mendekat ke arah Fatimah.


"Kenapa bunda diem..??, ayah mau ngomong sesuatu ke bunda", ucap Fatimah memecah keheningan mereka.


Mawar pun bangkit lagi, dan lagi lagi tatapan mereka saling beradu.


"Silahkan dokter..", ucap Mawar mempersilahkan dokter Malik untuk bicara.


Dokter Malik memberanikan diri dan mulai mengutarakan apa isi hatinya.

__ADS_1


"A, a, , aku mengutarakan ini dengan niat baik, lillahhita,ala semua aku lakukan hanya ingin memperbaiki diriku dan melindungi kalian", ucap dokter Malik terbata bata.


"Lalu..??", tanya Mawar tak berfikiran bahwa dokter Malik mengarahkan pembicaraan mereka ke arah pernikahan.


"Maukah kau menikah denganku..??", seru dokter Malik sangat tegang dengan keringat dingin di dahinya.


Sementara Fatimah bertepuk tangan riang melihat keberanian dari dokter Malik.


Aqly pun tanpa tau apa yang terjadi ikut bertepuk tangan bahagia mengikuti kakaknya.


Mawar tercengang di tempatnya berdiri.


Seakan nafasnya terhenti saat itu juga.


Ia tak menyangka akan secepat ini mendengar kata pinangan dari lelaki lain selepas kepergian Burhan suaminya.


Terbayang ingatan akan senyuman Burhan di mata Mawar.


Ia menatap dokter Malik seakan ia adalah Burhan suaminya.


Mawar tersenyum dan meneteskan air matanya.


Seakan kerinduannya pada sang suami telah terobati kini.


Tiba tiba angin berhembus mengibas jilbabnya.


Lamunan indahnya terbuyarkan.


Membuat senyum manisnya hilang dari pandangan.


Mawar mengusap air matanya dan berlalu pergi meninggalkan dokter Malik di depan teras rumahnya.


Dokter Malik hanya bisa diam menyaksikan Mawar pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.


"Ayah..!!", ucap Fatimah memeluk dokter Malik.


"Iyaa sayang, gpp", ucap dokter Malik memeluk Aqly dan Fatimah.


Sementara Mawar terduduk di ranjangnya dengan tatapan mata kosong.


Ia seakan ingin menjerit sekeras kerasnya akan hidup yang ia jalani kini.

__ADS_1


"Ibuk..!!", seru Mawar menangis meringkuh di ranjangnya.


__ADS_2