Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??

Salahkah Aku, Jika Mendambakan Surga..??
Semua karna salah paham.


__ADS_3

Mawar tak bergeming sedikitpun sejak kepulangannya dari rumah sakit.


Ia tak berbicara sepatah katapun saat perjalanan pulang mereka yang bahkan memakan waktu berjam jam lamanya.


Setelah mobil berhenti di depan rumah, Mawar langsung turun dari mobilnya.


"Buk, Mawar langsung ke kamar ya, kasian Fatimah, ini sudah malam", ucap Mawar sembari bergegas melangkah memasuki rumah.


"Tunggu Mawar...!!", seru mbak Lastri takut membiarkan anaknya pergi dengan hati yang terluka.


Mawar menghentikan langkahnya dan mencoba mengusap air matanya yang tak sengaja jatuh.


"Bik mus..!!, tolong tidurkan Fatimah dulu ya", ucap Mawar memberikan Fatimah pada bibi Mus.


Mawar pun membalikkan badan memandang ibunya.


"Iya buk, ada apa...??, ibuk gak capek..??, yuk Mawar antar ke kamar", ucap Mawar mencoba memapah ibunya ke Kamar, mencoba menyembunyikan luka hatinya.


"Mawar..!!" ucap ibunya menahan tarikan tangan Mawar.


Mawar memandangi ibunya, seakan ia tak bisa lagi membendung air matanya itu, dan akhirnya jatuh.


"Ibu tau hatimu terluka, tapi ibu juga tau nak Malik pun merasakan apa yang sedang kamu rasakan saat ini, kasihan di nak", ucap Mbak Lastri mencoba meluruskan masalah diantara dua insan itu.


"Sudahlah buk, Mawar sudah ikhlas dengan semuanya, lebih baik tidak usah diungkit ungkit lagi", ucap Mawar mencoba tak larut dalam kesedihannya.


"Nak Malik sepertinya sangat kehilangan kamu Mawar", ucap mbak Lastri melihat ketulusan di mata Dokter Malik saat ia memohon untuk mengetahui kabar tentang Mawar di rumah sakit sore itu.


"Apa gunanya itu semua buk....??", ucap Mawar mengusap air matanya lagi.


"Maksudmu apa Mawar..??", tanya ibunya penasaran.


"Tadi saat di rumah sakit, Mawar mendengar percakapan antara dokter dan suster di sana, mereka membicarakan tentang calon tunangan dari dokter Malik yang baru pulang dari Amerika buk, dokter Malik sudah memiliki calonnya sendiri saat ini", ucap Mawar menjelaskan apa yang ia dengar di rumah sakit.


Mbak Lastri terdiam tak percaya mendengar kabar yang ia dengar dari Mawar.


"Tapi Mawar, apakah kamu yakin nak Malik bahagia..??", ucap Mbak Lastri masih tak percaya bahwa Mawar dan Malik harus terpisahkan lagi.

__ADS_1


"Yakin buk, dan itu harus, itulah mengapa Mawar tak menjelaskan siapa itu Fatimah, biarlah dokter Malik mengira Fatimah adalah anak Mawar, biar dia lebih mudah melanjutkan hidupnya lagi, Mawar pun juga akan melanjutkan hidup Mawar buk", ucap Mawar menyerah pada arus takdir yang membawanya.


"Ya Allah nak, kapan kamu bisa bahagia", ucap Mbak Lastri memeluk Mawar dengan eratnya.


Ia sangat berharap ada kebahagiaan di kehidupan Mawar kedepannya.


Tapi sepertinya Allah masih mau menguji keimanan dan kesabaran Mawar saat ini.


Dokter Malik mengira bahwa Fatimah adalah anak kandung Mawar, sehingga ia putus asa dan menerima pertunangannya dengan Rahel.


Sementara Mawar mengira dokter Malik telah menemukan pengganti dia di hatinya, yang dalam waktu dekat akan dokter Malik resmikan menjadi tunangannya.


Berawal dari salah paham antara kedua belah pihak membuat hubungan mereka semakin retak dan bagaikan tak saling mengenal lagi.


Mungkinkah mereka mengetahui fakta itu sebelum pertunangan Malik dan Rahel di resmikan..??.


Dan apakah jika mereka mengetahui fakta yang sebenarnya bisa membuat mereka kembali bersatu lagi..??


Bagaimana jika itu terjadi...??.


Apa rencana Bram selanjutnya untuk membuat Malik menjauhi Mawar dan tetap setuju melanjutkan pertunangannya dengan Rahel..??


"Hay Malik...", ucap Rahel duduk di sebelah dokter Malik yang sedang memikirkan cintanya yang telah kandas sebelum dimulai.


Dokter Malik hanya terdiam tak menghiraukan kehadiran Rahel yang mencoba mendekatinya dan mengajaknya mengobrol.


"Liat aku dong Malik...!!", seru Rahel menolehkan paksa wajah Malik untuk menghadapnya.


"Apa yang kamu lakukan..??", seru dokter Malik mencoba masih sabar dengan tingkah Rahel.


"Sorry.., lagian kamu..!!, calon tunangan kamu di samping kamu tapi kamu cuekin", ucap Rahel mengusap Wajah tampan di hadapannya.


"Jangan lancang kamu..!!", seru Malik menepis tangan Rahel dari wajahnya.


Rahel yang sudah mencoba bersikap halus terhadap Malik seketika menunjukkan sikap aslinya.


"Kamu kenapa sih..!!, kamu gak normal ya...!!, aku tuh kurang apa cobak, dibanding dengan wanita yang gak jelas itu, yang kamu cari cari, siapa itu....??, Mawar bukan..??, gak jelas, anak pelac*r..!!", ucap Rahel dengan santainya menyampaikan apa yang telah ia dengar dari pak Bram.

__ADS_1


"Jaga ucapan kamu ya..??", seru Malik menggebrak meja.


Seketika Rahel berdiri dan berkacak pinggang di depan Malik.


"Apaaa..!!, kamu mau apa..??, kamu lakuin apapun tetap aja aku bakal jadi calon istri kamu, tinggal kasih sedikit akting aku didepan papi kamu, ia juga akan langsung percaya dan simpati sama aku", ucap Rahel sedikit berbisik di hadapan Malik.


"Apa sebenarnya mau kamu..??", seru Malik muak dengan sikap Rahel yang angkuh itu.


"Mau aku, kamu terima aku aja, kamu gak akan rugi, aku tuh cantik, punya segalanya", ucap Rahel dengan senyum diwajahnya, ia merasa sudah mengalahkan singa jantan lemah yang ada di hadapannya.


Malik pun tersenyum membuat Rahel bingung dengan ekspresi lelaki dihadapannya itu.


"Kamu lupa ya..??, aku ini seorang dokter, meskipun aku tak pernah menjamah tubuh wanita, aku sudah tau bahwa kamu wanita seperti apa, kamu bilang apa tadi...??, Mawar anak pelac*r..??, lalu kamu apa...??, kamu itu malah pelac*r sesungguhnya..!!", ucap Malik berbisik di telinga Rahel.


Muka Rahel pun memerah, ia tak menyangka akan mendapat hinaan dari lelaki pendiam seperti Malik.


"Diam...!!, tutup mulutmu...!!, aku akan pastikan kamu akan tunduk di kakiku nanti", ucap Rahel menunjuk wajah Malik dan berlalu pergi dari taman.


Rahel marah dengan hinaan dari Malik, tapi ia juga tak menepis dugaan dari Malik tentang dirinya.


Dari pada harga dirinya lebih jatuh lagi, sebaiknya ia pergi dari hadapan Malik.


"Ayo kita pulang pa", ucap Rahel bergegas mengajak kedua orang tuanya agar segera meninggalkan rumah Bram.


"Ehh, pembicaraan kita belum selesai, kamu kenapa Rahel..??, apa Malik bersikap tak sopan denganmu..??", ucap Bram heran.


"Enggak om, Rahel dan Malik malah sudah sepakat bahwa pertunangan ini harus segera terjadi, untuk sekarang Rahel ada kepentingan mendadak om, maaf, Rahel pamit dulu", ucap Rahel memasang perangkap untuk Malik agar segera tunduk di kakinya.


"Wah hebat kamu bisa taklukkan anak om, ya sudah kita sambung lain waktu, mari Yahya , dara, aku antar", ucap Bram mengantar Yahya beserta keluarga menuju ke mobil mereka.


Sebelum pergi Rahel sempat menghadap ke arah taman.


Mampus kamu..!!, makin cepat pertunangan itu terjadi, makin cepat aku menguasaimu, gumam Rahel dalam hati dan segera pergi menuju mobilnya.


___


Stay terus ya guys..😊.

__ADS_1


Mohon dukungannya, jangan lupa like, favorit, vote dan komen yaaaa🤗🤗.


__ADS_2