
Saat keluarga Rahel telah hancur berantakan.
Bahkan Rahel pun terpaksa harus menjual mobilnya hanya untuk menyambung hidup hanya untuk beberapa minggu kedepan.
Keluarga Mawar tengah berbahagia.
Pasalnya Mawar sedang menikmati masa masa kehamilannya.
Didampingi sang suami yang sangat menyayanginya dan memperhatikannya.
Mbak Lastri bahkan lebih sehat dan cekatan dari sebelumnya.
Ia merasa bersemangat menyambut kehadiran cucu pertamanya.
Mbak Lastri merajut baju bayi untuk cucunya.
Memasak makanan kesukaan Mawar, dan membantu Mawar merawat Fatimah yang semakin pintar dan menggemaskan.
"Buk..!!, jangan lupa istirahat ya, biar malam ini Fatimah aku yang jaga", ucap Mawar memijat bahu mbak Lastri yang terus saja tak bisa diam.
"Ibuk gpp kok Mawar, ibuk sehat, lagian Azizah juga bantu ibuk buat urus keperluan Fatimah", ucap Mbak Lastri meletakkan benang rajutnya di meja.
"Azizah udah pulang kah buk..??", ucap Mawar menoleh ke sekeliling ruangan.
"Udah tadi, dia titip kue di kulkas buat kamu", ucap Mbak Lastri.
__ADS_1
"Azizah tau aja aku lagi pingin kue buatannya buk, nanti kita makan sama sama ya buk", ucap Mawar mencium dan memeluk mbak Lastri.
"Kamu manja sekali ya..!!", ucap mbak Lastri mengelus jilbab Mawar.
"Buk..., aku juga rindu tau jadi anak kecilnya ibuk", seru Mawar tersenyum manja.
"Iyaa iya....!!, sebelum anak kamu lahir, kalau dia dah lahir kasih sayang ibuk semuanya untuk dia", ucap Mbak Lastri menjahili Mawar.
"Ibuk...!!", seru Mawar tertawa bersama Mbak Lastri.
"Ada apa nih..??, kok seru banget kayaknya..??", ucap Burhan berjalan masuk ke dalam rumah.
"Gpp mas, oh ya, tumben kamu dah pulang", ucap Mawar mencium punggung tangan suaminya.
"Aku kan kangen sama anak kita...!!, ya kan sayang..!!", seru Burhan mengelus dan mencium perut Mawar yang mulai membuncit.
"Dah yuk kita makan sama sama", ucap Mbak Lastri berjalan ke arah meja makan.
Fatimah segera keluar dari kamar saat mendengar ayahnya pulang, ia dengan segera berlari memeluk Burhan.
"Ehhh, tau aja kalau ayah dah pulang..", ucap Burhan menggendong Fatimah.
"Es krim..??", seru Fatimah dengan tangan menengadah.
"Boleh kah bunda..??", seru Burhan pura pura bertanya pada Mawar.
__ADS_1
"Emmmm, boleh gak yah....?", seru Mawar dengan ekspresi berfikir di hadapan Fatimah.
"Satu aja...!!, segigit aja deh bunda..!!", seru Fatimah memohon.
"Emmm...., ya boleh dong..!!, tapi makan dulu, okey...!!", seru Mawar membuat Fatimah langsung sumringah.
"Yee......!!, makan es krim, adik bayi di ajak ya bunda, jangan di taruh di rumah, biarin dia ngumpet di perut bunda aja", ucap polos Fatimah membuat semua tertawa.
"Emang Fatimah tau dari mana kalau adek bayi lagi ngumpet di perut bunda..??, emang kelihatan..??", seru mbak Lastri sambil menahan tawa.
"Tau dong..!!, Fatimah kan kakaknya, Fatimah sering lihat adek bayi gerak gerak di perut bunda, pasti dia lagi ngumpet", ucap Fatimah serius.
Semua pun kembali tertawa dibuatnya.
"Ya ampun sayang..!!, ada ada aja deh kamu, nanti janji ya bakal jaga adeknya kalau dia udah gak ngumpet lagi di perut bunda..!!", ucap Mawar mengecup pipi Fatimah.
"Ayah gak di cium bunda..??", seru Fatimah membuat Mawar dan Burhan tersipu malu dihadapan mbak Lastri.
"Udah..!!!, ibuk gak liat kok", seru mbak Lastri memalingkan pandangannya dan sibuk menyiapkan makanan di meja makan.
Mawar tersenyum bahagia memandang suami dan anaknya.
Burhan mengecup kening istrinya dan mencium kembali Fatimah dan anak di dalam perut Mawar.
"Aku benar benar bahagia mas", ucap Mawar bersandar di bahu suaminya.
__ADS_1
"Alhamdulillah", ucap Burhan bersyukur.
Burhan memeluk istri dan anaknya, ia berharap kebahagiaan itu tak pernah berakhir dari kehidupan mereka.